alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

PG Ketanen, Industri Penghasil Gula Terbaik

Pada abad 19, Mojokerto menjadi salah satu daerah penghasil gula terbesar di Jawa. Namun, perkembangan industri gula tidak muncul di pusat kota, melainkan dirintis dari wilayah selatan Mojokerto.

 

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, geliat industri gula di Mojokerto mulai muncul pada kisaran tahun 1828. Itu ditandai dengan berdirinya Suikerfabriek atau Pabrik Gula (PG) Ketanen di Kecamatan Kutorejo.

Adalah G. C. Bohl, warga berkebangsaan Belanda yang mencetuskan pendirian PG Ketanen. Pengusaha muda tersebut tertarik lantaran iming-iming bantuan modal yang ditawarkan pemerintahan Hindia Belanda yang menerapakn kebijakan cultuurstelsel atau tanam paksa. ’’Pada awal abad ke-19, di sana (Kutorejo) masih berupa hutan. Hanya ada beberapa penduduk pribumi saja,’’ terangnya.

Lokasi pendirian pabrik gula yang dipilih adalah di daerah yang kala itu dikenal dengan nama Ketanen. Tepatnya, di kawasan Lapangan Kutorejo dan SMAN 1 Kutorejo saat ini. Saat diberlakukan sistem tanam paksa, lokasi tersebut memang menjadi salah satu dari empat daerah di Mojokerto yang dijadikan sebagai konsesi usaha.

Baca Juga :  Jaga Mata Air, Tebar Akar Wangi Di Lereng Gunung

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, dalam mendirikan industri gula di Ketenen itu, G. C. Bohl mendapatkan bantuan modal dari Internationale Crediet Roterdam.  Dengan pinjaman modal tersebut, pemerintah kolonial mewajibkan pabrik gula untuk menyetorkan hasil. ’’Harga beli juga telah ditetapkan oleh pemerintah (Hindia Belanda) sendiri,’’ bebernya.

PG Ketanen mendapatkan jatah lahan seluas 200 bouw atau berkisar 141 hektare. Luas lahan yang digunakan sebagai lahan tebu itu terbilang cukup kecil. Karena tidak sebanding dengan setoran gula yang diberikan kepada kolonial. Baru pada tahun 1853 PG Ketanen mendapat pembaruan kontrak.

Yuhan menyebut, dalam kontrak anyar itu pemerintah kolonial menambah lahan konsesi menjadi 300 bouw atau berkisar 212 hektare. ’’Setiap satu bouw mampu menghasilkan 49 pikul gula,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Sejarah Lahirnya Media Lokal di Mojokerto

Sehingga, dalam satu kali produksi, PG Ketanen mampu menghasilkan gula rata-rata mencapai 14.659 pikul. Terlebih, industri gula di Kutorejo itu juga telah didukung dengan mesin giling bertenaga uap.

Di sisi lain, hasil produksi gula terbilang sangat baik pada era itu. Oleh karena itu, pada tahun 1863 PG Ketanen tercatat mengalami kenaikan laba yang signifikan. ’’Saat itu,hasil hasil produksi PG Ketanen menjadi yang terbaik melebihi pabrik gula di Sidoarjo,’’ imbuhnya. 

Pada abad 19, Mojokerto menjadi salah satu daerah penghasil gula terbesar di Jawa. Namun, perkembangan industri gula tidak muncul di pusat kota, melainkan dirintis dari wilayah selatan Mojokerto.

 

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, geliat industri gula di Mojokerto mulai muncul pada kisaran tahun 1828. Itu ditandai dengan berdirinya Suikerfabriek atau Pabrik Gula (PG) Ketanen di Kecamatan Kutorejo.

Adalah G. C. Bohl, warga berkebangsaan Belanda yang mencetuskan pendirian PG Ketanen. Pengusaha muda tersebut tertarik lantaran iming-iming bantuan modal yang ditawarkan pemerintahan Hindia Belanda yang menerapakn kebijakan cultuurstelsel atau tanam paksa. ’’Pada awal abad ke-19, di sana (Kutorejo) masih berupa hutan. Hanya ada beberapa penduduk pribumi saja,’’ terangnya.

Lokasi pendirian pabrik gula yang dipilih adalah di daerah yang kala itu dikenal dengan nama Ketanen. Tepatnya, di kawasan Lapangan Kutorejo dan SMAN 1 Kutorejo saat ini. Saat diberlakukan sistem tanam paksa, lokasi tersebut memang menjadi salah satu dari empat daerah di Mojokerto yang dijadikan sebagai konsesi usaha.

Baca Juga :  Lahan di Sembilan KUA Belum Bersertifikat Hak Pakai

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, dalam mendirikan industri gula di Ketenen itu, G. C. Bohl mendapatkan bantuan modal dari Internationale Crediet Roterdam.  Dengan pinjaman modal tersebut, pemerintah kolonial mewajibkan pabrik gula untuk menyetorkan hasil. ’’Harga beli juga telah ditetapkan oleh pemerintah (Hindia Belanda) sendiri,’’ bebernya.

- Advertisement -

PG Ketanen mendapatkan jatah lahan seluas 200 bouw atau berkisar 141 hektare. Luas lahan yang digunakan sebagai lahan tebu itu terbilang cukup kecil. Karena tidak sebanding dengan setoran gula yang diberikan kepada kolonial. Baru pada tahun 1853 PG Ketanen mendapat pembaruan kontrak.

Yuhan menyebut, dalam kontrak anyar itu pemerintah kolonial menambah lahan konsesi menjadi 300 bouw atau berkisar 212 hektare. ’’Setiap satu bouw mampu menghasilkan 49 pikul gula,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Sejarah Lahirnya Media Lokal di Mojokerto

Sehingga, dalam satu kali produksi, PG Ketanen mampu menghasilkan gula rata-rata mencapai 14.659 pikul. Terlebih, industri gula di Kutorejo itu juga telah didukung dengan mesin giling bertenaga uap.

Di sisi lain, hasil produksi gula terbilang sangat baik pada era itu. Oleh karena itu, pada tahun 1863 PG Ketanen tercatat mengalami kenaikan laba yang signifikan. ’’Saat itu,hasil hasil produksi PG Ketanen menjadi yang terbaik melebihi pabrik gula di Sidoarjo,’’ imbuhnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/