alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Siswa MI Salat Gaib untuk Korban Etnis Rohingya

MOJOKERTO – Terjadinya krisis kemanusiaan di Myanmar telah mengetuk sejumlah pihak untuk menggelar aksi solidaritas. Selasa (5/9) pagi kemarin, sedikitnya 700 siswa MI Nurul Huda 2, Surodinawan, Kota Mojokerto, menggelar salat Gaib untuk etnis Rohingya yang menjadi korban dalam konflik di Rakhine, Myanmar.

Salat Gaib yang dilakukan di halaman sekolah itu diikuti 13 kelas. Mulai kelas VI, V, dan VI dengan jumlah sekitar 700 siswa. Kepala MI Nurul Huda 2, Misbakhul Umam, menyebutkan, aksi solidaritas tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. ’’Salat Gaib untuk sesama umat Islam Rohingya dan kami mendoakan agar konflik di sana (Myanmar, Red) bisa segera berakhir,’’ ujarnya.

Usai salat Gaib, ratusan siswa juga diajak doa bersama dengan membaca tahlil. Selain itu, untuk kelas I, II, dan III tadarus di kelas masing-masing. Menurutnya, aksi tersebut dilakukan secara spontanitas usai mendengar adanya ratusan jiwa melayang akibat konflik yang menimpa etnis Rohingya.

Baca Juga :  STIT Raden Wijaya Mojokerto Resmi dalam Naungan Nahdlatul Ulama

Sebelumnya, siswa juga diberikan pemahaman terhadap peristiwa kekerasan yang terjadi. Secara tidak langsung, aksi tersebut juga bertujuan menanamkan rasa kemanusiaan dan kepedulian sejak dini kepada siswa. ’’Tentunya, kita sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa,’’ tandas dia.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto, Mashul Ismail, mengimbau, agar masyarakat tetap mejaga kondusivitas yang sudah terjalin. Mengingat, pasca terjadinya konflik telah banyak informasi hoax yang cenderung bisa memecah belah bangsa.

’’Saya kira kondusivitas Mojokerto ini tetap harus dipertahankan dan tidak usah tepancing dengan hal-hal seperti itu. Harus diseleksi dulu benar dan tidaknya,’’ ungkapnya. Selain itu, pihaknya juga menyerukan kepada umat Islam untuk saling mendoakan kepada etnis Rohingya yang sedang dilanda konflik.

Baca Juga :  Jalur Pedestrian Difabel Terputus

Tentunya, hal itu dilakukan dengan cara yang bijak tanpa melakukan tindakan emosional. Masyarakat juga diimbau agar tidak terjebak dengan isu bahwa yang terjadi di Myanmar adalah konflik agama, melainkan akibat konflik politik. ’’Saya kira, agama mana pun melarang perbuatan-perbuatan seperti itu,’’ tutur Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mojokerto ini.

Dengan demikian, kerukunan antarumat beragama di wilayah Mojokerto juga patut tetap dipertahankan. Meski demikian, pihaknya menyatakan mengutuk keras atas kejadian berdarah yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban tersebut. ’’Jadi, kami dari MUI ikut prihatin dan mengutuk sekali perbuatan itu,’’ pungkasnya. 

 

MOJOKERTO – Terjadinya krisis kemanusiaan di Myanmar telah mengetuk sejumlah pihak untuk menggelar aksi solidaritas. Selasa (5/9) pagi kemarin, sedikitnya 700 siswa MI Nurul Huda 2, Surodinawan, Kota Mojokerto, menggelar salat Gaib untuk etnis Rohingya yang menjadi korban dalam konflik di Rakhine, Myanmar.

Salat Gaib yang dilakukan di halaman sekolah itu diikuti 13 kelas. Mulai kelas VI, V, dan VI dengan jumlah sekitar 700 siswa. Kepala MI Nurul Huda 2, Misbakhul Umam, menyebutkan, aksi solidaritas tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. ’’Salat Gaib untuk sesama umat Islam Rohingya dan kami mendoakan agar konflik di sana (Myanmar, Red) bisa segera berakhir,’’ ujarnya.

Usai salat Gaib, ratusan siswa juga diajak doa bersama dengan membaca tahlil. Selain itu, untuk kelas I, II, dan III tadarus di kelas masing-masing. Menurutnya, aksi tersebut dilakukan secara spontanitas usai mendengar adanya ratusan jiwa melayang akibat konflik yang menimpa etnis Rohingya.

Baca Juga :  Dipertemukan Partai Politik, Ning Ita Dipersunting Pengusaha

Sebelumnya, siswa juga diberikan pemahaman terhadap peristiwa kekerasan yang terjadi. Secara tidak langsung, aksi tersebut juga bertujuan menanamkan rasa kemanusiaan dan kepedulian sejak dini kepada siswa. ’’Tentunya, kita sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa,’’ tandas dia.

- Advertisement -

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto, Mashul Ismail, mengimbau, agar masyarakat tetap mejaga kondusivitas yang sudah terjalin. Mengingat, pasca terjadinya konflik telah banyak informasi hoax yang cenderung bisa memecah belah bangsa.

’’Saya kira kondusivitas Mojokerto ini tetap harus dipertahankan dan tidak usah tepancing dengan hal-hal seperti itu. Harus diseleksi dulu benar dan tidaknya,’’ ungkapnya. Selain itu, pihaknya juga menyerukan kepada umat Islam untuk saling mendoakan kepada etnis Rohingya yang sedang dilanda konflik.

Baca Juga :  STIT Raden Wijaya Mojokerto Resmi dalam Naungan Nahdlatul Ulama

Tentunya, hal itu dilakukan dengan cara yang bijak tanpa melakukan tindakan emosional. Masyarakat juga diimbau agar tidak terjebak dengan isu bahwa yang terjadi di Myanmar adalah konflik agama, melainkan akibat konflik politik. ’’Saya kira, agama mana pun melarang perbuatan-perbuatan seperti itu,’’ tutur Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mojokerto ini.

Dengan demikian, kerukunan antarumat beragama di wilayah Mojokerto juga patut tetap dipertahankan. Meski demikian, pihaknya menyatakan mengutuk keras atas kejadian berdarah yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban tersebut. ’’Jadi, kami dari MUI ikut prihatin dan mengutuk sekali perbuatan itu,’’ pungkasnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/