alexametrics
26.1 C
Mojokerto
Thursday, August 11, 2022

Tulkiyem Ogah Direcoki Mertua

Dino minggu wayahe wong kemah
Budale rame-rame karo numpak sepur
Bojo wedok disatroni wong sak omah
Polahe gak tau srawung gumbul dulur

AKIBAT kesibukan kerja, Tulkiyem, 27 (nama samaran) seringkali kecapekan saat pulang ke rumah. Lelah itu membuatnya enggan membantu urusan rumah. Tulkiyem pun dianggap malas dan dimusuhi oleh penghuni rumah. Termasuk mertuanya.

Alhasil, pertengkaran tak bisa dihindari. Rumah tangganya dengan Mukiyo, 30 (juga nama samaran) pun berakhir di meja hijau. Mukiyo sejatinya sudah menasihati Tulkiyem agar mau membaur dengan keluarga besarnya.

Ini, lantaran sejak menikah, Tulkiyem dianggap terlalu pasif dan cuek dengan keluarga Mukiyo. ’’Jenenge numpang tinggal, kudune lak membaur seh. Lha, dekne ogak, ket awal rabi dekne wes ngerasa gak cocok. Akhire malah menjauh,’’ kata Mukiyo.

Pernikahan mereka sendiri memang baru berjalan dua tahun. Tapi, selama dua tahun tersebut, sudah banyak pertengkaran yang terjadi dan membuat rumah menjadi tidak tenang. Alasannya, karena di rumah tidak akur dan Tulkiyem selalu jadi sasaran.

Baca Juga :  Sepuluh CJH Tertahan di Rumah Sakit dan Asrama Haji Sukolilo Surabaya

Mukiyo mengatakan, bahwa saat pacaran dulu, Tulkiyem mengaku memang kurang cocok dengan ibunya. Pasalnya, sang ibu memang tipe mertua yang ingin menantunya berdiam di rumah saja. ’’Wes tak janjeni ngontrak rumah. Tapi, ancen duite gurung onok makane sementara terpaksa tinggal bareng mertua dulu,’’ terang warga Kecamatan Sooko ini.

Sejatinya, Mukiyo maupun Tulkiyem sama-sama bekerja sebagai buruh pabrik. Tulkiyem mempunyai tanggungan dua adik yang masih sekolah. Sehingga, gajinya memang lebih banyak diberikan untuk keluarganya. Selama dua tahun menikah, uang tabungan juga tidak terkumpul.

Akibatnya, mereka pun tetap bertahan di rumah mertuanya. ’’Ket awal, bojoku wes ditodong kon mandek kerjo. Dekne jengkel, mergo ancen butuh duit kangge keluargane terus ditabung,’’ bebernya.

Baca Juga :  Rawan Banjir, 14 Sungai di Mojokerto Dinormalisasi

Karena capek bekerja, sering kali Tulkiyem terlalu kelelahan sehingga tidak sanggup membantu urusan rumah. Meskipun pernah sekali dua kali membantu, tapi Tulkiyem juga tak tahan karena sering diomeli.

Kondisi tak nyaman lama-lama membuat Tulkiyem menjaga jarak. Bahkan memilih tak mau kumpul dengan keluarganya. ’’Tiap moleh, bojoku iku mesti langsung mlebu kamar, wes jengkel mbek morotuwo soale,’’ bebernya.

Kondisi ini jelas tak enak juga bagi Mukiyo. Istrinya kerap jadi gunjingan orang rumah bahkan tetangganya. Tulkiyem pun rupanya tak tahan dan memilih minggat. ’’Yo mergo wes gak onok solusi, keluarga yo gak ada yang suka. Akhire dipaksa bercerai wae,’’ pungkasnya. Mukiyo terpaksa menalak sang istri ke Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Mojokerto. (oce/fen)

Dino minggu wayahe wong kemah
Budale rame-rame karo numpak sepur
Bojo wedok disatroni wong sak omah
Polahe gak tau srawung gumbul dulur

AKIBAT kesibukan kerja, Tulkiyem, 27 (nama samaran) seringkali kecapekan saat pulang ke rumah. Lelah itu membuatnya enggan membantu urusan rumah. Tulkiyem pun dianggap malas dan dimusuhi oleh penghuni rumah. Termasuk mertuanya.

Alhasil, pertengkaran tak bisa dihindari. Rumah tangganya dengan Mukiyo, 30 (juga nama samaran) pun berakhir di meja hijau. Mukiyo sejatinya sudah menasihati Tulkiyem agar mau membaur dengan keluarga besarnya.

Ini, lantaran sejak menikah, Tulkiyem dianggap terlalu pasif dan cuek dengan keluarga Mukiyo. ’’Jenenge numpang tinggal, kudune lak membaur seh. Lha, dekne ogak, ket awal rabi dekne wes ngerasa gak cocok. Akhire malah menjauh,’’ kata Mukiyo.

Pernikahan mereka sendiri memang baru berjalan dua tahun. Tapi, selama dua tahun tersebut, sudah banyak pertengkaran yang terjadi dan membuat rumah menjadi tidak tenang. Alasannya, karena di rumah tidak akur dan Tulkiyem selalu jadi sasaran.

Baca Juga :  Info Awal! Pasar Kedungmaling, Sooko, Mojokerto Dilalap Si Jago Merah

Mukiyo mengatakan, bahwa saat pacaran dulu, Tulkiyem mengaku memang kurang cocok dengan ibunya. Pasalnya, sang ibu memang tipe mertua yang ingin menantunya berdiam di rumah saja. ’’Wes tak janjeni ngontrak rumah. Tapi, ancen duite gurung onok makane sementara terpaksa tinggal bareng mertua dulu,’’ terang warga Kecamatan Sooko ini.

- Advertisement -

Sejatinya, Mukiyo maupun Tulkiyem sama-sama bekerja sebagai buruh pabrik. Tulkiyem mempunyai tanggungan dua adik yang masih sekolah. Sehingga, gajinya memang lebih banyak diberikan untuk keluarganya. Selama dua tahun menikah, uang tabungan juga tidak terkumpul.

Akibatnya, mereka pun tetap bertahan di rumah mertuanya. ’’Ket awal, bojoku wes ditodong kon mandek kerjo. Dekne jengkel, mergo ancen butuh duit kangge keluargane terus ditabung,’’ bebernya.

Baca Juga :  Dewan Tuding Sosialisasi Pilkades di Mojokerto Minim

Karena capek bekerja, sering kali Tulkiyem terlalu kelelahan sehingga tidak sanggup membantu urusan rumah. Meskipun pernah sekali dua kali membantu, tapi Tulkiyem juga tak tahan karena sering diomeli.

Kondisi tak nyaman lama-lama membuat Tulkiyem menjaga jarak. Bahkan memilih tak mau kumpul dengan keluarganya. ’’Tiap moleh, bojoku iku mesti langsung mlebu kamar, wes jengkel mbek morotuwo soale,’’ bebernya.

Kondisi ini jelas tak enak juga bagi Mukiyo. Istrinya kerap jadi gunjingan orang rumah bahkan tetangganya. Tulkiyem pun rupanya tak tahan dan memilih minggat. ’’Yo mergo wes gak onok solusi, keluarga yo gak ada yang suka. Akhire dipaksa bercerai wae,’’ pungkasnya. Mukiyo terpaksa menalak sang istri ke Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Mojokerto. (oce/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/