alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Kendaraan Milik Sendiri dan Punya Usaha Lain

Di antara moda transportasi lainnya, eksistensi angkot (angkutan kota) kian terhimpit. Saat ini hanya tinggal segelintir yang mampu dan mau bertahan di tengah perkembangan zaman. Terlebih, terpaan gelombang pandemi yang tak berkesudahan. Rerata, mereka yang bertahan adalah pemilik angkot telah berusia.

Seperti lin MGP dengan trayek Mojosari-Gempol-Porong. Angkot yang identik dengan warna merah itu tak sejaya dulu. Saat ini yang berooperasi hanya sekitar 15 unit. Jumlahnya anjlok drastis sejak diterpa pandemi. Padahal sebelumnya angkot itu sempat ’’merajai’’ Pasar Legi Mojosari dengan memadati pelataran.

’’Sebelum pandemi, angkot yang aktif saja jumlahnya 60-an, sekarang cuma sekitar 15,’’ ujar Muji, 64, saat ngetem di Simpang Empat Panjer, kemarin. Dikatakannya, turunnya jumlah angkot karena terimbas pandemi dan keberadaan angkutan online.

Sejak dua tahun belakangan, tak sedikit juragan angkot yang akhirnya gulung tikar hingga menjual semua armadanya. Karena biaya operasional dan pemasukan yang tak sebanding. ’’Pokoknya pandemi ini yang bikin gak karuan. Apalagi sekarang banyak yang milih pakai (angkutan, red) online. Sekarang dapat Rp 50 ribu sehari itu sudah bagus sekali, lah ini dari pagi saja belum dapat penumpang sama sekali,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Gelar Event Menulis Surat kepada Kepala Daerah

Minimnya jumlah penumpang berbanding lurus dengan pemasukan mereka. Tak jarang mereka pulang dengan tangan hampa. ’’Paling ya lima orang, sering juga gak dapat penumpang. Sekarang setengah hari (siang, red) sudah pulang, sudah gak ada penumpang,’’ imbuh anggota Paguyuban Lin MGP Setia Kawan itu.

Meski begitu, Muji mengaku memilih bertahan jadi sopir lin MGP lantaran keterampilan utamanya sebagai sopir. Ditambah lagi, angkot itu miliknya sendiri. Sehingga, dia tak perlu pusing soal biaya sewa alias setoran. Tak pelak, dia harus bekerja serabutan sepulang narik untuk menyambung hidup. ’’Adanya ini ya dimanfaatkan. Kalau sudah pulang gitu nyandak liyane yang bisa dikerjakan,’’ sebut warga Kelurahan/Kecamatan Mojosari itu.

Baca Juga :  Usut Plafon Ambruk, DPRD Panggil Dua Kontraktor

Ketua Oraganisasi Angkutan Darat (Organda) Mojokerto Khusnun Amin, mengamini kondisi yang dialami sopir angkot saat ini. Minimnya pendapatan berbanding lurus dengan jumlah angkot yang bertahan saat ini. Dipastikannya, mereka yang bertahan merupakan pemilik dari angkot itu sendiri. ’’Bisa dikatakan 90 persen dari yang bertahan itu punya mereka sendiri. Karena kalau sekarang sistem sewa atau setor sudah ndak bisa, pasti rugi,’’ ungkapnya.

Menurutnya, rata-rata para sopir lin ini sudah berusia. Tak jarang mereka justru menjadikan pekerjaan itu sebagai sampingan. ’’Karena kondisinya seperti ini mereka sudah nrimo ing pandum. Mereka (sopir) yang sudah sepuh itu bahkan ya ada yang buat sampingan aja,” tandasnya. (vad/fen)

Di antara moda transportasi lainnya, eksistensi angkot (angkutan kota) kian terhimpit. Saat ini hanya tinggal segelintir yang mampu dan mau bertahan di tengah perkembangan zaman. Terlebih, terpaan gelombang pandemi yang tak berkesudahan. Rerata, mereka yang bertahan adalah pemilik angkot telah berusia.

Seperti lin MGP dengan trayek Mojosari-Gempol-Porong. Angkot yang identik dengan warna merah itu tak sejaya dulu. Saat ini yang berooperasi hanya sekitar 15 unit. Jumlahnya anjlok drastis sejak diterpa pandemi. Padahal sebelumnya angkot itu sempat ’’merajai’’ Pasar Legi Mojosari dengan memadati pelataran.

’’Sebelum pandemi, angkot yang aktif saja jumlahnya 60-an, sekarang cuma sekitar 15,’’ ujar Muji, 64, saat ngetem di Simpang Empat Panjer, kemarin. Dikatakannya, turunnya jumlah angkot karena terimbas pandemi dan keberadaan angkutan online.

Sejak dua tahun belakangan, tak sedikit juragan angkot yang akhirnya gulung tikar hingga menjual semua armadanya. Karena biaya operasional dan pemasukan yang tak sebanding. ’’Pokoknya pandemi ini yang bikin gak karuan. Apalagi sekarang banyak yang milih pakai (angkutan, red) online. Sekarang dapat Rp 50 ribu sehari itu sudah bagus sekali, lah ini dari pagi saja belum dapat penumpang sama sekali,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Merasakan Shawarma dan Roti Ban Serep

Minimnya jumlah penumpang berbanding lurus dengan pemasukan mereka. Tak jarang mereka pulang dengan tangan hampa. ’’Paling ya lima orang, sering juga gak dapat penumpang. Sekarang setengah hari (siang, red) sudah pulang, sudah gak ada penumpang,’’ imbuh anggota Paguyuban Lin MGP Setia Kawan itu.

Meski begitu, Muji mengaku memilih bertahan jadi sopir lin MGP lantaran keterampilan utamanya sebagai sopir. Ditambah lagi, angkot itu miliknya sendiri. Sehingga, dia tak perlu pusing soal biaya sewa alias setoran. Tak pelak, dia harus bekerja serabutan sepulang narik untuk menyambung hidup. ’’Adanya ini ya dimanfaatkan. Kalau sudah pulang gitu nyandak liyane yang bisa dikerjakan,’’ sebut warga Kelurahan/Kecamatan Mojosari itu.

Baca Juga :  Harmoni di Tengah Hari Raya Islam dan Nasrani
- Advertisement -

Ketua Oraganisasi Angkutan Darat (Organda) Mojokerto Khusnun Amin, mengamini kondisi yang dialami sopir angkot saat ini. Minimnya pendapatan berbanding lurus dengan jumlah angkot yang bertahan saat ini. Dipastikannya, mereka yang bertahan merupakan pemilik dari angkot itu sendiri. ’’Bisa dikatakan 90 persen dari yang bertahan itu punya mereka sendiri. Karena kalau sekarang sistem sewa atau setor sudah ndak bisa, pasti rugi,’’ ungkapnya.

Menurutnya, rata-rata para sopir lin ini sudah berusia. Tak jarang mereka justru menjadikan pekerjaan itu sebagai sampingan. ’’Karena kondisinya seperti ini mereka sudah nrimo ing pandum. Mereka (sopir) yang sudah sepuh itu bahkan ya ada yang buat sampingan aja,” tandasnya. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/