alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Ratusan Rumah Terendam, Ribuan Warga Terpaksa Diungsikan

MOJOKERTO – Memasuki hari kelima, banjir yang melanda Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto belum juga surut.

Bahkan, dampak luapan avur Kali Gunting tersebut semkin meluas. Tercatat hingga Sabtu (4/5) sore banjir telah merendam 369 rumah warga yang tersebar di dua dusun, dan lingkungan perumahan bersusidi. Dengan demikian, ribuan warga terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto,ketinggian air terus mengalami peningkatan. Di jalan desa air mencapai ketinggian 80 cm. Sedangkan di dalam rumah tercatat 50 cm. Jika dibandingkanpada Jumat (3/5) lalu, setidaknya ada peningkatan ketinggianair sekitar 10 cm.

Dari sebelumnya rata-rata mencapai 30 – 40 cm dalam rumah, dan 60 – 70 cm di jalan raya. ’’Trennya memang mengalami kenaikan,’’ ungkap Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini. Dampaknya juga semakin meluas.

Bila di hari sebelumnya merendam 77 rumah di Dusun Tempuran dan Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, sekarang tercatat ada 369 rumah terendam. Meliputi 42 rumah dengan 158 jiwa di Dusun Tempuran, dan 238 rumah dengan jumlah penduduk 950 jiwa di Dusun Bekucuk.

Baca Juga :  Penyaluran BLT DD Tahap III, Utamakan Warga Rentan Terdampak Covid-19

Angka itu belum termasuk di lingkungan perumahan bersubsidi merendam 54 rumah dengan 36 kepala keluarga (KK). ’’Ketinggian air di lingkungan perumahan antara 60-70 cm. Sedangkan di dalam rumah 30-40 cm,’’ ujarnya.

Dengan menggunakan perahu karet, BPBD dibantu anggota TNI/Polri, dan sejumlah unsur relawan lantas melakukan evakuasi warga terdampak bencana. Langkah itu sekaligus menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Selain balita dan lanjut usia, hewan ternak juga dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Meski di sisi lain banyak juga warga yang memilih bertahan dalam rumah. Zaini menegaskan, sebagian warga yang mengungsi untuk sementara waktu memilih tinggal di rumah saudara atau kerabat yang aman dari banjir sejak empat hari lalu.

’’Dari 369 rumah yang terendam di dua Dusun, ada 2.634 jiwa yang terdampak,’’ tuturnya. Untuk melakukan evakuasi BPBD juga dibantu 12 relawan di Jawa Timur (Jatim). BPBD menyediakan empat lokasi pengungsian bagi warga terdampak.

Di antaranya, di Balai Desa Ngingasrembyong, Balai Desa Pendowo, Balai Desa Tempuran, dan gedung TPQ. Empat lokasi itu diprediksi mampu menampung 1.400 lebih warga. ’’Kita sudah siapkan semua sarana. Seperti selimut, karpet, hingga logistik,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Sempat Rendam Ratusan Rumah Warga

Posko kesehatan, kemanan, dan dapur umum (DU) juga didirikan. Mengingat, debit airyang perlahan terus meningkat.Bagi warga yang keukeuh bertahan dalam rumah, BPBD dibantu relawan berusaha membujuk agar mau berpindah tempat aman.

’’Tapi, nanti kalau batas maksimal banjir masuk rumah warga melebihi yang ditentukan, mau tidak mau mereka kita evakuasi paksa. Daripada terjadi hal-hal tak diinginkan,’’ tandas Zaini. Air luapan avur Kali Gunting ini merupakan air kiriman dari Kabupaten Jombang.

Zaini menyebut, selain faktor hujan, tumpukan sampah plastik di sepanjang aliran sungai turut menjadi pemicu. Hal ini sekaligus diperparah degan Dam Sipon yang tidak berfungsi secara normal. ’’Ada tiga pintu di Dam Sipon Pagerluyung, Gedeg. Namun, yang terbuka hanya satu. Ini segara kita lakukan evaluasi,’’ terangnya.

Pemkab Mojokerto juga sudah melakukan koordinasi bersama instansi terkait. Khususnya BBWS untuk segera melakukan normalisasi, agar bencana tidak terus terjadi selama musim hujan.

MOJOKERTO – Memasuki hari kelima, banjir yang melanda Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto belum juga surut.

Bahkan, dampak luapan avur Kali Gunting tersebut semkin meluas. Tercatat hingga Sabtu (4/5) sore banjir telah merendam 369 rumah warga yang tersebar di dua dusun, dan lingkungan perumahan bersusidi. Dengan demikian, ribuan warga terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto,ketinggian air terus mengalami peningkatan. Di jalan desa air mencapai ketinggian 80 cm. Sedangkan di dalam rumah tercatat 50 cm. Jika dibandingkanpada Jumat (3/5) lalu, setidaknya ada peningkatan ketinggianair sekitar 10 cm.

Dari sebelumnya rata-rata mencapai 30 – 40 cm dalam rumah, dan 60 – 70 cm di jalan raya. ’’Trennya memang mengalami kenaikan,’’ ungkap Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini. Dampaknya juga semakin meluas.

Bila di hari sebelumnya merendam 77 rumah di Dusun Tempuran dan Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, sekarang tercatat ada 369 rumah terendam. Meliputi 42 rumah dengan 158 jiwa di Dusun Tempuran, dan 238 rumah dengan jumlah penduduk 950 jiwa di Dusun Bekucuk.

Baca Juga :  Memasuki Karantina sebelum Grand Final

Angka itu belum termasuk di lingkungan perumahan bersubsidi merendam 54 rumah dengan 36 kepala keluarga (KK). ’’Ketinggian air di lingkungan perumahan antara 60-70 cm. Sedangkan di dalam rumah 30-40 cm,’’ ujarnya.

- Advertisement -

Dengan menggunakan perahu karet, BPBD dibantu anggota TNI/Polri, dan sejumlah unsur relawan lantas melakukan evakuasi warga terdampak bencana. Langkah itu sekaligus menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Selain balita dan lanjut usia, hewan ternak juga dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Meski di sisi lain banyak juga warga yang memilih bertahan dalam rumah. Zaini menegaskan, sebagian warga yang mengungsi untuk sementara waktu memilih tinggal di rumah saudara atau kerabat yang aman dari banjir sejak empat hari lalu.

’’Dari 369 rumah yang terendam di dua Dusun, ada 2.634 jiwa yang terdampak,’’ tuturnya. Untuk melakukan evakuasi BPBD juga dibantu 12 relawan di Jawa Timur (Jatim). BPBD menyediakan empat lokasi pengungsian bagi warga terdampak.

Di antaranya, di Balai Desa Ngingasrembyong, Balai Desa Pendowo, Balai Desa Tempuran, dan gedung TPQ. Empat lokasi itu diprediksi mampu menampung 1.400 lebih warga. ’’Kita sudah siapkan semua sarana. Seperti selimut, karpet, hingga logistik,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Apip Ginanjar Gantikan Dony Alexander

Posko kesehatan, kemanan, dan dapur umum (DU) juga didirikan. Mengingat, debit airyang perlahan terus meningkat.Bagi warga yang keukeuh bertahan dalam rumah, BPBD dibantu relawan berusaha membujuk agar mau berpindah tempat aman.

’’Tapi, nanti kalau batas maksimal banjir masuk rumah warga melebihi yang ditentukan, mau tidak mau mereka kita evakuasi paksa. Daripada terjadi hal-hal tak diinginkan,’’ tandas Zaini. Air luapan avur Kali Gunting ini merupakan air kiriman dari Kabupaten Jombang.

Zaini menyebut, selain faktor hujan, tumpukan sampah plastik di sepanjang aliran sungai turut menjadi pemicu. Hal ini sekaligus diperparah degan Dam Sipon yang tidak berfungsi secara normal. ’’Ada tiga pintu di Dam Sipon Pagerluyung, Gedeg. Namun, yang terbuka hanya satu. Ini segara kita lakukan evaluasi,’’ terangnya.

Pemkab Mojokerto juga sudah melakukan koordinasi bersama instansi terkait. Khususnya BBWS untuk segera melakukan normalisasi, agar bencana tidak terus terjadi selama musim hujan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/