alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Sungai Gembolo Diduga Tercemar Limbah Industri

MOJOKERTO – Dugaan pencemaran sungai kembali terjadi. Kali ini terjadi di Sungai Gembolo yang membentang di Dusun Ketok, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Bahkan, pencemaran yang diduga berasal dari limbah industri atau pabrik ini sudah berlangsung selama lima hari. Selain air sungai berubah menjadi kuning kecokelatan, limbah juga menimbulkan bau menyengat. Namun, dugaan pencemaran yang sudah meresahkan masyarakat itu belum diketahui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto.

’’Saya belum dengar, dan tidak ada laporan,’’ ungka Zainul Arifin, Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Senin (4/3). Demikian juga dengan Kabid Penataan DLH, Mohammad Aminudin. Dia mengaku hingga kini juga belum mengetahui perihal dugaan pencemaran Sungai Gembolo tersebut.

’’Saya belum tahu. Kami pastikan juga belum ada laporan,’’ ungkapnya. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, air yang mengalir di Sungai Gembolo itu tak hanya berubah warna. Secara kasat mata nampak gumpalan minyak yang terpisah dari air sungai. Diperkirakan limbah itu dapat membahayakan keberlangsungan ekosistem sungai.

Baca Juga :  Rekanan Sanggup Empat Bulan Rampung

’’Baunya menyengat sampai permukiman. Baunya seperti karat besi,’’ ungkap Safii, salah satu warga.  Menurutnya, dugaan pencemaran ini berlangsung sudah lima hari lalu. Namun, kemarin kondisinya dianggap paling parah. Sebab,meski sebelumnya nampak kotor, airnya tak sepekat seperti saat ini. Kini airnya tak ubanya limbah pabrik.

Gumpalan minyak terlihat jelas di sepanjang aliran sungai tersebut. Bahkan, jika kondisi cuaca panas air di Sungai Gembolo tersebut terkadang mengeluarkan busa. Berulang kali sudah dilaporkan ke perangkat desa maupun pihak yang berwenang. Sayang, laporan itu seakan angin lalu. Hingga kemarin pembuangan limbah ini seakan dibiarkan.

’’Jangankan ambil sampel. Melihat langsung ke lokasi saja tidak pernah. Padahal, sudah jelas, airnya seperti terkontaminasi minyak,’’ tuturnya. Warga khawatir, jika ini dibiarkan akan terus terulang peristiwa yang sama. Mereka berharap, ada tindakan tegas dari pihak terkait.

Baca Juga :  985 Hektare Hutan Ditanami Jagung

Warga juga khawatir ini akan berdampak pada pencemaran lingkungan. Termasuk terhadap kesehatan mereka. Apalagi, kini warga tak lagi bisa memanfaatkan aliran air sungai. ’’Lagi-lagi warga yang jadi korban,’’ tandasnya.

Pencemaran sungai sebelumnya juga terjadi di Desa Bedagas, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Air sungai menimbulkan bau menyengat. Warnanya kadang-kadang berubah seperti kopi susu dan muncul endapan hijau di dasar air. Selain itu, ikan yang hidup di bawah bendungan sungai pernah terpantau mati.

Bau itu timbul diduga akibat adanya limbah dari pabrik pencucian plastik di wilayah Sekargadung yang dibuang di sungai. Atas hal itu, warga terdampak menemui kades setempat untuk mencari solusi. Dugaan pencemaran ini juga pernah dilaporkan ke DLH dan dilakukan penyelidikan kepolisian. 

 

MOJOKERTO – Dugaan pencemaran sungai kembali terjadi. Kali ini terjadi di Sungai Gembolo yang membentang di Dusun Ketok, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Bahkan, pencemaran yang diduga berasal dari limbah industri atau pabrik ini sudah berlangsung selama lima hari. Selain air sungai berubah menjadi kuning kecokelatan, limbah juga menimbulkan bau menyengat. Namun, dugaan pencemaran yang sudah meresahkan masyarakat itu belum diketahui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto.

’’Saya belum dengar, dan tidak ada laporan,’’ ungka Zainul Arifin, Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Senin (4/3). Demikian juga dengan Kabid Penataan DLH, Mohammad Aminudin. Dia mengaku hingga kini juga belum mengetahui perihal dugaan pencemaran Sungai Gembolo tersebut.

’’Saya belum tahu. Kami pastikan juga belum ada laporan,’’ ungkapnya. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, air yang mengalir di Sungai Gembolo itu tak hanya berubah warna. Secara kasat mata nampak gumpalan minyak yang terpisah dari air sungai. Diperkirakan limbah itu dapat membahayakan keberlangsungan ekosistem sungai.

Baca Juga :  Pemandian Zaman Majapahit, Jadi Kearifan Lokal

’’Baunya menyengat sampai permukiman. Baunya seperti karat besi,’’ ungkap Safii, salah satu warga.  Menurutnya, dugaan pencemaran ini berlangsung sudah lima hari lalu. Namun, kemarin kondisinya dianggap paling parah. Sebab,meski sebelumnya nampak kotor, airnya tak sepekat seperti saat ini. Kini airnya tak ubanya limbah pabrik.

Gumpalan minyak terlihat jelas di sepanjang aliran sungai tersebut. Bahkan, jika kondisi cuaca panas air di Sungai Gembolo tersebut terkadang mengeluarkan busa. Berulang kali sudah dilaporkan ke perangkat desa maupun pihak yang berwenang. Sayang, laporan itu seakan angin lalu. Hingga kemarin pembuangan limbah ini seakan dibiarkan.

- Advertisement -

’’Jangankan ambil sampel. Melihat langsung ke lokasi saja tidak pernah. Padahal, sudah jelas, airnya seperti terkontaminasi minyak,’’ tuturnya. Warga khawatir, jika ini dibiarkan akan terus terulang peristiwa yang sama. Mereka berharap, ada tindakan tegas dari pihak terkait.

Baca Juga :  Tumbuhkan Jiwa Peduli ke Pertanian, UB Turun ke SDIT Al Anwar

Warga juga khawatir ini akan berdampak pada pencemaran lingkungan. Termasuk terhadap kesehatan mereka. Apalagi, kini warga tak lagi bisa memanfaatkan aliran air sungai. ’’Lagi-lagi warga yang jadi korban,’’ tandasnya.

Pencemaran sungai sebelumnya juga terjadi di Desa Bedagas, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Air sungai menimbulkan bau menyengat. Warnanya kadang-kadang berubah seperti kopi susu dan muncul endapan hijau di dasar air. Selain itu, ikan yang hidup di bawah bendungan sungai pernah terpantau mati.

Bau itu timbul diduga akibat adanya limbah dari pabrik pencucian plastik di wilayah Sekargadung yang dibuang di sungai. Atas hal itu, warga terdampak menemui kades setempat untuk mencari solusi. Dugaan pencemaran ini juga pernah dilaporkan ke DLH dan dilakukan penyelidikan kepolisian. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/