alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Desa Kweden Kembar, Era Modernisasi hingga Wader Pari

SEBELUM tahun 2000-an, banyak yang memandang Desa Kweden Kembar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto dengan sebelah mata.

Utamanya dari sudut pandang orang luar desa. Letak geografisnya di pinggir Sungai Porong yang membelah perbatasan Kabupaten Mojokerto dengan Kabupaten Sidoarjo, membuat stigma sebagai desa terpencil dan primitif seakan begitu melekat pada desa ini. 

Tapi, kini Desa Kweden Kembar berubah total. Arus modernisasi sudah menyentuh sendi kehidupan desa. Di sepanjang jalan sekeliling desa, rumah-rumah warga berdiri megah dan sudah bergaya kekinian.

Nyaris sudah sulit ditemui rumah yang tidak layak. Pun demikian dengan gaya hidup warga desa. Motor dan mobil terbaru yang berseliweran, semakin menunjukan kemampuan ekonomi mereka.  Kades Kweden Kembar, Winarno, menjelaskan, kemajuan desa ini tak lepas dari banyaknya warga yang mengais rezeki di luar desa.

”Tapi, kebanyakan mereka bekerja di luar kota. Seperti Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya. Dan biasanya dijalani pulang-pergi,” terang Winarno. Hal ini dimungkinkan karena pilihan transportasi yang beragam. Selain dengan kendaraan pribadi, kebanyakan juga menggunakan transportasi kereta api.

Baca Juga :  Kota Mojokerto Daerah Stunting Terendah di Jatim

Letak Desa Kweden Kembar memang cukup dekat dengan Stasiun Tarik, Sidoarjo. Bisa ditempuh sekitar 20 menit saja. Bahkan, mungkin bisa kurang. Selain itu akses jalan yang semakin baik, kian memudahkan warga desa untuk berlalu lalang.

Kondisi jalan desa juga sudah relatif memadai. Bahkan, di beberapa titik berupa jalan beton. Apalagi, kini akses jalan penghubung ke desa-desa sekitar juga sudah sangat lancar. ”Termasuk setelah adanya jembatan yang menghubungkan ke Desa Jumeneng,” imbuhnya.

Keuntungan yang didapat dari banyaknya warga yang bekerja di luar kota menurut Winarno, tentu saja adalah adanya transfer modernisasi. Tak hanya dari ekonomi dan gaya hidup, tapi juga pola pikir dan wawasan warga desa.

Terbukti, tingkat pendidikan warga pun semakin meningkat. ”Inilah keuntungannya. Dengan banyak bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat di kota besar, otomatis cara berpikir dan wawasan mereka juga semakin luas,” tuturnya.

Baca Juga :  Honorer K-2 Kabupaten Dapat Angin Segar, Disiapkan 230 Lowongan

Namun, meski begitu, era modernisasi yang melanda desa ini tetap tak lantas menghapus identitas asli Desa Kweden Kembar. Sebagai desa yang berada di pinggir anak sungai besar, mata pencaharian pokok berupa pencari ikan juga masih banyak ditemui.

Apalagi, desa ini juga punya habitat ikan air tawar yang jarang ditemui di tempat lain, yakni ikan wader pari. Winarno bahkan berani memastikan, ikan wader pari yang asli kebanyakan hanya bisa ditemui di Desa Kweden Kembar.

Ikan yang terkenal kelezatannya itu saat ini sudah terbilang langka. Karena tidak bisa dibudidayakan dan hanya bisa ditemui di aliran Sungai Brantas. Tak heran, harganya juga lumayan mahal. Bisa mencapai hingga Rp 25 ribu perkg.

Dalam sehari para pencari ikan ini bisa mendapat antara 3 hingga 5 kg. ”Tak hanya ikannya saja yang asli sini, kebanyakan para pencari ikan ini juga asli warga desa sini,” tegas Winarno. (nto)

 

 

SEBELUM tahun 2000-an, banyak yang memandang Desa Kweden Kembar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto dengan sebelah mata.

Utamanya dari sudut pandang orang luar desa. Letak geografisnya di pinggir Sungai Porong yang membelah perbatasan Kabupaten Mojokerto dengan Kabupaten Sidoarjo, membuat stigma sebagai desa terpencil dan primitif seakan begitu melekat pada desa ini. 

Tapi, kini Desa Kweden Kembar berubah total. Arus modernisasi sudah menyentuh sendi kehidupan desa. Di sepanjang jalan sekeliling desa, rumah-rumah warga berdiri megah dan sudah bergaya kekinian.

Nyaris sudah sulit ditemui rumah yang tidak layak. Pun demikian dengan gaya hidup warga desa. Motor dan mobil terbaru yang berseliweran, semakin menunjukan kemampuan ekonomi mereka.  Kades Kweden Kembar, Winarno, menjelaskan, kemajuan desa ini tak lepas dari banyaknya warga yang mengais rezeki di luar desa.

”Tapi, kebanyakan mereka bekerja di luar kota. Seperti Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya. Dan biasanya dijalani pulang-pergi,” terang Winarno. Hal ini dimungkinkan karena pilihan transportasi yang beragam. Selain dengan kendaraan pribadi, kebanyakan juga menggunakan transportasi kereta api.

Baca Juga :  Honorer K-2 Kabupaten Dapat Angin Segar, Disiapkan 230 Lowongan

Letak Desa Kweden Kembar memang cukup dekat dengan Stasiun Tarik, Sidoarjo. Bisa ditempuh sekitar 20 menit saja. Bahkan, mungkin bisa kurang. Selain itu akses jalan yang semakin baik, kian memudahkan warga desa untuk berlalu lalang.

- Advertisement -

Kondisi jalan desa juga sudah relatif memadai. Bahkan, di beberapa titik berupa jalan beton. Apalagi, kini akses jalan penghubung ke desa-desa sekitar juga sudah sangat lancar. ”Termasuk setelah adanya jembatan yang menghubungkan ke Desa Jumeneng,” imbuhnya.

Keuntungan yang didapat dari banyaknya warga yang bekerja di luar kota menurut Winarno, tentu saja adalah adanya transfer modernisasi. Tak hanya dari ekonomi dan gaya hidup, tapi juga pola pikir dan wawasan warga desa.

Terbukti, tingkat pendidikan warga pun semakin meningkat. ”Inilah keuntungannya. Dengan banyak bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat di kota besar, otomatis cara berpikir dan wawasan mereka juga semakin luas,” tuturnya.

Baca Juga :  Uji Coba Sekolah Tatap Muka Diperpanjang

Namun, meski begitu, era modernisasi yang melanda desa ini tetap tak lantas menghapus identitas asli Desa Kweden Kembar. Sebagai desa yang berada di pinggir anak sungai besar, mata pencaharian pokok berupa pencari ikan juga masih banyak ditemui.

Apalagi, desa ini juga punya habitat ikan air tawar yang jarang ditemui di tempat lain, yakni ikan wader pari. Winarno bahkan berani memastikan, ikan wader pari yang asli kebanyakan hanya bisa ditemui di Desa Kweden Kembar.

Ikan yang terkenal kelezatannya itu saat ini sudah terbilang langka. Karena tidak bisa dibudidayakan dan hanya bisa ditemui di aliran Sungai Brantas. Tak heran, harganya juga lumayan mahal. Bisa mencapai hingga Rp 25 ribu perkg.

Dalam sehari para pencari ikan ini bisa mendapat antara 3 hingga 5 kg. ”Tak hanya ikannya saja yang asli sini, kebanyakan para pencari ikan ini juga asli warga desa sini,” tegas Winarno. (nto)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/