alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Menderita Katarak, 871 Warga Berpotensi Alami Kebutaan

MOJOKERTO – Angka penderita mata katarak di Mojokerto masih tergolong tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto mencatat, sepanjang Januari-Oktober ini, jumlah penderita katarak sebanyak 871 orang. Data itu didapat dari warga yang melakukan pemeriksaan di 27 puskesmas di kabupaten. Tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut meningkat karena belum termasuk pasien yang terjaring di rumah sakit.

Akan tetapi, tingginya penderita katarak rupanya tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat. Sebab, tidak sedikit yang sudah terdeteksi enggan untuk melakukan tindakan operasi. Padahal, penyakit katarak bisa menjadi ancaman mengalami kebutaan.

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto, Didik Chusnul Yakin mengungkapkan, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan masih menjadi salah satu kendala penanganan kesehatan mata. Sehingga, belum semua penderita katarak terdeteksi oleh dinkes. ”Mungkin didasari karena ketidaktahuan dan juga faktor lainnya,” terangnya.

Baca Juga :  Selama Ramadan, Terus Gencar Vaksinasi Siang Malam

Tidak hanya itu, warga yang sudah ditemukan dengan kondisi mengalami katarak juga masih enggan menindaklanjuti hasil pemeriksaan. Padahal, jelas Didik, untuk menghindari terjadinya kebutaan, penyakit mata katarak bisa ditangani dengan tindakan operasi. ”Kalau masyarakat masih enggan kan jadi susah. Padahal, untuk mencegah angka kebutaan agar tidak beranjak itu tergantung penangannya,” paparnya.

Didik menyebutkan, menyebutkan angka kebutaan di Jawa Timur masih cukup tinggi dengan persentase 4 persen dari seluruh populasi penduduk. Namun, dia mengaku belum mengantongi data kebutaan di Kabupaten Mojokerto.

Dalam waktu dekat pihaknya berencana menerjunkan tim surveilans untuk melakukan pemetaan sebaran penyakit katarak. Selain itu, juga untuk mengetahui di titik wilayah mana yang jumlah penduduknya banyak mengalami kebutaan. ”Tindaklanjut pertama menemukan dulu angka kebutaan itu. Selanjutnya bagaimana cara agar mereka (penderita) sadar atas kemauan sendiri mau operasi,” tandasnya.

Baca Juga :  Belasan Barang Bawaan Pemudik Tertinggal

Oleh sebab itu, untuk menjaring penderita katarak pihaknya harus melakukan jemput bola. Bahkan, sebagian besar data penderita yang ditemukan merupakan hasil dari kegiatan screening atau pemeriksaan mata secara massal dengan menggandeng dokter spesialis mata. Sedangkan, sebagian lainnya ditemukan saat memeriksanan diri ke puskesmas.

Sejauh ini, hanya Puskesmas Ngoro yang memiliki layanan unggulan kesehatan mata. Bahkan, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang menjadi rujukan dari wilayah Mojosari dan Pungging.  Didik menyatakan, sebenarnya penanganan mata harus dilakukan di rumah sakit.

Namun, untuk bisa menjaring sebanyak-banyaknya penderita penyakit mata, maka juga dihadirkan mulai dari tingkat puskesmas. ”Harapannya, ketika sudah ditemukan, mereka (penderita) mau untuk menindaklanjutinya,” pungkas dia.

MOJOKERTO – Angka penderita mata katarak di Mojokerto masih tergolong tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto mencatat, sepanjang Januari-Oktober ini, jumlah penderita katarak sebanyak 871 orang. Data itu didapat dari warga yang melakukan pemeriksaan di 27 puskesmas di kabupaten. Tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut meningkat karena belum termasuk pasien yang terjaring di rumah sakit.

Akan tetapi, tingginya penderita katarak rupanya tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat. Sebab, tidak sedikit yang sudah terdeteksi enggan untuk melakukan tindakan operasi. Padahal, penyakit katarak bisa menjadi ancaman mengalami kebutaan.

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto, Didik Chusnul Yakin mengungkapkan, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan masih menjadi salah satu kendala penanganan kesehatan mata. Sehingga, belum semua penderita katarak terdeteksi oleh dinkes. ”Mungkin didasari karena ketidaktahuan dan juga faktor lainnya,” terangnya.

Baca Juga :  DLH Paksakan TPA Overload

Tidak hanya itu, warga yang sudah ditemukan dengan kondisi mengalami katarak juga masih enggan menindaklanjuti hasil pemeriksaan. Padahal, jelas Didik, untuk menghindari terjadinya kebutaan, penyakit mata katarak bisa ditangani dengan tindakan operasi. ”Kalau masyarakat masih enggan kan jadi susah. Padahal, untuk mencegah angka kebutaan agar tidak beranjak itu tergantung penangannya,” paparnya.

Didik menyebutkan, menyebutkan angka kebutaan di Jawa Timur masih cukup tinggi dengan persentase 4 persen dari seluruh populasi penduduk. Namun, dia mengaku belum mengantongi data kebutaan di Kabupaten Mojokerto.

Dalam waktu dekat pihaknya berencana menerjunkan tim surveilans untuk melakukan pemetaan sebaran penyakit katarak. Selain itu, juga untuk mengetahui di titik wilayah mana yang jumlah penduduknya banyak mengalami kebutaan. ”Tindaklanjut pertama menemukan dulu angka kebutaan itu. Selanjutnya bagaimana cara agar mereka (penderita) sadar atas kemauan sendiri mau operasi,” tandasnya.

Baca Juga :  Beredar Makanan Dengan Pewarna Tekstil
- Advertisement -

Oleh sebab itu, untuk menjaring penderita katarak pihaknya harus melakukan jemput bola. Bahkan, sebagian besar data penderita yang ditemukan merupakan hasil dari kegiatan screening atau pemeriksaan mata secara massal dengan menggandeng dokter spesialis mata. Sedangkan, sebagian lainnya ditemukan saat memeriksanan diri ke puskesmas.

Sejauh ini, hanya Puskesmas Ngoro yang memiliki layanan unggulan kesehatan mata. Bahkan, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang menjadi rujukan dari wilayah Mojosari dan Pungging.  Didik menyatakan, sebenarnya penanganan mata harus dilakukan di rumah sakit.

Namun, untuk bisa menjaring sebanyak-banyaknya penderita penyakit mata, maka juga dihadirkan mulai dari tingkat puskesmas. ”Harapannya, ketika sudah ditemukan, mereka (penderita) mau untuk menindaklanjutinya,” pungkas dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/