alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Rumah Majapahitan Tak Dilirik Wisatawan, Sebagian Dimakan Rayap

MOJOKERTO – Pembangunan rumah bernuansa Majapahitan yang menjamah lima desa di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tak sesuai ekspektasi.

Dari ratusan rumah yang telah berdiri, hanya segelintir saja yang dinilai ’’bermanfaat’’. Seperti apa kondisi bangunan yang menyerap anggaran puluhan miliar tersebut sekarang? Deretan rumah dengan dominan batu bata merah berdiri rapi di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulanm Kabupaten Mojokerto.

Tampak indah dengan arsitektur yang disebut-sebut sebagai rumah tempo dulu. Untuk pembangunan rumah ini, pemerintah sudah menggelontor dana puluhan miliar. Ya, lima tahun lalu. Pembangunan rumah bernuansa Majapahitan ini diharapkan menjadi destinasi wisata yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat Trowulan dan sekitarnya.

Lokasi ini diharapkan menjadi satu dari lima desa yang akan menjadi jujukan wisatawan domestik dan internasional. ’’Rencananya memang terlalu muluk-muluk,’’ ungkap Ketua Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Kabupaten Mojokerto, Supriyadi. Namun, rencana itu rupanya tak dibarengi dengan langkah dan perencanaan apik nan matang.

Baca Juga :  Di-Rapid Test Ulang, Warga Sidomulyo Protes

Pasca pembangunan lima tahun silam, pemerintah nyaris tak pernah melakukan apa pun. Rumah warga yang telah berubah wajah ala Majapahitan dibiarkan begitu saja. Alhasil, tak sedikit warga yang kebingungan. Lihat saja, dari 200 rumah yang dipugar di desa ini, tak lebih dari 30 rumah saja yang pernah menjadi persinggahan wisawatan.

’’Tidak banyak. Hanya 30 rumah saja yang bisa menikmati,’’ imbuh dia. Ke-30 pemilik rumah yang bisa menikmati itu karena kediaman mereka sudah berulangkali menjadi homestay wisatawan Trowulan. Mereka menginap dengan fasilitas seadanya. Sementara, sisanya yang mencapai 170 unit rumah, kini dimanfaatkan sebagai ruang tamu, toko, warung, tempat etalase, dan bahkan mangkrak.

Baca Juga :  BNNK Gerebek Rumah Pecandu Sabu

’’Tidak ada manfaatnya untuk kawasan wisata,’’ papar perajin cor kuningan ini. Bahkan, beberapa rumah di antaranya yang minim perawatan sudah jadi konsumsi rayap. Supriyadi menilai, fungsi dan manfaat rumah Majapahit di kampungnya tak jauh beda dengan empat kampung lain yang turut dijamah sasaran pembangunan ini. Sama-sama memprihatinkan.

Hal itu diakui Kepala Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Sunardi. Dia menegaskan, pembangunan rumah bernuansa Majapahitan sejak tahun 2016 di desanya juga tak banyak memiliki fungsi dan pendukung wisawatan. ’’Tidak ada apa-apa. Karena setelah dibangun, tidak ada perhatian dari pemerintah daerah,’’ tandasnya.

Ia berharap, pemerintah daerah sebagai stakeholder, melakukan upaya-upaya apik untuk memanfaatkan rumah dengan arsitektur era kerajaan Majapahit tersebut. 

MOJOKERTO – Pembangunan rumah bernuansa Majapahitan yang menjamah lima desa di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tak sesuai ekspektasi.

Dari ratusan rumah yang telah berdiri, hanya segelintir saja yang dinilai ’’bermanfaat’’. Seperti apa kondisi bangunan yang menyerap anggaran puluhan miliar tersebut sekarang? Deretan rumah dengan dominan batu bata merah berdiri rapi di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulanm Kabupaten Mojokerto.

Tampak indah dengan arsitektur yang disebut-sebut sebagai rumah tempo dulu. Untuk pembangunan rumah ini, pemerintah sudah menggelontor dana puluhan miliar. Ya, lima tahun lalu. Pembangunan rumah bernuansa Majapahitan ini diharapkan menjadi destinasi wisata yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat Trowulan dan sekitarnya.

Lokasi ini diharapkan menjadi satu dari lima desa yang akan menjadi jujukan wisatawan domestik dan internasional. ’’Rencananya memang terlalu muluk-muluk,’’ ungkap Ketua Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) Kabupaten Mojokerto, Supriyadi. Namun, rencana itu rupanya tak dibarengi dengan langkah dan perencanaan apik nan matang.

Baca Juga :  Semarak Mokeran Fest 2019 Digelar, Sajikan Festival Budaya Ramadan

Pasca pembangunan lima tahun silam, pemerintah nyaris tak pernah melakukan apa pun. Rumah warga yang telah berubah wajah ala Majapahitan dibiarkan begitu saja. Alhasil, tak sedikit warga yang kebingungan. Lihat saja, dari 200 rumah yang dipugar di desa ini, tak lebih dari 30 rumah saja yang pernah menjadi persinggahan wisawatan.

’’Tidak banyak. Hanya 30 rumah saja yang bisa menikmati,’’ imbuh dia. Ke-30 pemilik rumah yang bisa menikmati itu karena kediaman mereka sudah berulangkali menjadi homestay wisatawan Trowulan. Mereka menginap dengan fasilitas seadanya. Sementara, sisanya yang mencapai 170 unit rumah, kini dimanfaatkan sebagai ruang tamu, toko, warung, tempat etalase, dan bahkan mangkrak.

Baca Juga :  BNNK Gerebek Rumah Pecandu Sabu
- Advertisement -

’’Tidak ada manfaatnya untuk kawasan wisata,’’ papar perajin cor kuningan ini. Bahkan, beberapa rumah di antaranya yang minim perawatan sudah jadi konsumsi rayap. Supriyadi menilai, fungsi dan manfaat rumah Majapahit di kampungnya tak jauh beda dengan empat kampung lain yang turut dijamah sasaran pembangunan ini. Sama-sama memprihatinkan.

Hal itu diakui Kepala Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Sunardi. Dia menegaskan, pembangunan rumah bernuansa Majapahitan sejak tahun 2016 di desanya juga tak banyak memiliki fungsi dan pendukung wisawatan. ’’Tidak ada apa-apa. Karena setelah dibangun, tidak ada perhatian dari pemerintah daerah,’’ tandasnya.

Ia berharap, pemerintah daerah sebagai stakeholder, melakukan upaya-upaya apik untuk memanfaatkan rumah dengan arsitektur era kerajaan Majapahit tersebut. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/