alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Ratusan Rapid Antibodi Kedaluwarsa Belum Diretur

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Penukaran rapid test kedaluwarsa oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto nyatanya belum menyentuh setiap titik fasilitas kesehatan (faskes). Meski dinkes mengklaim telah menukar keseluruhan rapid merek VivaDiag itu dengan yang baru pada Sabtu (1/5) sore lalu.

Hal itu dilontarkan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinkes Kabupaten Mojokerto Nanda Hasan Solihin. Dirinya menyebutkan seluruh rapid yang kedaluwarsa hari ini sudah diganti.

Keseluruhannya sudah sesuai dengan jumlah dan merek yang didata oleh dinkes dari 27 puskesmas dan UPT Labkesda Kabupaten Mojokerto. ”Sudah sesuai kok sama yang 8.911 itu jumlahnya, mereknya juga sama. Sudah ditukar Sabtu (1/5) sore,” jelasnya kemarin (3/5).

Kendati demikian, hal itu berbanding terbalik dengan yang ditemukan oleh Jawa Pos Radar Mojokerto di gudang farmasi UPT Labkesda Kabupaten Mojokerto, di Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar kemarin (3/5).

Masih didapati sebanyak 720 alat uji rapid antibodi dengan merek VivaDiag terbungkus rapi di dalam boks berlapis plastik bening. Di kemasan tersebut tertera tanggal kadaluwarsa yang memiliki waktu expired yang sama dengan alat deteksi yang sudah diretur. Yakni, tanggal 4 Mei 2021 atau hari ini.

Tak hanya itu, dalam  boks tersebut juga tertera keterangan yang menyebutkan bahwa boks tersebut berisi sebanyak 18 dus. ”Itu sisa pengadaan Desember lalu,” beber sumber terpercaya Jawa Pos Radar Mojokerto. Selain merk VivaDiag, Jawa Pos Radar Mojokerto juga mendapati empat kardus rapid antibodi jenis Acro Biotech. Namun, dengan masa kedaluwarsa yang berbeda yakni Oktober 2022.

Baca Juga :  Kecukupan Beras saat PPKM Darurat

Sumber terpercaya ini menyebutkan, bahwa memang alat tersebut merupakan pengadaan yang digunakan selama pilkada tahun lalu. Awalnya jumlah rapid yang di-dropping kurang lebih ada 20 ribu. Namun, semenjak adanya pemberlakuan rapid antigen pada Januari lalu, akhirnya kebutuhan stok rapid antibodi tergeser.

Sehingga, terjadinya penumpukan stok dan jarang digunakan. ”Akhirnya baru dibagikan ke puskesmas Februari kemarin, untuk pakai tracing atau periksa ibu hamil,” sebutnya. Kendati demikian, dia tak mengetahui pasti penyebab tak diangkutnya rapid yang sudah kadaluwarsa itu.

Menurutnya, dinkes sejatinya sudah mengetahui bahwa di Labkesda sendiri juga masih ada stok yang belum diangkut agar bisa diretur dengan yang baru. Namun, kenyataannya hingga kemarin stok yang kadaluwarsa itu masih tergeletak dengan rapi di gudang farmasi.

Sementara itu, Wakil Bupati Mojokerto Muhammad Albarra alias Gus Barra angkat  bicara menanggapi pengadaan rapid antibodi yang diretur Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. Alat deteksi tersebut diretur lantaran memasuki masa kedaluwarsa.

Baca Juga :  Dandim 0815 Bersama Forkopimda Sambangi Keluarga ABK KRI Nanggala-402

Padahal, sedianya alat-alat tersebut bakal digunakan untuk pengujian selama penyekatan Lebaran nanti. ”Keterangan dari dinkes itu sebenarnya masa kadaluwarsa dua tahun, tapi dianjurkan satu tahun pemakaian,” tegas Gus Barra ditemui di mapolres kemarin (3/5).

Dia menuturkan akibat dari peraturan Kemenkes yang menyebutkan masa pemakaian hanya berlaku satu tahun, jalan tengahnya lebih baik alat tersebut dikembalikan ke rekanan untuk diganti yang baru. Beruntung, pihak rekanan juga menyanggupi itu. ”Itu kan anjuran saja, kalau sudah satu tahun ndak dipakai. Tapi, pilih kembalikan saja,” jelasnya.

Gus Barra memastikan agar masyarakat tak khawatir dengan kasus ini. Sebab, penggunaan alat rapid antibodi yang kedaluwarsa itu harusnya bisa digunakan dua tahun. Sehingga, masih aman digunakan. Dia menyatakan sejauh ini untuk antisipasi keamanan Lebaran yang menggunakan alat tersebut bakal diawasi lebih ketat lagi.

”Kita support apa yang menjadi program Forkopimda ini, kita penuhi semuanya. Sedangkan, untuk kepala dinas terkait (dinkes) Insya Allah sehabis ini bakal saya tanyakan langsung langkah-langkahnya seperti apa,” tandasnya. (oce)

 

 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Penukaran rapid test kedaluwarsa oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto nyatanya belum menyentuh setiap titik fasilitas kesehatan (faskes). Meski dinkes mengklaim telah menukar keseluruhan rapid merek VivaDiag itu dengan yang baru pada Sabtu (1/5) sore lalu.

Hal itu dilontarkan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinkes Kabupaten Mojokerto Nanda Hasan Solihin. Dirinya menyebutkan seluruh rapid yang kedaluwarsa hari ini sudah diganti.

Keseluruhannya sudah sesuai dengan jumlah dan merek yang didata oleh dinkes dari 27 puskesmas dan UPT Labkesda Kabupaten Mojokerto. ”Sudah sesuai kok sama yang 8.911 itu jumlahnya, mereknya juga sama. Sudah ditukar Sabtu (1/5) sore,” jelasnya kemarin (3/5).

Kendati demikian, hal itu berbanding terbalik dengan yang ditemukan oleh Jawa Pos Radar Mojokerto di gudang farmasi UPT Labkesda Kabupaten Mojokerto, di Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar kemarin (3/5).

Masih didapati sebanyak 720 alat uji rapid antibodi dengan merek VivaDiag terbungkus rapi di dalam boks berlapis plastik bening. Di kemasan tersebut tertera tanggal kadaluwarsa yang memiliki waktu expired yang sama dengan alat deteksi yang sudah diretur. Yakni, tanggal 4 Mei 2021 atau hari ini.

Tak hanya itu, dalam  boks tersebut juga tertera keterangan yang menyebutkan bahwa boks tersebut berisi sebanyak 18 dus. ”Itu sisa pengadaan Desember lalu,” beber sumber terpercaya Jawa Pos Radar Mojokerto. Selain merk VivaDiag, Jawa Pos Radar Mojokerto juga mendapati empat kardus rapid antibodi jenis Acro Biotech. Namun, dengan masa kedaluwarsa yang berbeda yakni Oktober 2022.

Baca Juga :  Tahun 2019, Pemkab Mojokerto Manjakan Objek Wisata
- Advertisement -

Sumber terpercaya ini menyebutkan, bahwa memang alat tersebut merupakan pengadaan yang digunakan selama pilkada tahun lalu. Awalnya jumlah rapid yang di-dropping kurang lebih ada 20 ribu. Namun, semenjak adanya pemberlakuan rapid antigen pada Januari lalu, akhirnya kebutuhan stok rapid antibodi tergeser.

Sehingga, terjadinya penumpukan stok dan jarang digunakan. ”Akhirnya baru dibagikan ke puskesmas Februari kemarin, untuk pakai tracing atau periksa ibu hamil,” sebutnya. Kendati demikian, dia tak mengetahui pasti penyebab tak diangkutnya rapid yang sudah kadaluwarsa itu.

Menurutnya, dinkes sejatinya sudah mengetahui bahwa di Labkesda sendiri juga masih ada stok yang belum diangkut agar bisa diretur dengan yang baru. Namun, kenyataannya hingga kemarin stok yang kadaluwarsa itu masih tergeletak dengan rapi di gudang farmasi.

Sementara itu, Wakil Bupati Mojokerto Muhammad Albarra alias Gus Barra angkat  bicara menanggapi pengadaan rapid antibodi yang diretur Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. Alat deteksi tersebut diretur lantaran memasuki masa kedaluwarsa.

Baca Juga :  Kecukupan Beras saat PPKM Darurat

Padahal, sedianya alat-alat tersebut bakal digunakan untuk pengujian selama penyekatan Lebaran nanti. ”Keterangan dari dinkes itu sebenarnya masa kadaluwarsa dua tahun, tapi dianjurkan satu tahun pemakaian,” tegas Gus Barra ditemui di mapolres kemarin (3/5).

Dia menuturkan akibat dari peraturan Kemenkes yang menyebutkan masa pemakaian hanya berlaku satu tahun, jalan tengahnya lebih baik alat tersebut dikembalikan ke rekanan untuk diganti yang baru. Beruntung, pihak rekanan juga menyanggupi itu. ”Itu kan anjuran saja, kalau sudah satu tahun ndak dipakai. Tapi, pilih kembalikan saja,” jelasnya.

Gus Barra memastikan agar masyarakat tak khawatir dengan kasus ini. Sebab, penggunaan alat rapid antibodi yang kedaluwarsa itu harusnya bisa digunakan dua tahun. Sehingga, masih aman digunakan. Dia menyatakan sejauh ini untuk antisipasi keamanan Lebaran yang menggunakan alat tersebut bakal diawasi lebih ketat lagi.

”Kita support apa yang menjadi program Forkopimda ini, kita penuhi semuanya. Sedangkan, untuk kepala dinas terkait (dinkes) Insya Allah sehabis ini bakal saya tanyakan langsung langkah-langkahnya seperti apa,” tandasnya. (oce)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/