alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Yakin Tuhan Bersama Orang yang Benar

Sk.

Dia mencoba untuk tidak bergantung kepada kedua orang tuanya. Sayangnya, langkah itu justru membuatnya terjerumus ke jalan tidak benar. Di usinyanya yang masih labil itu, dia mulai mulai berkumpul dengan teman-teman seumuranya yang mempunyai perilaku menyimpang.

Mulai dari tauran hingga minum-minuman keras. Bahkan jiwa kenakalan remajanya itu semakin hari semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, seiring berjalannya waktu, pria berusia 51 tahun ini mulai ikut mengedarkan sabu-sabu hingga menjadi bandar narkoba.

’’Kalau ingat masa itu, tak terbayangkan di benak saya. Ya mungkin karena waktu itu pikiran masih labil. Tapi saya tidak sampai mencuri atau hal-hal yang merugikan orang lain,’’ sesalnya.

Hasil dari usaha haramnya itu pun dibuatnya untuk berfoya-foya dan tak pernah diperlihatkan sama orang tuanya. Bahkan dirinya terus berusaha menyembunyikan perbuatannya itu supaya tidak sampai diketahui keluarganya. Utamanya kedua orang tuanya yang sangat menekannya untuk tidak sampai berbuat tindakan yang menyimpang.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1997, dia harus berurusan dengan pihak kepolisian lantaran tetap melakukan tindakan yang menyimpang tersebut. Nah, mulai di situlah orang tuanya tau bahwa anaknya selama ini telah melanggar perintahnya. Bagaimana tidak, saat berada di penjara itu, kedua orang tuanya datang menemuinya.

Baca Juga :  Dua Pejabat Didrop Dari Luar Kota

’’Orang tua saya kaget dan dan langsung menangis saat melihat saya berada di ruang tahanan itu,’’ tuturnya. Mulai saat itu hatinya mulai tersentuh dan merasa menyesal karena telah menghianati dan merusak nama baik kedua orang tuanya. Sehingga, dia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Keputusannya untuk berubah itu bukan tanpa tantangan. Dirinya diancam akan di bunuh oleh beberapa orang jika meninggalkan bisnis haram tersebut. Namun, ancaman itu tak membuatnya takut. Sebab dia yakin bahwa Tuhan bersama orang yang benar.

’’Setelah tiga bulan mendekam di penjara. Akhirnya saya keluar,’’ terangnya. Usai menjalani kehidupan di dalam penjara itu, dia mulai membuka lembaran baru dengan membuka usaha pengiriman jasa angkutan.

Namun, usahanya itu tak bertahan lama. Sebab, banyak orang yang tidak membayar jasanya tersebut hingga hampir mengalami kerugian. ’’Meskipun tidak dibayar itu saya ikhlas. Mungkin ini balasan bagi saya,’’ katanya.

Baca Juga :  Pembangunan Dua Puskesmas Percontohan Rampung

Usahanya itu pun ditinggalkan dan membuka usaha baru. Bersama istrinya, dia membuka usaha persepatuan. Semakin hari usahanya itu membuahkan hasil yang lumayan cukup untuk kehidupan sehari. Bahkan, bisa lebih.

Kehidupan rumah tangganya pun selalu diwarnai kebahagiaan. Rezeki mulai berdatangan dari arah yang tak disangka-sangka hingga mengantarkannya ke Masjidilharam melaksanakan ibadah umrah pada tahun 2014. ’’Waktu di Baitullah itu saya berdoa kepada Allah. Semoga selalu bisa berguna bagi sesama,’’ katanya.

Selama ini dia memang sudah bergabung menjadi relawan. Namun, setelah umrah, dia diberikan kesempatan membantu lebih banyak lagi untuk sesama. Tak hanya di Mojokerto.

Namun, bisa sampai ke luar pulau Jawa. Misalnya, membantu masyarakat yang tengah dilanda bencana. ’’Sampai saat ini saya masih aktif melakukan bakti sosial,’’ tandasnya. (hin/abi)

Sk.

Dia mencoba untuk tidak bergantung kepada kedua orang tuanya. Sayangnya, langkah itu justru membuatnya terjerumus ke jalan tidak benar. Di usinyanya yang masih labil itu, dia mulai mulai berkumpul dengan teman-teman seumuranya yang mempunyai perilaku menyimpang.

Mulai dari tauran hingga minum-minuman keras. Bahkan jiwa kenakalan remajanya itu semakin hari semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, seiring berjalannya waktu, pria berusia 51 tahun ini mulai ikut mengedarkan sabu-sabu hingga menjadi bandar narkoba.

’’Kalau ingat masa itu, tak terbayangkan di benak saya. Ya mungkin karena waktu itu pikiran masih labil. Tapi saya tidak sampai mencuri atau hal-hal yang merugikan orang lain,’’ sesalnya.

Hasil dari usaha haramnya itu pun dibuatnya untuk berfoya-foya dan tak pernah diperlihatkan sama orang tuanya. Bahkan dirinya terus berusaha menyembunyikan perbuatannya itu supaya tidak sampai diketahui keluarganya. Utamanya kedua orang tuanya yang sangat menekannya untuk tidak sampai berbuat tindakan yang menyimpang.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1997, dia harus berurusan dengan pihak kepolisian lantaran tetap melakukan tindakan yang menyimpang tersebut. Nah, mulai di situlah orang tuanya tau bahwa anaknya selama ini telah melanggar perintahnya. Bagaimana tidak, saat berada di penjara itu, kedua orang tuanya datang menemuinya.

Baca Juga :  Pembangunan Dua Puskesmas Percontohan Rampung
- Advertisement -

’’Orang tua saya kaget dan dan langsung menangis saat melihat saya berada di ruang tahanan itu,’’ tuturnya. Mulai saat itu hatinya mulai tersentuh dan merasa menyesal karena telah menghianati dan merusak nama baik kedua orang tuanya. Sehingga, dia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Keputusannya untuk berubah itu bukan tanpa tantangan. Dirinya diancam akan di bunuh oleh beberapa orang jika meninggalkan bisnis haram tersebut. Namun, ancaman itu tak membuatnya takut. Sebab dia yakin bahwa Tuhan bersama orang yang benar.

’’Setelah tiga bulan mendekam di penjara. Akhirnya saya keluar,’’ terangnya. Usai menjalani kehidupan di dalam penjara itu, dia mulai membuka lembaran baru dengan membuka usaha pengiriman jasa angkutan.

Namun, usahanya itu tak bertahan lama. Sebab, banyak orang yang tidak membayar jasanya tersebut hingga hampir mengalami kerugian. ’’Meskipun tidak dibayar itu saya ikhlas. Mungkin ini balasan bagi saya,’’ katanya.

Baca Juga :  Mahasiswi asal Kota Mojokerto Diisolasi

Usahanya itu pun ditinggalkan dan membuka usaha baru. Bersama istrinya, dia membuka usaha persepatuan. Semakin hari usahanya itu membuahkan hasil yang lumayan cukup untuk kehidupan sehari. Bahkan, bisa lebih.

Kehidupan rumah tangganya pun selalu diwarnai kebahagiaan. Rezeki mulai berdatangan dari arah yang tak disangka-sangka hingga mengantarkannya ke Masjidilharam melaksanakan ibadah umrah pada tahun 2014. ’’Waktu di Baitullah itu saya berdoa kepada Allah. Semoga selalu bisa berguna bagi sesama,’’ katanya.

Selama ini dia memang sudah bergabung menjadi relawan. Namun, setelah umrah, dia diberikan kesempatan membantu lebih banyak lagi untuk sesama. Tak hanya di Mojokerto.

Namun, bisa sampai ke luar pulau Jawa. Misalnya, membantu masyarakat yang tengah dilanda bencana. ’’Sampai saat ini saya masih aktif melakukan bakti sosial,’’ tandasnya. (hin/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/