alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Kontrak Kerja Diputus, Buruh Dirikan Tenda

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Aksi unjuk rasa terjadi di depan pabrik PT Triyuda Cipta Sentosa, Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto Rabu (3/3). Massa berjumlah sekitar 80 orang itu menuntut perusahaan memperkerjakan kembali 14 buruh yang diberhentikan sejak Kamis (25/2) lalu. Mereka menganggap perusahaan telah memutus kontrak secara sepihak. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, massa aksi mendirikan tenda di depan pagar pabrik tersebut.

Kusnul Fasikin, penanggung jawab aksi menyebutkan, aksi yang diprakarsai federasi Skobar (Serikat Buruh Bersama Rakyat Bergerak) menyebutkan, sebanyak 14 buruh diberhentikan secara bertahap. Menurutnya, pemberhentian sepihak itu telah mengecewakan para buruh yang rata-rata menjadi karyawan sejak 2016 itu. Apalagi, mereka yang dikeluarkan merupakan warga setempat.

”Alasannya kontrak. Padahal, kalau ngomong kontrak berarti mengerucut ke undang-undang. Sementara, selama ini tidak pernah ngomong itu. Pokoknya arek-arek bisa kerja begitu saja,” ungkapnya. Dia menyatakan, selama ini mereka bekerja tanpa ikatan kontrak hitam di atas putih. Saat itu warga hanya mengirim surat permohonan kerja.

Baca Juga :  Tak Serius, Rekanan Harus Di-Blacklist

Namun demikian, empat bulan lalu, mereka diminta untuk menandatangi kontrak kerja. Dalam kontak itu, buruh menandatangani batas masa kerja di pabrik pembuatan pipa stenlis dan paralon tersebut. ”Isi kontrak kerja itu adalah masa kerja selama 3 bulan. Padahal, mereka sudah bekerja lebih dari empat tahun,” ujarnya. ”Ya, buruh nurut saja sama perintah. Lha kok sudah nurut malah diputus kerjanya,” tambahnya.

Dalam kontrak itu, menutunya, tidak disebutkan opsi perpanjangan masa kerja. Kontrak itu dirasanya cacat karena sistem kontrak hanya bisa diterapkan pada pekerjaan yang selesai dalam satu waktu. Sementara produksi di pabrik ini berjalan terus-menerus. Dalam aksi yang diikuti sekitar 80 massa itu akhirnya dilakukan mediasi. Perwakilan massa bersama pamong setempat bernegosiasi dengan pihak perusahaan.

Baca Juga :  Wali Kota Siapkan Proyek Pengganti Jalinbar

Hasilnya, lanjut dia, pihak perusahaan menyanggupi tuntutan massa untuk memperkerjakan kembali buruh yang dipercat. ”Intinya akan diperkerjakan lagi. Deadline kami Senin depan. Kalau tidak ada kepastian kita akan aksi lagi hari Rabu,” imbuhnya. Aksi unjuk rasa ini juga mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Kapolsek Jetis Kompol Suhariyono menyatakan, aksi unjuk rasa yang berlangsung sekitar pukul 09.00 hingga pukul 13.00 itu. Sebanyak sekitar 50 personel gabungan dari Polres Mojokerto Kota dan Polsek Jetis bersiaga di lokasi.

Massa aksi yang menuntun perusahaan melakukan aksinya dengan tertib. Dia menjelaskan, aksi ini juga berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan. ”Kami juga telah mewanti-wanti pandemi ini untuk prokes dan jaga jarak. Sudah rapi dan teratur,” ungkapnya. (adi)

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Aksi unjuk rasa terjadi di depan pabrik PT Triyuda Cipta Sentosa, Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto Rabu (3/3). Massa berjumlah sekitar 80 orang itu menuntut perusahaan memperkerjakan kembali 14 buruh yang diberhentikan sejak Kamis (25/2) lalu. Mereka menganggap perusahaan telah memutus kontrak secara sepihak. Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, massa aksi mendirikan tenda di depan pagar pabrik tersebut.

Kusnul Fasikin, penanggung jawab aksi menyebutkan, aksi yang diprakarsai federasi Skobar (Serikat Buruh Bersama Rakyat Bergerak) menyebutkan, sebanyak 14 buruh diberhentikan secara bertahap. Menurutnya, pemberhentian sepihak itu telah mengecewakan para buruh yang rata-rata menjadi karyawan sejak 2016 itu. Apalagi, mereka yang dikeluarkan merupakan warga setempat.

”Alasannya kontrak. Padahal, kalau ngomong kontrak berarti mengerucut ke undang-undang. Sementara, selama ini tidak pernah ngomong itu. Pokoknya arek-arek bisa kerja begitu saja,” ungkapnya. Dia menyatakan, selama ini mereka bekerja tanpa ikatan kontrak hitam di atas putih. Saat itu warga hanya mengirim surat permohonan kerja.

Baca Juga :  Tak Serius, Rekanan Harus Di-Blacklist

Namun demikian, empat bulan lalu, mereka diminta untuk menandatangi kontrak kerja. Dalam kontak itu, buruh menandatangani batas masa kerja di pabrik pembuatan pipa stenlis dan paralon tersebut. ”Isi kontrak kerja itu adalah masa kerja selama 3 bulan. Padahal, mereka sudah bekerja lebih dari empat tahun,” ujarnya. ”Ya, buruh nurut saja sama perintah. Lha kok sudah nurut malah diputus kerjanya,” tambahnya.

Dalam kontrak itu, menutunya, tidak disebutkan opsi perpanjangan masa kerja. Kontrak itu dirasanya cacat karena sistem kontrak hanya bisa diterapkan pada pekerjaan yang selesai dalam satu waktu. Sementara produksi di pabrik ini berjalan terus-menerus. Dalam aksi yang diikuti sekitar 80 massa itu akhirnya dilakukan mediasi. Perwakilan massa bersama pamong setempat bernegosiasi dengan pihak perusahaan.

Baca Juga :  Terbukti Tak Korupsi, Status PNS Segera Dikembalikan

Hasilnya, lanjut dia, pihak perusahaan menyanggupi tuntutan massa untuk memperkerjakan kembali buruh yang dipercat. ”Intinya akan diperkerjakan lagi. Deadline kami Senin depan. Kalau tidak ada kepastian kita akan aksi lagi hari Rabu,” imbuhnya. Aksi unjuk rasa ini juga mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Kapolsek Jetis Kompol Suhariyono menyatakan, aksi unjuk rasa yang berlangsung sekitar pukul 09.00 hingga pukul 13.00 itu. Sebanyak sekitar 50 personel gabungan dari Polres Mojokerto Kota dan Polsek Jetis bersiaga di lokasi.

- Advertisement -

Massa aksi yang menuntun perusahaan melakukan aksinya dengan tertib. Dia menjelaskan, aksi ini juga berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan. ”Kami juga telah mewanti-wanti pandemi ini untuk prokes dan jaga jarak. Sudah rapi dan teratur,” ungkapnya. (adi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/