alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Target Serapan Bulog Tahun 2019 Turun 30 Persen

MOJOKERTO – Upaya Bulog Subdivre Surabaya Selatan dalam menyerap beras sebagai bahan pangan utama masyarakat di tahun 2019 ini rupanya tak seberat tahun sebelumnya.

Bagaimana tidak, Bulog pusat rupanya hanya membebani jumlah serapan di kawasan Mojokerto dan Jombang ini tak kurang dari 35 ribu ton saja di sepanjang tahun 2019. Jumlah tersebut turun 30 persen atau 14,5 ribu ton dari tahun sebelumnya.

Kabulog Subdivre Surabaya Selatan Kurniawan, menegaskan, sesuai instruksi pusat, target serapan tahun ini tak lebih banyak dari tahun sebelumnya. Yakni, hanya 33 ribu ton saja di empat kali masa panen selama setahun.

Artinya, target tahun ini tak lebih berat dari tahun sebelumnya yang mencapai 47,5 ribu ton per tahun. ’’Ya, semuanya turun. Sampai saat ini juga belum ada lahan pertanian yang bisa kita serap,’’ tuturnya kemarin.

Baca Juga :  Kobaran Api Hanguskan Kompleks PKL Benpas Kota Mojokerto

Padahal, di tahun 2018 lalu, jumlah beras serapan di Jombang dan Mojokerto tak dapat dipenuhi sesuai target yang dibenankan. Yakni, hanya 26 ribu ton saja untuk satu tahun. Kondisi ini jelas menjadi kekhawatiran tersendiri, mengingat track record serapan dari tahun ke tahun selalu gagal memenuhi target. Menjawab pertanyaan itu, Wawan sapaan Kurniawan mengaku optimis tahun ini masih bisa tercapai.

Sebab, sejumlah daerah yang dinyatakan sebagai lumbung padi kini sudah memasuki masa panen. Sehingga bisa langsung dilakukan pembelian sesuai Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang HPP (harga pembelian pemerintah). Yakni, Rp 3.750 untuk harga gabah kering panen (GKP), Rp 4.600 untuk harga gabah kering giling (GKG), serta Rp 7.300 per kilogram untuk pembelian beras di gudang Perum Bulog.

Baca Juga :  Kunjungi Medan, Kota dengan Peserta Program Kartu Prakerja Terbanyak

’’Belum ada aturan baru, kita masih mengacu pada Inpres Nomor 5 Tahun 2015. Sementara ini akan kita rapatkan untuk kawasan pertanian yang akan dilakukan pembelian, baik berupa gabah maupun beras,’’ tambahnya. Untuk jumlah cadangan atau pasokan beras di gudang, Wawan juga tak perlu khawatir. Sebab, stoknya masih lumayan dan siap untuk didistribusikan sewaktu-waktu jika terdapat permintaan.

Baik permintaan untuk korban bencana maupun operasi pasar (OP) melalui instruksi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah setempat. ’’Kalau ada permintaan pasti akan langsung kita distribusikan. Sekarang belum ada permintaan lagi,’’ pungkas Wawan. 

 

MOJOKERTO – Upaya Bulog Subdivre Surabaya Selatan dalam menyerap beras sebagai bahan pangan utama masyarakat di tahun 2019 ini rupanya tak seberat tahun sebelumnya.

Bagaimana tidak, Bulog pusat rupanya hanya membebani jumlah serapan di kawasan Mojokerto dan Jombang ini tak kurang dari 35 ribu ton saja di sepanjang tahun 2019. Jumlah tersebut turun 30 persen atau 14,5 ribu ton dari tahun sebelumnya.

Kabulog Subdivre Surabaya Selatan Kurniawan, menegaskan, sesuai instruksi pusat, target serapan tahun ini tak lebih banyak dari tahun sebelumnya. Yakni, hanya 33 ribu ton saja di empat kali masa panen selama setahun.

Artinya, target tahun ini tak lebih berat dari tahun sebelumnya yang mencapai 47,5 ribu ton per tahun. ’’Ya, semuanya turun. Sampai saat ini juga belum ada lahan pertanian yang bisa kita serap,’’ tuturnya kemarin.

Baca Juga :  Disperta Belum Terima Pasokan Obat

Padahal, di tahun 2018 lalu, jumlah beras serapan di Jombang dan Mojokerto tak dapat dipenuhi sesuai target yang dibenankan. Yakni, hanya 26 ribu ton saja untuk satu tahun. Kondisi ini jelas menjadi kekhawatiran tersendiri, mengingat track record serapan dari tahun ke tahun selalu gagal memenuhi target. Menjawab pertanyaan itu, Wawan sapaan Kurniawan mengaku optimis tahun ini masih bisa tercapai.

Sebab, sejumlah daerah yang dinyatakan sebagai lumbung padi kini sudah memasuki masa panen. Sehingga bisa langsung dilakukan pembelian sesuai Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang HPP (harga pembelian pemerintah). Yakni, Rp 3.750 untuk harga gabah kering panen (GKP), Rp 4.600 untuk harga gabah kering giling (GKG), serta Rp 7.300 per kilogram untuk pembelian beras di gudang Perum Bulog.

Baca Juga :  Akhir Pekan, Volume Kendaraan Naik
- Advertisement -

’’Belum ada aturan baru, kita masih mengacu pada Inpres Nomor 5 Tahun 2015. Sementara ini akan kita rapatkan untuk kawasan pertanian yang akan dilakukan pembelian, baik berupa gabah maupun beras,’’ tambahnya. Untuk jumlah cadangan atau pasokan beras di gudang, Wawan juga tak perlu khawatir. Sebab, stoknya masih lumayan dan siap untuk didistribusikan sewaktu-waktu jika terdapat permintaan.

Baik permintaan untuk korban bencana maupun operasi pasar (OP) melalui instruksi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah setempat. ’’Kalau ada permintaan pasti akan langsung kita distribusikan. Sekarang belum ada permintaan lagi,’’ pungkas Wawan. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/