alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Dari, Oleh, dan Untuk Kesejahteraan Bersama

KELOMPOK Ternak Lembu Makmur di Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong membawa kemakmuran bagi anggotanya. Program peternakan yang dikembangkan secara komunal berhasil mendongkrak perekonomian warga. Orientasinya adalah dari, oleh, dan untuk kesejahteraan bersama.

Saat ini, terdapat sekitar 75 warga yang tergabung dalam kelompok ternak. Kandang komunal yang berada di tanah ganjaran tersebut menjadi tempat bagi puluhan sapi milik anggota. ’’Bergantung dari kemampuan anggota saja, mau merawat berapa,’’ terang Juwari, Ketua Kelompok Ternak Lembu Makmur kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Ia mengatakan, kelompok ini berdiri sejak 11 tahun silam. Tepatnya ketika Pemerintah Desa Gunungsari mendapat bantuan program Insentif Penyelamatan Betina Produktif (IPBP) dari pemerintah pusat pada tahun 2011. Amanah ini benar-benar dijalankan hingga akhirnya membawa kesejahteraan.

Mulanya, saat itu terdapat 65 ekor sapi yang didatangkan. Indukan sapi ini dirawat bersama-sama di kandang komunal hingga menghasilkan keturunan. Peternak langsung memetik hasil setelah sapi melahirkan. Anakan sapi itu langsung menjadi milik peternak. Peternak tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Bahkan, perlengkapan dan kebutuhan untuk merawat sapi telah disediakan kelompok. Mereka hanya perlu rutin memberi makan pagi hingga sore. Untuk perawatan dan sebagainya, ditanggung kelompok.

Baca Juga :  Vila di Kawasan Pacet Rawan Dijadikan Tempat Prostitusi dan Pesta Sabu

Juwari menyebut, sapi yang dijual biasanya berusia minimal enam bulan. Hasil penjualan sapi dibagi antara anggota dan kelompok. ’’75 persen untuk anggota dan 25 persennya untuk kelompok,’’ ujarnya. Misalnya, jika satu ekor sapi laku Rp 10 juta, Rp 7,5 juta menjadi hak peternak, sedangkan Rp 2,5 juta masuk ke kas kelompok ternak.

Dari uang kas itulah kelompok ini terus bergerak dan hidup. Uang itu menjadi sumber biaya operasional kelompok dan kandang komunal. Mulai dari membeli perlengkapan ternak seperti sabit, cangkul, sepatu boots. Juga, biaya perawatan sapi seperti penyuntikan sapi. ’’Termasuk dipakai untuk membersihkan kandang, listrik, air juga, macam-macam,’’ jlentreh-nya.

Hingga saat ini, Juwari memperkirakan lebih dari 300 ekor sapi telah terjual. Keberadaan kelompok ternak ini dirasakan betul oleh para anggotannya. Salah satunya Sulian. Dia bergabung sejak pertama kali kelompok berdiri. Menurutnya, dengan menjadi peternak, bisa menunjang perekonomiannya. Pasalnya, penghasilannya sehari-harinya sebagai petani tidak menentu.

Baca Juga :  Luruk Balai Desa, Warga Protes Pencaplokan Tanah Negara

’’Kalau cuma mengandakan tani itu kan sulit ya. Bisa saja sewaktu-waktu gagal panen. Kalau ada sapi gini kan bisa ada cadangan,’’ ujarnya. Menurutnya, sapi jantan dengan usia enam bulan saat ini bisa laku Rp 12 juta. Dari hasil tersebut, Sulian menerima uang Rp 9 juta. Saat ini, ia merawat sebanyak lima ekor sapi. Masa penjualan sapi bergantung pada kebutuhan setiap anggota. (adi/fen)

KELOMPOK Ternak Lembu Makmur di Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong membawa kemakmuran bagi anggotanya. Program peternakan yang dikembangkan secara komunal berhasil mendongkrak perekonomian warga. Orientasinya adalah dari, oleh, dan untuk kesejahteraan bersama.

Saat ini, terdapat sekitar 75 warga yang tergabung dalam kelompok ternak. Kandang komunal yang berada di tanah ganjaran tersebut menjadi tempat bagi puluhan sapi milik anggota. ’’Bergantung dari kemampuan anggota saja, mau merawat berapa,’’ terang Juwari, Ketua Kelompok Ternak Lembu Makmur kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Ia mengatakan, kelompok ini berdiri sejak 11 tahun silam. Tepatnya ketika Pemerintah Desa Gunungsari mendapat bantuan program Insentif Penyelamatan Betina Produktif (IPBP) dari pemerintah pusat pada tahun 2011. Amanah ini benar-benar dijalankan hingga akhirnya membawa kesejahteraan.

Mulanya, saat itu terdapat 65 ekor sapi yang didatangkan. Indukan sapi ini dirawat bersama-sama di kandang komunal hingga menghasilkan keturunan. Peternak langsung memetik hasil setelah sapi melahirkan. Anakan sapi itu langsung menjadi milik peternak. Peternak tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Bahkan, perlengkapan dan kebutuhan untuk merawat sapi telah disediakan kelompok. Mereka hanya perlu rutin memberi makan pagi hingga sore. Untuk perawatan dan sebagainya, ditanggung kelompok.

Baca Juga :  Dua Pasien Mulai Membaik

Juwari menyebut, sapi yang dijual biasanya berusia minimal enam bulan. Hasil penjualan sapi dibagi antara anggota dan kelompok. ’’75 persen untuk anggota dan 25 persennya untuk kelompok,’’ ujarnya. Misalnya, jika satu ekor sapi laku Rp 10 juta, Rp 7,5 juta menjadi hak peternak, sedangkan Rp 2,5 juta masuk ke kas kelompok ternak.

Dari uang kas itulah kelompok ini terus bergerak dan hidup. Uang itu menjadi sumber biaya operasional kelompok dan kandang komunal. Mulai dari membeli perlengkapan ternak seperti sabit, cangkul, sepatu boots. Juga, biaya perawatan sapi seperti penyuntikan sapi. ’’Termasuk dipakai untuk membersihkan kandang, listrik, air juga, macam-macam,’’ jlentreh-nya.

- Advertisement -

Hingga saat ini, Juwari memperkirakan lebih dari 300 ekor sapi telah terjual. Keberadaan kelompok ternak ini dirasakan betul oleh para anggotannya. Salah satunya Sulian. Dia bergabung sejak pertama kali kelompok berdiri. Menurutnya, dengan menjadi peternak, bisa menunjang perekonomiannya. Pasalnya, penghasilannya sehari-harinya sebagai petani tidak menentu.

Baca Juga :  Rumah Baru Dibersihkan, Luapan Kali Lamong Kembali Merendam

’’Kalau cuma mengandakan tani itu kan sulit ya. Bisa saja sewaktu-waktu gagal panen. Kalau ada sapi gini kan bisa ada cadangan,’’ ujarnya. Menurutnya, sapi jantan dengan usia enam bulan saat ini bisa laku Rp 12 juta. Dari hasil tersebut, Sulian menerima uang Rp 9 juta. Saat ini, ia merawat sebanyak lima ekor sapi. Masa penjualan sapi bergantung pada kebutuhan setiap anggota. (adi/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/