alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Banjir Sooko Kian Parah

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Banjir yang menerjang Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, semakin parah. Air yang merendam rumah dan sawah penduduk kian tinggi. Bahkan, luapan air Sungai Afvur Jombok dan Watudakon itu tingginya mencapai dua kali lipat dibanding hari sebelumnya.

Pantauan Radar Mojokerto, tinggi genangan air Minggu (3/1) siang sekitar 60 sentimeter atau setara lutut orang dewasa. Warga mulai resah lantaran genangan air tak kunjung surut. Sebab, dampaknya mulai dirasakan warga. Di antaranya, aktivitas terhambat, timbulnya panyakit kulit, hingga munculnya ular di permukiman warga.

Widayati, 45, warga RT 1 RW 3 Dusun Bekucuk, menjelaskan, kini seluruh bagian rumahnya sudah tergenang. Air yang menggenangi permukiman warga mengalir dari selatan. Tinggi genangan air pun berbeda-beda di sejumlah titik.

’’Dari halaman sampai dapur sudah kerendam semua. Ini mau ada pengajian (orang meninggal) saja harus bikin terop di jalan,’’ keluhnya. Pasalnya, posisi jalan desa lebih tinggi ketimbang rumah warga. Tingginya bervariasi, mulai dari 40 sentimeter hingga satu meter.

Baca Juga :  Kejari Pelototi Megaproyek, Ingatkan Rekanan Tak Main-Main

Tak hanya itu, air yang mulai menggenangi rumah warga sejak Jumat (1/1) itu mulai menyebabkan gatal-gatal pada kulit. Apalagi, anak-anak kerap memanfaatkan momen banjir dengan bermain air di sejumlah lokasi. Di antaranya, sekolah dan balai desa. ’’Ini kaki sudah mulai rangen, banyak yang sambat gatal-gatal,’’ ungkapnya.

Warga khawatir genangan air bakal semakin meningkat lantaran Minggu  (3/1) petang langit tengah mendung. Pasalnya, jika hujan kembali turun, ketingggian air akan semakin meningkat. ’’Kalau semakin tinggi kami tambah gak bisa apa-apa,’’ tambahnya. Warga berharap agar pihak terkait dapat segera menindaklanjuti banjir luapan sungai tersebut.

Sementara itu, salah satu personel Tagana Kabupaten Mojokerto Ashari menerangkan, pihaknya turut melakukan asesmen atas adanya bencana tersebut. Menurutnya, tinggi genangan air semakin meningkat sejak kamarin (3/1) pagi. Setidaknya, sekitar 70 rumah tergenang air luapan sungai tersebut. ’’Untuk mendirikan dapur umum (DU), kami harus melakukan koordinasi sesuai prosedur. Jadi kami tidak berani membuka DU kalau tidak ada perintah dari pihak desa,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Waktu Mutasi Makin Tipis, Kini Tinggal Menanti Nyali Pungkasiadi

Dikonfirmasi, Kepala Desa Tempuran Slamet menjelaskan, pihak desa masih fokus pengangkatan sampah di sekitaran Dam Sipon. ’’Tumpukan sampah yang ada di Jembatan Prabon sudah diangkat. Sekarang sisa-sisanya itu mengalir ke penyaring sampah Dam Sipon,’’ ujarnya.

Slamet menerangkan, selama tiga hari terakhir pihaknya melakukan kerja bakti mengangkat sampah yang diprediksi setebal dua meter. Menurutnya, untuk mengangkat semua sampah tersebut dibutuhkan alat berat agar dapat segera teratasi. Pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait bencana luapan air sungai tersebut. ’’Kalau diangkat manual (tenaga manusia) sudah gak ngatasi. Jadi ini tadi kami sudah berkoordinasi dengan pihak Perum Jasa Tirta  untuk segera membantu mendatangkan alat berat,’’ terangnya.

Sebelumnya, pihaknya juga dibantu backhoe milik proyek pembangunan penyaring sampah Dam Sipon. Menurutnya, kian meningkatnya tinggi genangan air itu lantaran masih ada sampah yang menghambat aliran air di penyaring sampah Dam Sipon. ’’Apalagi air kiriman dari Jombang tambah banyak. Mungkin juga karena pengaruh curah hujan ya,’’ tandas kades. (vad)

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Banjir yang menerjang Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, semakin parah. Air yang merendam rumah dan sawah penduduk kian tinggi. Bahkan, luapan air Sungai Afvur Jombok dan Watudakon itu tingginya mencapai dua kali lipat dibanding hari sebelumnya.

Pantauan Radar Mojokerto, tinggi genangan air Minggu (3/1) siang sekitar 60 sentimeter atau setara lutut orang dewasa. Warga mulai resah lantaran genangan air tak kunjung surut. Sebab, dampaknya mulai dirasakan warga. Di antaranya, aktivitas terhambat, timbulnya panyakit kulit, hingga munculnya ular di permukiman warga.

Widayati, 45, warga RT 1 RW 3 Dusun Bekucuk, menjelaskan, kini seluruh bagian rumahnya sudah tergenang. Air yang menggenangi permukiman warga mengalir dari selatan. Tinggi genangan air pun berbeda-beda di sejumlah titik.

’’Dari halaman sampai dapur sudah kerendam semua. Ini mau ada pengajian (orang meninggal) saja harus bikin terop di jalan,’’ keluhnya. Pasalnya, posisi jalan desa lebih tinggi ketimbang rumah warga. Tingginya bervariasi, mulai dari 40 sentimeter hingga satu meter.

Baca Juga :  Kejari Pelototi Megaproyek, Ingatkan Rekanan Tak Main-Main

Tak hanya itu, air yang mulai menggenangi rumah warga sejak Jumat (1/1) itu mulai menyebabkan gatal-gatal pada kulit. Apalagi, anak-anak kerap memanfaatkan momen banjir dengan bermain air di sejumlah lokasi. Di antaranya, sekolah dan balai desa. ’’Ini kaki sudah mulai rangen, banyak yang sambat gatal-gatal,’’ ungkapnya.

Warga khawatir genangan air bakal semakin meningkat lantaran Minggu  (3/1) petang langit tengah mendung. Pasalnya, jika hujan kembali turun, ketingggian air akan semakin meningkat. ’’Kalau semakin tinggi kami tambah gak bisa apa-apa,’’ tambahnya. Warga berharap agar pihak terkait dapat segera menindaklanjuti banjir luapan sungai tersebut.

- Advertisement -

Sementara itu, salah satu personel Tagana Kabupaten Mojokerto Ashari menerangkan, pihaknya turut melakukan asesmen atas adanya bencana tersebut. Menurutnya, tinggi genangan air semakin meningkat sejak kamarin (3/1) pagi. Setidaknya, sekitar 70 rumah tergenang air luapan sungai tersebut. ’’Untuk mendirikan dapur umum (DU), kami harus melakukan koordinasi sesuai prosedur. Jadi kami tidak berani membuka DU kalau tidak ada perintah dari pihak desa,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Riski Dihabisi Usai Memergoki Pelaku Curi HP

Dikonfirmasi, Kepala Desa Tempuran Slamet menjelaskan, pihak desa masih fokus pengangkatan sampah di sekitaran Dam Sipon. ’’Tumpukan sampah yang ada di Jembatan Prabon sudah diangkat. Sekarang sisa-sisanya itu mengalir ke penyaring sampah Dam Sipon,’’ ujarnya.

Slamet menerangkan, selama tiga hari terakhir pihaknya melakukan kerja bakti mengangkat sampah yang diprediksi setebal dua meter. Menurutnya, untuk mengangkat semua sampah tersebut dibutuhkan alat berat agar dapat segera teratasi. Pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait bencana luapan air sungai tersebut. ’’Kalau diangkat manual (tenaga manusia) sudah gak ngatasi. Jadi ini tadi kami sudah berkoordinasi dengan pihak Perum Jasa Tirta  untuk segera membantu mendatangkan alat berat,’’ terangnya.

Sebelumnya, pihaknya juga dibantu backhoe milik proyek pembangunan penyaring sampah Dam Sipon. Menurutnya, kian meningkatnya tinggi genangan air itu lantaran masih ada sampah yang menghambat aliran air di penyaring sampah Dam Sipon. ’’Apalagi air kiriman dari Jombang tambah banyak. Mungkin juga karena pengaruh curah hujan ya,’’ tandas kades. (vad)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/