alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Kabupaten Mojokerto Tetapkan Siaga Bencana

TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bencana masih membayangi Mojokerto. Kemarin, angin kencang menerjang. Kecepatan angin yang mencapai 40-50 kilometer per jam memorak-porandakan sejumlah rumah warga Dusun Kaweden, Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto M. Zaini, mengatakan, ancaman angin kencang tak bisa dipandang remeh. Untuk itu masyarakat dituntut meningkatkan kewaspadaan. ’’Sesuai analisa cuaca, potensi bencana cukup tinggi di beberapa bulan ke depan,’’ ungkapnya.

Seperti yang sudah terjadi kemarin sore di Kecamatan Trowulan. Ada sembilan bangunan porak-poranda dihantam angin kencang sekitar pukul 15.45. Antara lain, tujuh rumah, satu lumbung padi, dan poskamling.

Kerusakan tergolong sedang dialami rumah Jamani, Fidya, Tohari, dan Siswanto. Juga lumbung padi dan pos kamling. Untuk kerusakan parah menimpa rumah Sugiman dan M. Zaelan. ’’Rata-rata kerusakan pada bagian atap karena disapu angin,’’ tuturnya.

Meski tak sampai ada korban jiwa, hingga detik ini sejumlah pemilik rumah harus mengungsi ke rumah tetangga atau saudara. ’’Sebagai tanggap darurat, mereka yang terdampak sudah kami beri terpal,’’ ujarnya.

Tak hanya merusak bangunan. Angin kencang yang berlangsung sekitar dua menit juga membuat sejumlah pohon bertumbangan lantaran tak kuat menahan angin. Karena hujan juga sangat lebat, dilakukan pemadaman listrik. ’’Saat ini petugas di lapangan masih koordinasi dengan PLN karena sampai sekarang (tadi malam) masih padam,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Panglima TNI Pantau Tracing di Puskesmas Gayaman

Dari mitigasi yang dilakukan BPBD, ada delapan wilayah dari 18 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Mojokerto berpotensi adanya angin cepat hingga puting beliung. Dengan rincian, lima kecamatan di wilayah selatan. Meliputi, Bangsal, Gondang, Kutorejo, Mojosari, dan Pungging. Di utara Sungai Brantas, di Kecamatan Dawarblandong, Kemlagi, dan Jetis.

Pemetaan ini hasil kajian. Selain itu, sejumlah wilayah itu sudah pernah terjadi. ’’Namun, bukan berarti sejumlah wilayah bebas dari potensi bencana. Untuk itu, kewaspadaan harus selalu ditingkatkan,’’ katanya.

Sementara itu, potensi bencana yang cenderung tinggi di awal tahun ini membuat pemerintah Kabupaten Mojokerto meningkatkan status menjadi siaga darurat bencana. Baik banjir, Tanah longsor dan putting beliung. Status ini diberlakukan hingga empat bulan ke depan.

M. Zaini mengaskan, penetapan status siaga darurat bencana menyusul pemetaan BMKG pada bulan Januari hingga Pebruari 2020 hujan lebat disertai petir dan angin kencang bakal terjadi di Mojokerto. Penetapan status siaga bencana ini sesuai dengan surat Keputusan Bupati Mojokerto Nomor 188.45/1338/416-012/2019 tentang status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung. ’’Sesuai dengan keputusan itu, status siaga darurat bencana sampai empat bulan kedepan tepatnya 31 April 2020,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Merasa Orang Lain Lebih Membutuhkan

Tak urung, sebagai implementasinya, saat ini semua sumberdaya petugas gabungan. Terdiri BPBD, PUPR, Dinsos, Dinkes, DLH dan OPD lainnya TNI/POLRI disiagakan penuh sesuai posnya masing-masing. termasuk di dalamnya, juga unsur kecamatan dan pemerintah desa. ’’Selain dituntut untuk siaga, sarana kebencanaan juga disiapkan dan menuntut setiap pengelola wanawisata memiliki jalur evakuasi bila terjadi bencana,’’ paparnya.

Menurut Zaini terdapat lima kecamatan yang dipetakan masuk area rawan Bencana Longsor. Di antaranya, Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang, Jatirejo dan Ngoro. Sebab, ecara geografis terletak di wilayah hutan dan lereng Gunung. Disisi lain, kebakaran hutan capai 351,9 hektar yang terjadi di sepanjang 2019 juga menjadi salah satu pemicu. ’’Karena terbakarnya Vegetasi hutan menyebabkan akar pepohonan tidak lagi mampu menahan curah hujan,’’ tuturnya.

Tak hanya itu sejumlah faktor juag mempengaruhi terjadi bencanan banjir bandnag hingga tanah longsor. Meliputi, beralihnya tanaman hutan dari jati ke sengon, kondisi sungai sebagian besar tidak terawat, daerah serapan berkurang akibat alih fungsi lahan. Disisi lain, moral manusia yang suka buang sampah hingga pengambilan bebatuan di alirkan sungai yang tak terkendali juga meenjadi ancaman bagi masyarakat. ’’Termasuk ketegasan penerapan hukum yang masih lemah sehingga efek jera bagi perusak lingkungan merajalela juga menjadi penyebab adanya bencana,’’ tegasnya.

TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bencana masih membayangi Mojokerto. Kemarin, angin kencang menerjang. Kecepatan angin yang mencapai 40-50 kilometer per jam memorak-porandakan sejumlah rumah warga Dusun Kaweden, Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto M. Zaini, mengatakan, ancaman angin kencang tak bisa dipandang remeh. Untuk itu masyarakat dituntut meningkatkan kewaspadaan. ’’Sesuai analisa cuaca, potensi bencana cukup tinggi di beberapa bulan ke depan,’’ ungkapnya.

Seperti yang sudah terjadi kemarin sore di Kecamatan Trowulan. Ada sembilan bangunan porak-poranda dihantam angin kencang sekitar pukul 15.45. Antara lain, tujuh rumah, satu lumbung padi, dan poskamling.

Kerusakan tergolong sedang dialami rumah Jamani, Fidya, Tohari, dan Siswanto. Juga lumbung padi dan pos kamling. Untuk kerusakan parah menimpa rumah Sugiman dan M. Zaelan. ’’Rata-rata kerusakan pada bagian atap karena disapu angin,’’ tuturnya.

Meski tak sampai ada korban jiwa, hingga detik ini sejumlah pemilik rumah harus mengungsi ke rumah tetangga atau saudara. ’’Sebagai tanggap darurat, mereka yang terdampak sudah kami beri terpal,’’ ujarnya.

Tak hanya merusak bangunan. Angin kencang yang berlangsung sekitar dua menit juga membuat sejumlah pohon bertumbangan lantaran tak kuat menahan angin. Karena hujan juga sangat lebat, dilakukan pemadaman listrik. ’’Saat ini petugas di lapangan masih koordinasi dengan PLN karena sampai sekarang (tadi malam) masih padam,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Peziarah Makam Troloyo Meninggal di Bawah Beringin
- Advertisement -

Dari mitigasi yang dilakukan BPBD, ada delapan wilayah dari 18 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Mojokerto berpotensi adanya angin cepat hingga puting beliung. Dengan rincian, lima kecamatan di wilayah selatan. Meliputi, Bangsal, Gondang, Kutorejo, Mojosari, dan Pungging. Di utara Sungai Brantas, di Kecamatan Dawarblandong, Kemlagi, dan Jetis.

Pemetaan ini hasil kajian. Selain itu, sejumlah wilayah itu sudah pernah terjadi. ’’Namun, bukan berarti sejumlah wilayah bebas dari potensi bencana. Untuk itu, kewaspadaan harus selalu ditingkatkan,’’ katanya.

Sementara itu, potensi bencana yang cenderung tinggi di awal tahun ini membuat pemerintah Kabupaten Mojokerto meningkatkan status menjadi siaga darurat bencana. Baik banjir, Tanah longsor dan putting beliung. Status ini diberlakukan hingga empat bulan ke depan.

M. Zaini mengaskan, penetapan status siaga darurat bencana menyusul pemetaan BMKG pada bulan Januari hingga Pebruari 2020 hujan lebat disertai petir dan angin kencang bakal terjadi di Mojokerto. Penetapan status siaga bencana ini sesuai dengan surat Keputusan Bupati Mojokerto Nomor 188.45/1338/416-012/2019 tentang status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung. ’’Sesuai dengan keputusan itu, status siaga darurat bencana sampai empat bulan kedepan tepatnya 31 April 2020,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Merasa Orang Lain Lebih Membutuhkan

Tak urung, sebagai implementasinya, saat ini semua sumberdaya petugas gabungan. Terdiri BPBD, PUPR, Dinsos, Dinkes, DLH dan OPD lainnya TNI/POLRI disiagakan penuh sesuai posnya masing-masing. termasuk di dalamnya, juga unsur kecamatan dan pemerintah desa. ’’Selain dituntut untuk siaga, sarana kebencanaan juga disiapkan dan menuntut setiap pengelola wanawisata memiliki jalur evakuasi bila terjadi bencana,’’ paparnya.

Menurut Zaini terdapat lima kecamatan yang dipetakan masuk area rawan Bencana Longsor. Di antaranya, Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang, Jatirejo dan Ngoro. Sebab, ecara geografis terletak di wilayah hutan dan lereng Gunung. Disisi lain, kebakaran hutan capai 351,9 hektar yang terjadi di sepanjang 2019 juga menjadi salah satu pemicu. ’’Karena terbakarnya Vegetasi hutan menyebabkan akar pepohonan tidak lagi mampu menahan curah hujan,’’ tuturnya.

Tak hanya itu sejumlah faktor juag mempengaruhi terjadi bencanan banjir bandnag hingga tanah longsor. Meliputi, beralihnya tanaman hutan dari jati ke sengon, kondisi sungai sebagian besar tidak terawat, daerah serapan berkurang akibat alih fungsi lahan. Disisi lain, moral manusia yang suka buang sampah hingga pengambilan bebatuan di alirkan sungai yang tak terkendali juga meenjadi ancaman bagi masyarakat. ’’Termasuk ketegasan penerapan hukum yang masih lemah sehingga efek jera bagi perusak lingkungan merajalela juga menjadi penyebab adanya bencana,’’ tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/