alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

DBD Serang Anak-Anak dan Balita, Warga Mulai Waswas

MOJOKERTO – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih membayangi masyarakat di Kabupaten Mojokerto. Setidaknya di awal tahun ini sudah ada puluhan warga terserang penyakit yang disebarkan nyamuk aedes aegypti ini.

Seperti di Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko. Sejak akhir Desember lalu sejumlah warga dilaporkan terjangkit DBD. Bahkan, kejadian itu terus berlanjut hingga awal tahun saat ini.

”Sudah ada kurang lebih sepuluh warga yang dirawat di rumah sakit akibat DBD,” terang Syukron, salah satu warga setempat Kamis (3/1). Tidak hanya menyasar orang dewasa, penyakit disebabkan virus dengue itu juga menyasar anak-anak hingga usia balita.

Menurutnya, penyakit tersebut menyerang warga secara bergiliran. Bahkan, hingga kemarin beberapa di antara balita dan anak-anak yang terserang masih menjalani perawatan intensif di berbagi rumah sakit di Mojokerto.

Gigitan nyamuk aedes aegypti itu cenderung menyerang orang yang tidak jauh dari pasien sebelumnya. ”Ada juga dua anak (adik-kakak) tinggal satu rumah sama-sama kena DBD,” tandasnya.

Baca Juga :  Borong Koran, Bupati Apresiasi Semangat Survive Pengasong Koran

Warga pun berinisiatif untuk melaporkan kejadian itu kepada pamong desa untuk diteruskan kepada dinas terkait. Namun, hingga kemarin belum ada tindakan dari petugas Puskesmas Sooko maupun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto.

Oleh karena itu, dia berharap kasus ini segera ditindaklanjuti dinkes atau puskesmas sebelum jumlah warga yang terserang semakin bertambah. 

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto dr Langit Kresna Janitra, mengungkapkan, selama awal musim penghujan tren penyakit DBD cenderung mengalami kenaikan.

Kondisi itu disebabkan timbulnya genangan air yang berpotensi menjadi sarang perkembang biakan nyamuk aedes aegypti. ”Januari ini sudah masuk beberapa laporan kasus DBD di sejumlah wilayah,” ungkapnya.

Salah satunya di Kecamatan Sooko yang masuk dalam kategori wilayah endemis DBD. Dinkes mencatat, sepanjang 2018 lalu jumlah kasus DBD yang terlaporkan sebanyak 356 kasus.

Baca Juga :  Jalur di Pacet Ambrol, Truk Bermuatan Dilarang Melintas

Dari jumlah tersebut kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Puri dan Sooko dengan total 107 kasus. Sementara sisanya tersebar di Trowulan, Bangsal, Mojosari, Ngoro, Dawarblandong dan wilayah kecamatan lainnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama saat intensitas hujan yang masih belum stabil seperti saat ini. Pasalnya cuaca yang tidak memnentu dapat memicu semakin cepatnya perkembangbiakan nyamuk.

Upaya pencegahan yang paling baik adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). ”Tidak hanya di penampungan air dalam rumah, tapi lingkungan di sekitar,” ujarnya.

Pihaknya mengaku akan menindaklanjuti dengan melakukan fogging atau pengasapan. Langkah itu dilakukan guna mencegah agar DBD tidak semakin meluas.

Kendati demikian, cara itu hanya bersifat sementara, karena hanya memberantas nyamuk dewasa yang menjadi pembawa virus dengue. ”Kuncinya tetap pada PSN, kerana bisa memutus mata rantai penyebaran DBD,” pungkasnya. 

MOJOKERTO – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih membayangi masyarakat di Kabupaten Mojokerto. Setidaknya di awal tahun ini sudah ada puluhan warga terserang penyakit yang disebarkan nyamuk aedes aegypti ini.

Seperti di Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko. Sejak akhir Desember lalu sejumlah warga dilaporkan terjangkit DBD. Bahkan, kejadian itu terus berlanjut hingga awal tahun saat ini.

”Sudah ada kurang lebih sepuluh warga yang dirawat di rumah sakit akibat DBD,” terang Syukron, salah satu warga setempat Kamis (3/1). Tidak hanya menyasar orang dewasa, penyakit disebabkan virus dengue itu juga menyasar anak-anak hingga usia balita.

Menurutnya, penyakit tersebut menyerang warga secara bergiliran. Bahkan, hingga kemarin beberapa di antara balita dan anak-anak yang terserang masih menjalani perawatan intensif di berbagi rumah sakit di Mojokerto.

Gigitan nyamuk aedes aegypti itu cenderung menyerang orang yang tidak jauh dari pasien sebelumnya. ”Ada juga dua anak (adik-kakak) tinggal satu rumah sama-sama kena DBD,” tandasnya.

Baca Juga :  Jembatan Timbang Trowulan Angin-anginan

Warga pun berinisiatif untuk melaporkan kejadian itu kepada pamong desa untuk diteruskan kepada dinas terkait. Namun, hingga kemarin belum ada tindakan dari petugas Puskesmas Sooko maupun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto.

- Advertisement -

Oleh karena itu, dia berharap kasus ini segera ditindaklanjuti dinkes atau puskesmas sebelum jumlah warga yang terserang semakin bertambah. 

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto dr Langit Kresna Janitra, mengungkapkan, selama awal musim penghujan tren penyakit DBD cenderung mengalami kenaikan.

Kondisi itu disebabkan timbulnya genangan air yang berpotensi menjadi sarang perkembang biakan nyamuk aedes aegypti. ”Januari ini sudah masuk beberapa laporan kasus DBD di sejumlah wilayah,” ungkapnya.

Salah satunya di Kecamatan Sooko yang masuk dalam kategori wilayah endemis DBD. Dinkes mencatat, sepanjang 2018 lalu jumlah kasus DBD yang terlaporkan sebanyak 356 kasus.

Baca Juga :  Borong Koran, Bupati Apresiasi Semangat Survive Pengasong Koran

Dari jumlah tersebut kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Puri dan Sooko dengan total 107 kasus. Sementara sisanya tersebar di Trowulan, Bangsal, Mojosari, Ngoro, Dawarblandong dan wilayah kecamatan lainnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama saat intensitas hujan yang masih belum stabil seperti saat ini. Pasalnya cuaca yang tidak memnentu dapat memicu semakin cepatnya perkembangbiakan nyamuk.

Upaya pencegahan yang paling baik adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). ”Tidak hanya di penampungan air dalam rumah, tapi lingkungan di sekitar,” ujarnya.

Pihaknya mengaku akan menindaklanjuti dengan melakukan fogging atau pengasapan. Langkah itu dilakukan guna mencegah agar DBD tidak semakin meluas.

Kendati demikian, cara itu hanya bersifat sementara, karena hanya memberantas nyamuk dewasa yang menjadi pembawa virus dengue. ”Kuncinya tetap pada PSN, kerana bisa memutus mata rantai penyebaran DBD,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/