alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Mamin Isolasi Dinilai Kurang Cukup Gizi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Menu makanan dan minuman (mamin) bagi pasien Covid-19 di sejumlah tempat isolasi di bawah naungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto belakangan mengundang tanya. Hal tersebut mencuat saat mamin bagi pasien terjangkit SARSCoV2 itu dinilai tak layak dari segi gizi dan pagu harga.

D, 30, sumber terpercaya Jawa Pos Radar Mojokerto mengatakan, mamin bagi pasien isolasi tersebut didapati di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes). Mulai dari Puskesmas Gondang, Puri, Kupang, Jetis, hingga sejumlah tempat isolasi di bawah naungan dinkes. Konsumsi bagi pasien isolasi tersebut dinilai tak layak lantaran dianggap tak mencukupi kebutuhan gizi pasien setiap harinya.

Sebab, tak jarang nasi kotak tersebut tanpa dilengkapi sayur-mayur dan lauk pauk yang sederhana, layaknya  tahu dan tempe. Hingga tak jarang, pasien disuguhi menu makan yang hampir sama, antara sarapan pagi dengan makan siang maupun malam. ”Sebenarnya ini sudah lama, sejak awal ada Covid-19 dulu. Tapi, makin ke sini kok tambah begini (parah),” ujarnya.

Baca Juga :  4.783 Pelajar Sudah Divaksinasi

Dalam sekali makan, pasien juga mendapatkan minum air mineral dan buah. Namun, harga mamin tersebut dinilai tak sesuai dengan pagu yang sudah diplot pemda. Yakni, Rp 30 ribu per kotak atau per makan. Menurut D, tak jarang para pasien yang mengeluhkan menu makan tersebut. Sampai-sampai, mereka minta kiriman makanan ke masing-masing keluarganya lantaran makanan yang didapat jauh dari kata layak untuk recovery. ”Untuk nasi kotak seperti itu harganya jauh di bawah Rp 30 ribu. Jadi bukan cuma nilai gizinya saja, tapi harga nasi kotak ini sepertinya juga dimanfaatkan oknum,” tudingnya.

Belakangan diketahui, menu makan nasi kota tersebut bukan racikan masing-masing ahli gizi puskesmas atau faskes lainnya. Justru mamin tersebut masakan dari katering atau pihak ketiga yang sudah ditunjuk dinkes. Otomatis, hal tersebut dinilai kurang ekfektif lantaran masing-masing ahli gizi faskes lah yang dianggap lebih tahu kebutuhan mamin pasien. ”Semestinya kan masing-masing puskesmas (dan tempat isolasi lainnya) yang menangani itu. Supaya lebih tepat sesuai kebutuhan pasien. Jadi, harapan kami supaya yang handle itu masing-masing puskesmas. Pertimbangannya, supaya bistribusinya itu gampang juga,” bebernya.

Baca Juga :  Irigasi Ambrol, Tiga Kecamatan Terendam

Sementara itu, Kepala Puskesmas Puri dr Retno D.A menjelaskan, sejauh ini sekitar 21 pasien isolasi di bawah wewenangnya itu mendapatkan konsumsi (mamin) tiga kali sehari. Di mana setiap harinya ahli gizi puskesmas bakal melaporkan masing-masing kebutuhan pasien ke pihak Dinkes Kabupaten Mojokerto. Sehingga, mamin dapat dikirimkan sesuai kebutuhan. ”Jadi, ahli gizi kami yang melapor ke dinkes. Itu menyesuaikan sama kebutuhan pasien. Misal, pasien yang ada diabetes, jadi supaya dikirim mamin buat penderita diabetes. Jadi dibedakan,” terangnya.

Meski begitu, pihaknya mengaku tak tahu menahu terkait katering atau rekanan yang kerap mengirim konsumsi bagi pasien isolasi tersebut. Sebab, sejauh ini hal tersebut merupakan kewenangan dinkes. ”Kami ndak tahu itu katering dari mana. Yang jelas, kami lapor ke dinkes dan nanti dinkes yang meneruskan.Supaya katering itu dikirim ke puskesmas,”tandas Retno. 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Menu makanan dan minuman (mamin) bagi pasien Covid-19 di sejumlah tempat isolasi di bawah naungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto belakangan mengundang tanya. Hal tersebut mencuat saat mamin bagi pasien terjangkit SARSCoV2 itu dinilai tak layak dari segi gizi dan pagu harga.

D, 30, sumber terpercaya Jawa Pos Radar Mojokerto mengatakan, mamin bagi pasien isolasi tersebut didapati di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes). Mulai dari Puskesmas Gondang, Puri, Kupang, Jetis, hingga sejumlah tempat isolasi di bawah naungan dinkes. Konsumsi bagi pasien isolasi tersebut dinilai tak layak lantaran dianggap tak mencukupi kebutuhan gizi pasien setiap harinya.

Sebab, tak jarang nasi kotak tersebut tanpa dilengkapi sayur-mayur dan lauk pauk yang sederhana, layaknya  tahu dan tempe. Hingga tak jarang, pasien disuguhi menu makan yang hampir sama, antara sarapan pagi dengan makan siang maupun malam. ”Sebenarnya ini sudah lama, sejak awal ada Covid-19 dulu. Tapi, makin ke sini kok tambah begini (parah),” ujarnya.

Baca Juga :  Amankan Warga Ngamuk Bawa Sajam, Polisi Turunkan Tim Gegana

Dalam sekali makan, pasien juga mendapatkan minum air mineral dan buah. Namun, harga mamin tersebut dinilai tak sesuai dengan pagu yang sudah diplot pemda. Yakni, Rp 30 ribu per kotak atau per makan. Menurut D, tak jarang para pasien yang mengeluhkan menu makan tersebut. Sampai-sampai, mereka minta kiriman makanan ke masing-masing keluarganya lantaran makanan yang didapat jauh dari kata layak untuk recovery. ”Untuk nasi kotak seperti itu harganya jauh di bawah Rp 30 ribu. Jadi bukan cuma nilai gizinya saja, tapi harga nasi kotak ini sepertinya juga dimanfaatkan oknum,” tudingnya.

Belakangan diketahui, menu makan nasi kota tersebut bukan racikan masing-masing ahli gizi puskesmas atau faskes lainnya. Justru mamin tersebut masakan dari katering atau pihak ketiga yang sudah ditunjuk dinkes. Otomatis, hal tersebut dinilai kurang ekfektif lantaran masing-masing ahli gizi faskes lah yang dianggap lebih tahu kebutuhan mamin pasien. ”Semestinya kan masing-masing puskesmas (dan tempat isolasi lainnya) yang menangani itu. Supaya lebih tepat sesuai kebutuhan pasien. Jadi, harapan kami supaya yang handle itu masing-masing puskesmas. Pertimbangannya, supaya bistribusinya itu gampang juga,” bebernya.

Baca Juga :  Seruduk Truk, Kernet Sugeng Rahayu Tewas

Sementara itu, Kepala Puskesmas Puri dr Retno D.A menjelaskan, sejauh ini sekitar 21 pasien isolasi di bawah wewenangnya itu mendapatkan konsumsi (mamin) tiga kali sehari. Di mana setiap harinya ahli gizi puskesmas bakal melaporkan masing-masing kebutuhan pasien ke pihak Dinkes Kabupaten Mojokerto. Sehingga, mamin dapat dikirimkan sesuai kebutuhan. ”Jadi, ahli gizi kami yang melapor ke dinkes. Itu menyesuaikan sama kebutuhan pasien. Misal, pasien yang ada diabetes, jadi supaya dikirim mamin buat penderita diabetes. Jadi dibedakan,” terangnya.

- Advertisement -

Meski begitu, pihaknya mengaku tak tahu menahu terkait katering atau rekanan yang kerap mengirim konsumsi bagi pasien isolasi tersebut. Sebab, sejauh ini hal tersebut merupakan kewenangan dinkes. ”Kami ndak tahu itu katering dari mana. Yang jelas, kami lapor ke dinkes dan nanti dinkes yang meneruskan.Supaya katering itu dikirim ke puskesmas,”tandas Retno. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/