alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Ibadah Tak Dibatasi, Pondok Ramadan Bergulir Lagi

Ramadan Tahun Kedua Pandemi

Setelah dua tahun pandemi, umat muslim di Mojokerto Raya akan lebih leluasa menjalani ibadah di bulan suci. Seiring melandainya kasus aktif Covid-19 dan status PPKM yang turun ke level 1, nyaris tidak ada lagi pembatasan kecuali protokol kesehatan.

DI Kota Mojokerto, sejumlah pelonggaran telah diberlakukan hampir pada semua sektor. Mulai dari kegiatan peribadatan, pendidikan, hingga aktivitas perekonomian. Pintu mudik pun juga kembali dibuka bagi warga urban yang ingin kembali ke kampung halaman.

Suasana di rumah ibadah juga akan tampak berbeda dibanding dua tahun masa pandemi. Karena dari 99 masjid di Kota Mojokerto yang sebelumnya dibatasi kapasitas jamaahnya, kini semua boleh berkegiatan dengan daya tampung 100 persen. ’’Khusus Ramadan tahun ini memang lebih longgar dari pada sebelumnya,’’ terang Sekretaris Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kota Mojokerto Masfudin.

Menurutnya, pelaksanaan ibadah di masjid pada bulan suci 1443 Hijriah mengacu Instuksi Wali Kota Mojokerto Nomor 188.55/3/417.101.3/2022. Dari 13 butir instruksi yang diterbitkan 25 Maret lalu, tidak ada poin yang membatasi pelaksanaan ibadah. Baik yang digelar di masjid maupun musala.

Baca Juga :  Satgas Covid Dibubarkan Wisuda SMA Negeri

Termasuk kegiatan salat tarawih. Selama status PPKM Kota Mojokerto masih berada di level 1, pelaksanaan ibadah selama Ramadan tidak ada pembatasan. Sehingga, kata dia, saf salat juga dapat kembali dirapatkan. ’’Sesuai instruksi Wali Kota Mojokerto, pelaksanaannya tetap harus menjaga protokol kesehatan (prokes),’’ paparnya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Polilitik (Bakesbangpol) Kota Mojokerto Moch. Imron menambahkan, dalam instruksi Wali Kota Mojokerto juga memperbolehkan sektor perekonomian dan perdagangan berkegiatan penuh selama Ramadan. Salah satunya usaha rumah makan, restoran, hingga depot yang tak lagi disyaratkan melayani take away. Karena, seluruhnya diizinkan dine in atau makan di tempat saat berbuka puasa. ’’Boleh berbuka puasa secara pribadi, dengan keluarga, atau buka bersama. Yang penting tetap prokes,’’ imbuhnya.

Kegiatan takbir dengan pengeras suara luar di tempat ibadah juga diperbolehkan. Hanya saja, waktunya dibatasi hingga pukul 24.00. Sedangkan takbir keliling di jalan raya tetap dilarang karena dinilai berisiko terjadi paparan Covid-19 dan gangguan ketentraman dan ketertiban umum. ’’Dalam instruksi juga tidak ada larangan bagi-bagi takjil, asalkan tetap tertib dan tidak memicu kerumunan,’’ tandas Imron.

Baca Juga :  Sehari, Tebing Claket Longsor Dua Kali

Sejak Ramadan tahun lalu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Mojokerto sudah menggulirkan pembelajaran tatap muka PTM) terbatas. Hanya saja, jumlah peserta didik dibatasi maksimal separo dari kapasitas kelas. Sedangkan tahun ini, semua lembaga pendidikan jenjang TK, SD, dan SMP negeri swasta sudah diberi lampu hijau untuk menggelar PTM 100 persen yang dimulai 28 Maret lalu.

Kepala Dinas P dan K Kota Mojokerto Amin Wachid menyatakan, selama bulan puasa peserta didik tetap masuk seperti hari biasa. Bahkan, sebelum jam pelajaran juga diisi dengan program peningkatan iman dan takwa. ’’Prokes tetap dijalankan secara ketat bagi semua warga sekolah selama bulan puasa,’’ terangnya.

Untuk pertama kalinya selama pandemi, kegiatan pondok Ramadan siswa juga kembali digulirkan di pekan kedua bulan suci. Tak hanya itu, imbuh Amin, kegiatan buka bersama bisa juga boleh dilakukan secara bertahap dan sesuai prokes yang ketat. ’’Jadi, kepala sekolah dan guru harus memastikan siswa memakai masker dan mencuci tangan sebelum masuk sekolah,’’ pungkasnya. (ram/fen)

Ramadan Tahun Kedua Pandemi

Setelah dua tahun pandemi, umat muslim di Mojokerto Raya akan lebih leluasa menjalani ibadah di bulan suci. Seiring melandainya kasus aktif Covid-19 dan status PPKM yang turun ke level 1, nyaris tidak ada lagi pembatasan kecuali protokol kesehatan.

DI Kota Mojokerto, sejumlah pelonggaran telah diberlakukan hampir pada semua sektor. Mulai dari kegiatan peribadatan, pendidikan, hingga aktivitas perekonomian. Pintu mudik pun juga kembali dibuka bagi warga urban yang ingin kembali ke kampung halaman.

Suasana di rumah ibadah juga akan tampak berbeda dibanding dua tahun masa pandemi. Karena dari 99 masjid di Kota Mojokerto yang sebelumnya dibatasi kapasitas jamaahnya, kini semua boleh berkegiatan dengan daya tampung 100 persen. ’’Khusus Ramadan tahun ini memang lebih longgar dari pada sebelumnya,’’ terang Sekretaris Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kota Mojokerto Masfudin.

Menurutnya, pelaksanaan ibadah di masjid pada bulan suci 1443 Hijriah mengacu Instuksi Wali Kota Mojokerto Nomor 188.55/3/417.101.3/2022. Dari 13 butir instruksi yang diterbitkan 25 Maret lalu, tidak ada poin yang membatasi pelaksanaan ibadah. Baik yang digelar di masjid maupun musala.

Baca Juga :  Danrem dan Dandim Pantau Vaksinasi di Ponpes dan Masyarakat

Termasuk kegiatan salat tarawih. Selama status PPKM Kota Mojokerto masih berada di level 1, pelaksanaan ibadah selama Ramadan tidak ada pembatasan. Sehingga, kata dia, saf salat juga dapat kembali dirapatkan. ’’Sesuai instruksi Wali Kota Mojokerto, pelaksanaannya tetap harus menjaga protokol kesehatan (prokes),’’ paparnya.

- Advertisement -

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Polilitik (Bakesbangpol) Kota Mojokerto Moch. Imron menambahkan, dalam instruksi Wali Kota Mojokerto juga memperbolehkan sektor perekonomian dan perdagangan berkegiatan penuh selama Ramadan. Salah satunya usaha rumah makan, restoran, hingga depot yang tak lagi disyaratkan melayani take away. Karena, seluruhnya diizinkan dine in atau makan di tempat saat berbuka puasa. ’’Boleh berbuka puasa secara pribadi, dengan keluarga, atau buka bersama. Yang penting tetap prokes,’’ imbuhnya.

Kegiatan takbir dengan pengeras suara luar di tempat ibadah juga diperbolehkan. Hanya saja, waktunya dibatasi hingga pukul 24.00. Sedangkan takbir keliling di jalan raya tetap dilarang karena dinilai berisiko terjadi paparan Covid-19 dan gangguan ketentraman dan ketertiban umum. ’’Dalam instruksi juga tidak ada larangan bagi-bagi takjil, asalkan tetap tertib dan tidak memicu kerumunan,’’ tandas Imron.

Baca Juga :  Kompleks Wisata Religi Belum Nyaman, Pengunjung Mengeluh

Sejak Ramadan tahun lalu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Mojokerto sudah menggulirkan pembelajaran tatap muka PTM) terbatas. Hanya saja, jumlah peserta didik dibatasi maksimal separo dari kapasitas kelas. Sedangkan tahun ini, semua lembaga pendidikan jenjang TK, SD, dan SMP negeri swasta sudah diberi lampu hijau untuk menggelar PTM 100 persen yang dimulai 28 Maret lalu.

Kepala Dinas P dan K Kota Mojokerto Amin Wachid menyatakan, selama bulan puasa peserta didik tetap masuk seperti hari biasa. Bahkan, sebelum jam pelajaran juga diisi dengan program peningkatan iman dan takwa. ’’Prokes tetap dijalankan secara ketat bagi semua warga sekolah selama bulan puasa,’’ terangnya.

Untuk pertama kalinya selama pandemi, kegiatan pondok Ramadan siswa juga kembali digulirkan di pekan kedua bulan suci. Tak hanya itu, imbuh Amin, kegiatan buka bersama bisa juga boleh dilakukan secara bertahap dan sesuai prokes yang ketat. ’’Jadi, kepala sekolah dan guru harus memastikan siswa memakai masker dan mencuci tangan sebelum masuk sekolah,’’ pungkasnya. (ram/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/