alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Praktik Penjarahan Pasir di Proyek Long Storage Diduga Jadi Bancakan

MOJOKERTO – Menjamurnya penjarahan pasir di lokasi proyek Nasional pembangunan waduk atau long storage di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Sidoarjo kuat dugaan dibekingi oknum petugas proyek dan aparat desa.

Sebab, meski telah beroperasi cukup lama, pembiaran terhadap penambangan kekayaan negara dalam proyek bernilai Rp 336 miliar itu masih saja terjadi. Bahkan, disebut-sebut, pasir yang diperjualbelikan tidak hanya dihasilkan dari sejumlah ponton yang beroperasi, melainkan juga dibantu backhoe proyek.

’’Iya kadang truk-truk itu diambilkan backhoe. Tapi, harus bayar,’’ kata NF seorang warga. Ironisnya, dalam pengambilan pasir, diduga beberapa pihak memang turut berperan dalam memuluskan penambangan. Dugaan itu mengarah kepada oknum perangkat desa dan pihak proyek.

’’Satu truknya tidak pasti. Kadang juga bayar operatornya saja. Tiap dump truck Rp 20 ribu-Rp 100 ribu,’’ jelasnya. Kendati demikian bukan berarti truk pengakut pasir tersebut lolos begitu saja. Di balik itu, disinyalir ada bagi-bagi hasil.

Saat radarmojokerto.id melakukan penelusuran di lokasi, terlihat banyak truk keluar masuk proyek dengan mengangkut pasir. Pasir-pasir yang dihasilkan tersebut tidak ditaruh di site plan atau penampungan sementara. Namun, pasir yang diangkut justru dibawa keluar.

’’Seperi itu sudah lama. Semua warga sini sudah pada tahu. Makanya, saat warga mengambil pasir di lokasi proyek, tidak dilarang petugas. Memang saling beking,’’ tandasnya. NF menegaskan, sejumlah alat berat yang sebelumnya pernah diamankan petugas gabungan terdiri dari kepolisian dan satpol PP saat penggrebekan, kini barang bukti itu telah dikembalikan.

Baca Juga :  Kain Seragam SMPN di Bawah Standar

’’Makanya kan, banyak ponton yang beroperasi lagi,’’ sesalnya. Warga menyebut ada empat ponton yang belakangan aktif beroperasi. Pasir yang dihasilkan pun cukup banyak. Dari penghitungan sementara, setidaknya ada 52 truk pasir yang dihasilkan dari empat titik.

’’Masing-masing bisa 13 truk setiap hari. Ini sudah berlangsung berapa bulan, tinggal dikalikan saja, sudah berapa truk yang keluar,’’ paparnya. Harganya jual pasir bervariasi. Menyesuaikan jenis truk yang digunakan untuk mengangkut. Truk colt disel dijual Rp 800 ribu per rit.

Sementara satu dump truck dibanderol Rp 1,1 juta. Itupun para pembeli datang membawa truk sendiri ke lokasi. ’’Kalau kirim bisa lebih dari itu. Harga menyesuaikan lokasi. Kalau kirim ke Madura, satu truknya bisa Rp 2 juta lebih,’’ bebernya.

Sehingga jika dikalkulasi dengan sedikitnya 100 truk yang keluar masuk untuk mengangkut pasir tersebut, dalam sehari uang yang dihasilkan minimal mencapai Rp 100 juta. Jika satu minggu pasir yang dihasilkan capai Rp 700 juta. ’’Desa juga mendapatkan bagian Rp 300 ribu dari hasil penjualan pasir tiap truknya,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Penderita DBD Terus Bertambah

Terpisah, Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery, belum monitor soal penjualan pasir yang diambil dari lokasi proyek. ’’Penyedotan itu yang saya tahu kembang kempis,’’ katanya. Yang jelas, lanjut Fery, dalam proyek itu memang ada kontraktor tugasnya mengeluarkan sisa limbah pasir.

Sisa limbah pasir itu seyogianya dimasukkan ke dalam site plan atau penampungan sementara. Sebaliknya, apabila ada pihak-pihak lain yang mengambil dari lokasi proyek dan tidak memasukkan ke tempat penampungan di situ ada indikasi pelanggaran. ’’Nah ini kan harus dicermati dulu, siapa yang mengambil. Apakah pihak desa, atau pihak luar itu,’’ paparnya.

Sebelumnya, Kades Ngimbangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Rudy Subagyo membantah terlibat dalam penyedotan pasir di lokasi proyek long storage. Bahkan, berulang kali ia mengklaim memperingatkan warga untuk tidak menambangi pasir. Namun, Rudy tak menampik jika penjarahan pasir itu menggunakan mesin ponton.

’’Sudah diingatkan. Tapi, gimana lagi,’’ ungkapnya. ’’Kalau itu milik desa, itu tidak benar. Desa hanya sebatas tahu saja,’’ imbuhnya. 

MOJOKERTO – Menjamurnya penjarahan pasir di lokasi proyek Nasional pembangunan waduk atau long storage di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Sidoarjo kuat dugaan dibekingi oknum petugas proyek dan aparat desa.

Sebab, meski telah beroperasi cukup lama, pembiaran terhadap penambangan kekayaan negara dalam proyek bernilai Rp 336 miliar itu masih saja terjadi. Bahkan, disebut-sebut, pasir yang diperjualbelikan tidak hanya dihasilkan dari sejumlah ponton yang beroperasi, melainkan juga dibantu backhoe proyek.

’’Iya kadang truk-truk itu diambilkan backhoe. Tapi, harus bayar,’’ kata NF seorang warga. Ironisnya, dalam pengambilan pasir, diduga beberapa pihak memang turut berperan dalam memuluskan penambangan. Dugaan itu mengarah kepada oknum perangkat desa dan pihak proyek.

’’Satu truknya tidak pasti. Kadang juga bayar operatornya saja. Tiap dump truck Rp 20 ribu-Rp 100 ribu,’’ jelasnya. Kendati demikian bukan berarti truk pengakut pasir tersebut lolos begitu saja. Di balik itu, disinyalir ada bagi-bagi hasil.

Saat radarmojokerto.id melakukan penelusuran di lokasi, terlihat banyak truk keluar masuk proyek dengan mengangkut pasir. Pasir-pasir yang dihasilkan tersebut tidak ditaruh di site plan atau penampungan sementara. Namun, pasir yang diangkut justru dibawa keluar.

’’Seperi itu sudah lama. Semua warga sini sudah pada tahu. Makanya, saat warga mengambil pasir di lokasi proyek, tidak dilarang petugas. Memang saling beking,’’ tandasnya. NF menegaskan, sejumlah alat berat yang sebelumnya pernah diamankan petugas gabungan terdiri dari kepolisian dan satpol PP saat penggrebekan, kini barang bukti itu telah dikembalikan.

Baca Juga :  Tetap Produktif Saat Pandemi
- Advertisement -

’’Makanya kan, banyak ponton yang beroperasi lagi,’’ sesalnya. Warga menyebut ada empat ponton yang belakangan aktif beroperasi. Pasir yang dihasilkan pun cukup banyak. Dari penghitungan sementara, setidaknya ada 52 truk pasir yang dihasilkan dari empat titik.

’’Masing-masing bisa 13 truk setiap hari. Ini sudah berlangsung berapa bulan, tinggal dikalikan saja, sudah berapa truk yang keluar,’’ paparnya. Harganya jual pasir bervariasi. Menyesuaikan jenis truk yang digunakan untuk mengangkut. Truk colt disel dijual Rp 800 ribu per rit.

Sementara satu dump truck dibanderol Rp 1,1 juta. Itupun para pembeli datang membawa truk sendiri ke lokasi. ’’Kalau kirim bisa lebih dari itu. Harga menyesuaikan lokasi. Kalau kirim ke Madura, satu truknya bisa Rp 2 juta lebih,’’ bebernya.

Sehingga jika dikalkulasi dengan sedikitnya 100 truk yang keluar masuk untuk mengangkut pasir tersebut, dalam sehari uang yang dihasilkan minimal mencapai Rp 100 juta. Jika satu minggu pasir yang dihasilkan capai Rp 700 juta. ’’Desa juga mendapatkan bagian Rp 300 ribu dari hasil penjualan pasir tiap truknya,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Bank Jatim Jalin Kerja Sama dengan Jawa Pos Radar Mojokerto

Terpisah, Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery, belum monitor soal penjualan pasir yang diambil dari lokasi proyek. ’’Penyedotan itu yang saya tahu kembang kempis,’’ katanya. Yang jelas, lanjut Fery, dalam proyek itu memang ada kontraktor tugasnya mengeluarkan sisa limbah pasir.

Sisa limbah pasir itu seyogianya dimasukkan ke dalam site plan atau penampungan sementara. Sebaliknya, apabila ada pihak-pihak lain yang mengambil dari lokasi proyek dan tidak memasukkan ke tempat penampungan di situ ada indikasi pelanggaran. ’’Nah ini kan harus dicermati dulu, siapa yang mengambil. Apakah pihak desa, atau pihak luar itu,’’ paparnya.

Sebelumnya, Kades Ngimbangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Rudy Subagyo membantah terlibat dalam penyedotan pasir di lokasi proyek long storage. Bahkan, berulang kali ia mengklaim memperingatkan warga untuk tidak menambangi pasir. Namun, Rudy tak menampik jika penjarahan pasir itu menggunakan mesin ponton.

’’Sudah diingatkan. Tapi, gimana lagi,’’ ungkapnya. ’’Kalau itu milik desa, itu tidak benar. Desa hanya sebatas tahu saja,’’ imbuhnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/