alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Polisi Tetapkan Pengusaha, Eks Camat dan PNS sebagai Tersangka

MOJOKERTO – Sengketa tanah hingga berujung penyegelan SDN Kranggan 1, Kota Mojokerto, oleh ahli waris Sareh Sujono berbuntut panjang. Suastini, ahli waris yang mengaku sebagai pemilik sah lahan SD tersebut rupanya telah melaporkan dugaan aksi penyerobotan tanah tersebut ke Polresta Mojokerto sejak Oktober 2016 lalu.

Dari laporan ini, polresta ternyata telah menyelidiki hingga menetapkan seorang pengusaha di Kota Mojokerto berinsial Rd, sebagai tersangka atas tindak pindana sengketa tanah. Pernyataan tersebut disampaikan Kapolresta Mojokerto, AKBP Puji Hendro Wibowo.

Dari hasil penyidikan dan keterangan saksi ahli dari Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya serta labfor, polisi menemukan adanya kejanggalan soal bukti sertifikat jual beli tanah yang dilakukan Pemkot Mojokerto dengan seorang pengusaha tersebut.

Selain itu, polisi juga menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka. Tiga orang ini dinyatakan diduga terlibat aktif dalam proses pemalsuan surat jual beli. Dua lainnya adalah mantan camat Prajurit Kulon berinsial As, dan Ww, PNS yang kini berdinas di Bagian Pemerintahan Setdakot Mojokerto.

Baca Juga :  Empat Tahun Tanggul Sungai Ambrol, Belum Diperbaiki, Ancam Gedung TPQ

’’Tersangkanya ada tiga orang. Perannya masing-masing ada di rangkaian jual beli tanah itu,’’ terangnya. Berdasarkan informasi yang diterima Jawa Pos Radar Mojokerto, sengketa tersebut muncul saat Suastini, ahli waris dari almarhum Sareh Sujono melaporkan adanya tindak pidana dari hak kepemilikan tanahnya seluas 1.590 meter persegi itu pada Oktober 2016 lalu.

Berdasarkan fakta sejarah, SDN Kranggan berdiri di Jalan Majapahit nomor 375, tepatnya di deretan ruko di depan eks Maja Indah Plaza (MIP). Namun, tahun 1990 silam, pemkot melakukan tukar guling tanah karena SDN Kranggan 1 akan dibeli oleh Rd.

Dalam proses tukar guling itu, pemkot ternyata mendapat ganti lahan untuk SDN Kranggan 1 di Jalan Raya Pekayon nomor 39 yang saat ini ditempati. Namun, dalam proses tukar guling itu, rupanya ada dugaan pemalsuan dokumen jual beli tanah yang ternyata adalah milik almarhum Sareh Sujono.

Baca Juga :  Gudang Bulog Dibobol, Kuras Puluhan Karung Raskin

Padahal, almarhum tidak pernah sekalipun menjual tanahnya untuk ganti SDN Kranggan 1. Hal itu dibuktikan dari adanya sertifikat tanah petok D yang saat ini diklaim masih ditangannya.

Ditanya soal itu, kapolres tidak memberikan jawaban secara spesifik. Dia hanya menerangkan jika polresta belum melakukan penahanan kepada ketiga tersangka lantaran sikap kooperatif yang mereka tunjukkan saat menjalani proses pemeriksaan.

’’Ketiganya sangat kooperatif dan dalam waktu dekat berkas akan kami selesaikan untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto,’’ imbuhnya. Atas perbuatan tersebut, ketiga tersangka, kata kapolres dijerat pasal 263 dan 266 KUHP tentang pemalsuan dokumen. Dengan ancaman pidana selama enam tahun penjara. 

MOJOKERTO – Sengketa tanah hingga berujung penyegelan SDN Kranggan 1, Kota Mojokerto, oleh ahli waris Sareh Sujono berbuntut panjang. Suastini, ahli waris yang mengaku sebagai pemilik sah lahan SD tersebut rupanya telah melaporkan dugaan aksi penyerobotan tanah tersebut ke Polresta Mojokerto sejak Oktober 2016 lalu.

Dari laporan ini, polresta ternyata telah menyelidiki hingga menetapkan seorang pengusaha di Kota Mojokerto berinsial Rd, sebagai tersangka atas tindak pindana sengketa tanah. Pernyataan tersebut disampaikan Kapolresta Mojokerto, AKBP Puji Hendro Wibowo.

Dari hasil penyidikan dan keterangan saksi ahli dari Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya serta labfor, polisi menemukan adanya kejanggalan soal bukti sertifikat jual beli tanah yang dilakukan Pemkot Mojokerto dengan seorang pengusaha tersebut.

Selain itu, polisi juga menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka. Tiga orang ini dinyatakan diduga terlibat aktif dalam proses pemalsuan surat jual beli. Dua lainnya adalah mantan camat Prajurit Kulon berinsial As, dan Ww, PNS yang kini berdinas di Bagian Pemerintahan Setdakot Mojokerto.

Baca Juga :  Slank-Mensos Duet Perangi Narkoba

’’Tersangkanya ada tiga orang. Perannya masing-masing ada di rangkaian jual beli tanah itu,’’ terangnya. Berdasarkan informasi yang diterima Jawa Pos Radar Mojokerto, sengketa tersebut muncul saat Suastini, ahli waris dari almarhum Sareh Sujono melaporkan adanya tindak pidana dari hak kepemilikan tanahnya seluas 1.590 meter persegi itu pada Oktober 2016 lalu.

Berdasarkan fakta sejarah, SDN Kranggan berdiri di Jalan Majapahit nomor 375, tepatnya di deretan ruko di depan eks Maja Indah Plaza (MIP). Namun, tahun 1990 silam, pemkot melakukan tukar guling tanah karena SDN Kranggan 1 akan dibeli oleh Rd.

- Advertisement -

Dalam proses tukar guling itu, pemkot ternyata mendapat ganti lahan untuk SDN Kranggan 1 di Jalan Raya Pekayon nomor 39 yang saat ini ditempati. Namun, dalam proses tukar guling itu, rupanya ada dugaan pemalsuan dokumen jual beli tanah yang ternyata adalah milik almarhum Sareh Sujono.

Baca Juga :  PT Enero Mojokerto Serahkan Kasus Kecelakaan Kerja ke Polisi

Padahal, almarhum tidak pernah sekalipun menjual tanahnya untuk ganti SDN Kranggan 1. Hal itu dibuktikan dari adanya sertifikat tanah petok D yang saat ini diklaim masih ditangannya.

Ditanya soal itu, kapolres tidak memberikan jawaban secara spesifik. Dia hanya menerangkan jika polresta belum melakukan penahanan kepada ketiga tersangka lantaran sikap kooperatif yang mereka tunjukkan saat menjalani proses pemeriksaan.

’’Ketiganya sangat kooperatif dan dalam waktu dekat berkas akan kami selesaikan untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto,’’ imbuhnya. Atas perbuatan tersebut, ketiga tersangka, kata kapolres dijerat pasal 263 dan 266 KUHP tentang pemalsuan dokumen. Dengan ancaman pidana selama enam tahun penjara. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/