alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Hasil Budidaya Anggrek Jadi Sumber Penghidupan

MUKHIDIN menceritakan, sebagian besar anak yang diasuh di Vila Durian adalah bukanlah anak yatim piatu biasa. Melainkan anak dengan latarbelakang permasalahan sosial yang dititipkan oleh lembaga pemerintah.

Seperti dinas sosial (Dinsos), P2TP2A, hingga Unit PPA Sareskrim Polres Mojokerto. Bermacam cerita pun berkembang. Mulai dari asli anak jalanan, anak korban pelecehan seksual, korban kekerasan, korban konflik, hingga korban bencana.

Terbaru, Mukhidin bahkan kedatangan seorang remaja putri bersama dua bayi kembarnya yang menjadi korban pelecehan seksual orang tuanya sendiri. Hingga harus diasingkan.

Nah, dari beberapa pengalaman itu, Mukhidin mengaku tidak bisa mengelak ketika ada lembaga atau warga yang ingin menitipkan anaknya di vila. Sebab, baginya anak harus mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang layak dan tertinggi demi kelangsungan hidupnya kelak.

Baca Juga :  Grand Final Ditunda, Karantina Tetap Jalan

Sehingga trauma atas kisahnya di masa lampau bisa dihilangkan demi menuju kehidupan yang lebih baik. Hanya saja, kepasrahannya tidak serta merta menampung semua anak yang dititipkan.

Dirinya tetap memberikan prioritas kepada anak yang masih memiliki orang tua agar diasuh sendiri. Pun demikian ketika ada anak yang fisiknya butuh perawatan medis, dirinya harus menyerahkan kepada tim medis untuk dirawat lebih dulu sebelum diasuh.

’’Dulu pernah ada anak yang kepalanya penuh jahitan, ya kita kembalikan dulu ke rumah sakit untuk dirawat sampai sembuh. Baru setelah itu bisa kita rawat. Kan juga memengaruhi psikologi anak yang sudah lebih dulu tinggal di vila,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Kota Kirim Bantuan Sosial dan Relawan

Untuk pembiayaan operasional, pria asli Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini mengaku tidak memiliki manajemen khusus.

Bahkan, cenderung mengalir begitu saja tanpa ada rambu-rambu atau aturan tertentu. Meski begitu, Mukhidin mengaku semuanya bisa dilalui dengan serba kecukupan. Mulai dari kebutuhan pendidikan, makan dan minum, kesehatan, hingga hiburan lainnya.

’’Dulu pernah hitung-hitungan kasar. Kalau nggak salah biayanya bisa sampai Rp 75 juta per bulan. Tapi setelah itu sudah nggak pakai hitung-hitungan lagi. Kita loskan. Kalau sumber biaya, kita bisa dapat dari hasil budidaya anggrek, lahan garapan sawah. Semuanya dikelola oleh anak-anak sendiri,’’ pungkasnya. 

MUKHIDIN menceritakan, sebagian besar anak yang diasuh di Vila Durian adalah bukanlah anak yatim piatu biasa. Melainkan anak dengan latarbelakang permasalahan sosial yang dititipkan oleh lembaga pemerintah.

Seperti dinas sosial (Dinsos), P2TP2A, hingga Unit PPA Sareskrim Polres Mojokerto. Bermacam cerita pun berkembang. Mulai dari asli anak jalanan, anak korban pelecehan seksual, korban kekerasan, korban konflik, hingga korban bencana.

Terbaru, Mukhidin bahkan kedatangan seorang remaja putri bersama dua bayi kembarnya yang menjadi korban pelecehan seksual orang tuanya sendiri. Hingga harus diasingkan.

Nah, dari beberapa pengalaman itu, Mukhidin mengaku tidak bisa mengelak ketika ada lembaga atau warga yang ingin menitipkan anaknya di vila. Sebab, baginya anak harus mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang layak dan tertinggi demi kelangsungan hidupnya kelak.

Baca Juga :  Terjaring Razia, Anjal: Malas di Rumah, Orang Tua Bertengkar Terus
- Advertisement -

Sehingga trauma atas kisahnya di masa lampau bisa dihilangkan demi menuju kehidupan yang lebih baik. Hanya saja, kepasrahannya tidak serta merta menampung semua anak yang dititipkan.

Dirinya tetap memberikan prioritas kepada anak yang masih memiliki orang tua agar diasuh sendiri. Pun demikian ketika ada anak yang fisiknya butuh perawatan medis, dirinya harus menyerahkan kepada tim medis untuk dirawat lebih dulu sebelum diasuh.

’’Dulu pernah ada anak yang kepalanya penuh jahitan, ya kita kembalikan dulu ke rumah sakit untuk dirawat sampai sembuh. Baru setelah itu bisa kita rawat. Kan juga memengaruhi psikologi anak yang sudah lebih dulu tinggal di vila,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Bhre Kahuripan Mirip Candi Penataran, dari Hayam Wuruk untuk Tribuana

Untuk pembiayaan operasional, pria asli Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini mengaku tidak memiliki manajemen khusus.

Bahkan, cenderung mengalir begitu saja tanpa ada rambu-rambu atau aturan tertentu. Meski begitu, Mukhidin mengaku semuanya bisa dilalui dengan serba kecukupan. Mulai dari kebutuhan pendidikan, makan dan minum, kesehatan, hingga hiburan lainnya.

’’Dulu pernah hitung-hitungan kasar. Kalau nggak salah biayanya bisa sampai Rp 75 juta per bulan. Tapi setelah itu sudah nggak pakai hitung-hitungan lagi. Kita loskan. Kalau sumber biaya, kita bisa dapat dari hasil budidaya anggrek, lahan garapan sawah. Semuanya dikelola oleh anak-anak sendiri,’’ pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/