Rabu, 27 Oct 2021
Radar Mojokerto
Home / Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Kampung Pecinan Kota Mojokerto (2-habis)

Perlahan Mulai Meredup Akibat Akulturasi

02 November 2020, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Perlahan Mulai Meredup Akibat Akulturasi

Kelenteng TITD Hok Sian Kiong di Jalan Residen Pamuji, Kota Mojokerto menjadi salah satu ikon Kampung Pecinan. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

Share this      

Suasana kawasan di Kampung Pecinan Kota Mojokerto sendiri kini sudah mengalami banyak perubahan. Bangunan kuno sudah tergantikan dengan gedung-gedung megah. Serta dipadati dengan gang-gang permukiman warga. Tak selengang dulu.

KINI yang tersisa dari Kampung Pecinan hanyalah Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Kelenteng Hok Sian Kiong. ”Mayoritas memang masih banyak yang nerusin usaha keluarganya, tapi ya sekarang juga banyak pendatang dari luar daerah. Jadi, sekarang sudah berbaur,” ujar Mulyadi, salah satu pemilik toko Jalan Majapahit Kota Mojokerto.

Mulyadi sendiri termasuk salah satu pengurus kelenteng di bagian pengajaran bahasa mandarin. Sejak tahun 1950, ia mendirikan kelas untuk pembelajaran bahasa Mandarin, khususnya di Kota Mojokerto bernama Xiao Yu.

Baca juga: Serapan Anggaran Pemkab Loyo

Kala itu, lokasi pembelajaran masih di kelenteng. Namun, ternyata minat pembelajaran bahasa mandarin tak hanya di kalangan Tionghoa saja. Warga sekitar juga tertarik untuk mempelajari bahasa tersebut.

”Sekitar tahun 2005 atau 2006, akhirnya kursus kami pindahkan ke Yayasan Sosial Mojokerto Sosial Langgeng Sentosa itu. Kalau di kelenteng kesannya nggak etis, makanya kami alihkan,” ceritanya.

Semenjak kursus mandarin dipindahkan ke yayasan, hal tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Terhitung sejak saat itu, ada sekitar enam puluh murid yang mengikuti kursus. Tapi, semenjak pandemi kursus bahasa mandarin pun ikutan sepi.

Ketersediaan guru sendiri juga terbatas. Lantaran, kini tak semua etnis Tionghoa bisa berbahasa Mandarin. ”Gurunya ini yang bertahan cuma satu. Lainnya sudah kesusahan. Sementara kursus ditutup soalnya sepi, kita juga ndak ada bisa bayar tenaga gurunya,” keluhnya.

Namun, Mulyadi terus berusaha agar bahasa mandarin tak dilupakan oleh anak-anak muda saat ini. Baginya, yang penting anak-anak punya keinginan belajar. Meski bahasa mandarin sendiri kini tergeser dengan bahasa lainnya.

Ia bersama beberapa rekannya tetap mengusahakan kursus mandarin akan berjalan lagi tahun depan. ”Jangan sampai bahasa mandarin terlupakan. Semoga tahun depan masih ada harapan untuk anak-anak belajar bahasa Mandarin lagi,” harap pria 71 tahun ini.

Tak hanya kursus Mandarin. Nasib pawai budaya seperti, tarian barongsai, serta kirab yang biasanya ada setiap tahun kini juga mandek total. Kirab yang memang dijadikan agenda tahunan di Kota Mojokerto kerap kali ditonton oleh banyak masyarakat.

Tak hanya dari Mojokerto saja. Bahkan, banyak juga penonton yang berasal dari Lamongan hingga Jombang. ”Ramai sekali, mulainya jam 18.00 tapi penonton udah merapat sejak jam 16.00. Niasanya mereka berburu kulinernya juga,” tutur Albert Gunardi, salah satu pemain barongsai.

Pria 33 itu menuturkan bahwa ia sudah latihan barongsai di kelenteng tersebut sejak SD kelas VI. Namun, semenjak tahun 2017, ia dan beberapa rekannya yang sesama pemain barongsai di kelenteng akhirnya mendirikan kelompok barongsai sendiri.

”Dan sekarang pun anggotanya nggak hanya orang China saja, bahkan yang Jawa juga banyak,” ujarnya. Tak hanya bangunan, bahasa maupun budaya. Kini, Kampung Pecinan Kota Mojokerto sendiri sudah membaur dengan masyarakat sekitar.

Sehingga geliat masyarakat Tionghoa di kawasan Pecinan atau Jalan Majapahit meredup. Tak hanya tegerus zaman. Budaya China dan Jawa kini sudah menyatu, sehingga sulit ditemukan ciri khas dari Kampung Pecinan di Kota Mojokerto.

”Zamannya sudah berubah, banyak pembangunan ini-itu. Beda pas zaman saya kecil dulu,” tukas Albert. (oce)

(mj/ris/ris/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia