alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Ratusan Warga Seketi Blokade Galian C

Protes Dampak Aktivitas Penambangan
GONDANG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan warga Dusun Seketi, Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang kembali menggelar unjuk rasa, kemarin siang. Aksi massa itu dipicu aktivitas galian C yang dianggap merusak lingkungan setempat.

Warga yang didominasi ibu-ibu dan anak-anak memblokade akses masuk tambang milik Widhi Sulthon Wahyudi. Mereka menggeruduk galian dengan dipimpin satu mobil komando berpengeras suara. Warga juga melengkapi aksi dengan poster dan spanduk. Di antaranya bertuliskan ’’Cabut Izin Penambang Perusak Lingkungan’’ hingga ’’Pak Kapolri Tolong Tangkap Predator Galian C ilegal’’.

Mereka menuntut agar tambang pasir dan batu (sirtu) di wilayah Dusun Seketi ditutup lantaran dinilai menimbulkan kerusakan lingkungan. Mulai dari keruhnya air, rusaknya jalan desa yang mengakibatkan kecelakaan, hingga sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat tergerus aktivitas galian.

Selain meminta penghentian aktivitas tambang, warga juga meminta pemerintah desa tidak memberikan izin galian C beroperasi. Juga, menarik keberadaan alat berat di Dusun Seketi. ’’Kami minta supaya aktivitas galian di Dusun Seketi dan sekitarnya berhenti. Dan, alat berat di sini harus dikeluarkan. Kalau tidak, warga akan menduduki galian dan membakar alat berat,’’ ujar Sumartik, salah seorang perwakilan warga.

Baca Juga :  Berjam-jam di Bandara, Bus Salawat Mandek di Puncak Haji

Itu bukan isapan jempol belaka. Sebab, kekesalan warga telah memuncak dan terakumulasi. Ini merupakan unjuk rasa yang ketiga kalinya agar galian sirtu milik Widhi Sulthon Wahyudi ditutup. Terlebih, sejak beberapa pekan ini aksi warga tak kunjung mendapat respon serius dari pihak terkait. Justru, aktivitas tambang terus beroperasi.

Aksi berlangsung hingga kemarin petang. Sempat dilakukan mediasi antara massa aksi dengan pemilik tambang. Mediasi berlangsung alot meski telah ditengahi oleh TNI/Polri. Bahkan, di tengah proses mediasi, suasana sempat memanas. Perwakilan warga dan pihak galian sempat hampir adu jotos. ’’Memang tadi sempat panas. Padahal tadi hampir menemukan jalan tengahnya. Tadi itu memang ulah preman galian saja,’’ sebut Sumartik.

Ada beberapa kesepakatan yang dicapai kedua pihak. Yakni, semua alat berat di lokasi galian Dusun Seketi dikeluarkan. Dan, aktivitas tambang dihentikan sementara hingga ada hasil mediasi yang bakal kembali digelar di kantor desa, Senin (4/7) depan. ’’Hasil kesepakatan sementara ini semua alat berat dikeluarkan sampai ada pembahasan lebih lanjut,’’ Imbuh Sumartik.

Sementara itu, pemilik galian C Widhi Sulthon Wahyudi mengatakan, pihaknya tidak keberatan jika aktivitas pertambangan miliknya ditutup. Hanya saja, dia mengkhawatirkan proses reklamasi yang bakal tidak terealisasi ketika tambang ditutup.

Baca Juga :  Eks Kadis PUPR Kota Mojokerto Cairkan Pinjaman dari Penjara

’’Galian kami punya izin dan legal. Kami tidak keberatan kalau ditutup. Tapi kita punya tanggung jawab untuk mereklamasi tanah yang sudah digali. Kalau sekarang ditutup, kami tidak bisa mereklamasi tanah milik warga,’’ terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Kanit Tipidter Satreskrim Polres Mojokerto Iptu Raditya Herlambang menerangkan, aparat penegak hukum (APH) berupaya samaksimal mungkin menengahi polemik tersebut. Menurutnya, warga bisa menuntut tanggung jawab pemilik galian atas imbas kerusakan lingkungan sekitar. Baik, jalan rusak hingga tembok rumah warga yang rusak.

’’Karena ini dampak langsung dari aktivitas tambang, warga bisa melaporkan ke pihak tambang. Supaya bisa ditindak lanjuti sebagai bentuk tanggung jawab,’’ terangnya.

Herlambang menegaskan, atas polemik ini, warga diminta tidak gegabah mengambil keputusan. Yakni menutup dan menghambat aktivitas galian sirtu milik warga Sidoarjo itu.

Sebab, hal tersebut bakal menimbulkan persoalan baru. Lantaran dinilai merugikan pihak lain. Sehingga, mereka bisa dikenakan pelanggaran hukum. ’’Jangan sampai aksi protes warga ini menimbulkan pelanggaran hukum bagi warga sendiri. Jadi, permasalahan yang ditimbulkan makin meluas. Kami imbau agar jangan sampai ada permasalahan baru,’’ tandasnya. (vad/fen)

Protes Dampak Aktivitas Penambangan
GONDANG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan warga Dusun Seketi, Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang kembali menggelar unjuk rasa, kemarin siang. Aksi massa itu dipicu aktivitas galian C yang dianggap merusak lingkungan setempat.

Warga yang didominasi ibu-ibu dan anak-anak memblokade akses masuk tambang milik Widhi Sulthon Wahyudi. Mereka menggeruduk galian dengan dipimpin satu mobil komando berpengeras suara. Warga juga melengkapi aksi dengan poster dan spanduk. Di antaranya bertuliskan ’’Cabut Izin Penambang Perusak Lingkungan’’ hingga ’’Pak Kapolri Tolong Tangkap Predator Galian C ilegal’’.

Mereka menuntut agar tambang pasir dan batu (sirtu) di wilayah Dusun Seketi ditutup lantaran dinilai menimbulkan kerusakan lingkungan. Mulai dari keruhnya air, rusaknya jalan desa yang mengakibatkan kecelakaan, hingga sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat tergerus aktivitas galian.

Selain meminta penghentian aktivitas tambang, warga juga meminta pemerintah desa tidak memberikan izin galian C beroperasi. Juga, menarik keberadaan alat berat di Dusun Seketi. ’’Kami minta supaya aktivitas galian di Dusun Seketi dan sekitarnya berhenti. Dan, alat berat di sini harus dikeluarkan. Kalau tidak, warga akan menduduki galian dan membakar alat berat,’’ ujar Sumartik, salah seorang perwakilan warga.

Baca Juga :  Makam Mister X Kota Mojokerto, Perempuan Bermuka Remuk dan Bermata Raksasa

Itu bukan isapan jempol belaka. Sebab, kekesalan warga telah memuncak dan terakumulasi. Ini merupakan unjuk rasa yang ketiga kalinya agar galian sirtu milik Widhi Sulthon Wahyudi ditutup. Terlebih, sejak beberapa pekan ini aksi warga tak kunjung mendapat respon serius dari pihak terkait. Justru, aktivitas tambang terus beroperasi.

Aksi berlangsung hingga kemarin petang. Sempat dilakukan mediasi antara massa aksi dengan pemilik tambang. Mediasi berlangsung alot meski telah ditengahi oleh TNI/Polri. Bahkan, di tengah proses mediasi, suasana sempat memanas. Perwakilan warga dan pihak galian sempat hampir adu jotos. ’’Memang tadi sempat panas. Padahal tadi hampir menemukan jalan tengahnya. Tadi itu memang ulah preman galian saja,’’ sebut Sumartik.

- Advertisement -

Ada beberapa kesepakatan yang dicapai kedua pihak. Yakni, semua alat berat di lokasi galian Dusun Seketi dikeluarkan. Dan, aktivitas tambang dihentikan sementara hingga ada hasil mediasi yang bakal kembali digelar di kantor desa, Senin (4/7) depan. ’’Hasil kesepakatan sementara ini semua alat berat dikeluarkan sampai ada pembahasan lebih lanjut,’’ Imbuh Sumartik.

Sementara itu, pemilik galian C Widhi Sulthon Wahyudi mengatakan, pihaknya tidak keberatan jika aktivitas pertambangan miliknya ditutup. Hanya saja, dia mengkhawatirkan proses reklamasi yang bakal tidak terealisasi ketika tambang ditutup.

Baca Juga :  Eks Kadis PUPR Kota Mojokerto Cairkan Pinjaman dari Penjara

’’Galian kami punya izin dan legal. Kami tidak keberatan kalau ditutup. Tapi kita punya tanggung jawab untuk mereklamasi tanah yang sudah digali. Kalau sekarang ditutup, kami tidak bisa mereklamasi tanah milik warga,’’ terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Kanit Tipidter Satreskrim Polres Mojokerto Iptu Raditya Herlambang menerangkan, aparat penegak hukum (APH) berupaya samaksimal mungkin menengahi polemik tersebut. Menurutnya, warga bisa menuntut tanggung jawab pemilik galian atas imbas kerusakan lingkungan sekitar. Baik, jalan rusak hingga tembok rumah warga yang rusak.

’’Karena ini dampak langsung dari aktivitas tambang, warga bisa melaporkan ke pihak tambang. Supaya bisa ditindak lanjuti sebagai bentuk tanggung jawab,’’ terangnya.

Herlambang menegaskan, atas polemik ini, warga diminta tidak gegabah mengambil keputusan. Yakni menutup dan menghambat aktivitas galian sirtu milik warga Sidoarjo itu.

Sebab, hal tersebut bakal menimbulkan persoalan baru. Lantaran dinilai merugikan pihak lain. Sehingga, mereka bisa dikenakan pelanggaran hukum. ’’Jangan sampai aksi protes warga ini menimbulkan pelanggaran hukum bagi warga sendiri. Jadi, permasalahan yang ditimbulkan makin meluas. Kami imbau agar jangan sampai ada permasalahan baru,’’ tandasnya. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/