alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Sunday, May 22, 2022

Mahasiswa Tolak Tambang Ilegal, Gelar Aksi di Depan Mapolres

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – HUT ke-74 Bhayangkara diwarnai aksi demonstrasi dari kalangan mahasiswa. Rabu (1/7) mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Mojokerto ini mendatangi Mapolres Mojokerto, di Jalan Gajah Mada, Mojosari.

Kedatangan mereka untuk menyampaikan aspirasi penolakan terhadap keberadaan pertambangan yang diduga ilegal. Selain berorasi, mahasiswa yang tergabung dari berbagai kampus ini juga membentangkan poster bernada sindiran.

Salah satunya mendesak pihak kepolisian untuk segera menertibkan serta menindak tegas usaha pertambangan yang tidak sesuai ketentuan. ’’Tolak tambang ilegal,’’ teriak salah satu peserta aksi menggunakan pengeras suara.

Hanya, aksi yang diikuti puluhan mahasiswa ini tak berlangsung lama. Setelah aksi mereka dibubarkan petugas. Mereka dilarang menggelar aksi dan diminta menunda aksinya di lain hari.

Baca Juga :  Telurkan Ratusan Inovasi, Ning Ita Bertabur Prestasi

’’Karena ini HUT Bhayangkara, kami mendapat informasi dari polres, tidak boleh membuat kegiatan, dengan begitu kami menunda aksi untuk mengawal kasus galian ilegal di Mojokerto,’’ kata Sekretaris PC PMII Mojokerto Dwi Yulianto.

Mereka berencana menggelar aksi kembali dengan massa yang lebih banyak. Dengan harapan, laporan data akan keberadaan galian diduga ilegal yang sudah dikantongi dapat diterima langsung oleh Polres Mojokerto.

Menurut Dwi, aksi kali ini difokuskan dengan menjamurnya galian diduga ilegal. Setidaknya, dari data yang dikantongi PMII, ada lima titik galian baru diduga tidak mengantongi izin namun tetap saja beroperasi.

’’Galian baru ilegal itu salah satunya ada di Kecamatan Gondang, dan di Desa Wiyu, Kecamatan Pacet,’’ jelasnya. Aksi ini sekaligus sebagai puncak kekecewaan terhadap aparat yang dinilai lamban dalam menindak galian diduga ilegal.

Baca Juga :  Empat Rekanan Bersaing Ketat

Dwi menuturkan, aksi ini sekaligus sebagai ”kado” bagi polisi di HUT ke-74 Bhayangkara. ’’Kita ini memberi tahu masalah baru di sini, agar cepat disikapi polres,’’ ujarnya. Apalagi, keberadaan galian C disebutnya berpotensi merusak ekosistem alam.

’’Ada pencemaran air yang makin keruh, petani juga kehilangan lahan untuk menanam. Serta berdampak pada menyusutnya sumber air. Baik untuk kebutuhan hidup maupun lahan pertanian,’’ paparnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP Rifaldhy Hangga Putra menegaskan, galian ilegal yang menjadi fokus aksi mahasiswa ini sudah menjadi atensi kepolisian. Penyidik akan melakukan kroscek ke lapangan sesuai titik lokasi galian. ’’Kalau ada (pelanggaran, Red) silakan datang. Laporkan, biar kita tindaklanjuti,’’ ungkapnya.  

 

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – HUT ke-74 Bhayangkara diwarnai aksi demonstrasi dari kalangan mahasiswa. Rabu (1/7) mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Mojokerto ini mendatangi Mapolres Mojokerto, di Jalan Gajah Mada, Mojosari.

Kedatangan mereka untuk menyampaikan aspirasi penolakan terhadap keberadaan pertambangan yang diduga ilegal. Selain berorasi, mahasiswa yang tergabung dari berbagai kampus ini juga membentangkan poster bernada sindiran.

Salah satunya mendesak pihak kepolisian untuk segera menertibkan serta menindak tegas usaha pertambangan yang tidak sesuai ketentuan. ’’Tolak tambang ilegal,’’ teriak salah satu peserta aksi menggunakan pengeras suara.

Hanya, aksi yang diikuti puluhan mahasiswa ini tak berlangsung lama. Setelah aksi mereka dibubarkan petugas. Mereka dilarang menggelar aksi dan diminta menunda aksinya di lain hari.

Baca Juga :  Bangkitkan Kembali Spirit Majapahit, Wali Kota Ngremo Bareng Suami

’’Karena ini HUT Bhayangkara, kami mendapat informasi dari polres, tidak boleh membuat kegiatan, dengan begitu kami menunda aksi untuk mengawal kasus galian ilegal di Mojokerto,’’ kata Sekretaris PC PMII Mojokerto Dwi Yulianto.

Mereka berencana menggelar aksi kembali dengan massa yang lebih banyak. Dengan harapan, laporan data akan keberadaan galian diduga ilegal yang sudah dikantongi dapat diterima langsung oleh Polres Mojokerto.

- Advertisement -

Menurut Dwi, aksi kali ini difokuskan dengan menjamurnya galian diduga ilegal. Setidaknya, dari data yang dikantongi PMII, ada lima titik galian baru diduga tidak mengantongi izin namun tetap saja beroperasi.

’’Galian baru ilegal itu salah satunya ada di Kecamatan Gondang, dan di Desa Wiyu, Kecamatan Pacet,’’ jelasnya. Aksi ini sekaligus sebagai puncak kekecewaan terhadap aparat yang dinilai lamban dalam menindak galian diduga ilegal.

Baca Juga :  HDCI Kediri Raya Gelar Bansos dan City Tour di Mojokerto

Dwi menuturkan, aksi ini sekaligus sebagai ”kado” bagi polisi di HUT ke-74 Bhayangkara. ’’Kita ini memberi tahu masalah baru di sini, agar cepat disikapi polres,’’ ujarnya. Apalagi, keberadaan galian C disebutnya berpotensi merusak ekosistem alam.

’’Ada pencemaran air yang makin keruh, petani juga kehilangan lahan untuk menanam. Serta berdampak pada menyusutnya sumber air. Baik untuk kebutuhan hidup maupun lahan pertanian,’’ paparnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP Rifaldhy Hangga Putra menegaskan, galian ilegal yang menjadi fokus aksi mahasiswa ini sudah menjadi atensi kepolisian. Penyidik akan melakukan kroscek ke lapangan sesuai titik lokasi galian. ’’Kalau ada (pelanggaran, Red) silakan datang. Laporkan, biar kita tindaklanjuti,’’ ungkapnya.  

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/