alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Penumpang di Terminal Sepi, Kernet Bus Teriak-Teriak Sendiri

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Seorang kernet bus freelance mengeluh lantaran sejumlah bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKAP)  kini  tidak beroperasi lagi.

Bahkan, puluhan bus mini memilih untuk mengkandangkan kendaraan karena sepinya penumpang. Saat ini, tersisa 6 armada bus mini yang masih bertahan. Itu pun mereka mengalami penurunan penumpang yang cukup drastis.

Demikian itu terjadi lantaran adanya penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di tiga wilayah. Di antaranya, Surabaya, Sidoarjo, dan Gersik. Secara tidak langsung, Terminal Kertajaya terkena imbasnya. Sebab, terminal tersebut selama ini sebagai lintasan antarkota.

Sejumlah warga yang kesehariannya mengais rejeki dengan menggantungkan akomodasi transportasi umum kini tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang dialami salah satu kernet bus freelance, Slamet, 45. Saat ini, di kehilangan mata pencahariannya. Dia nyaris berperilaku aneh dengan berteriak-teriak di dalam terminal.

Baca Juga :  Vaksinasi Booster Sasar Guru dan ASN

”Dia teriak-teriak seperti orang stres gitu,” ungkap Ahmad Yazid Kordinator Terminal Kertajaya, kemarin. Yazid menceritakan, dampak PSBB itu mulai menyentuh terminal sejak awal penerapan peraturan tersebut diberlakukan. Tepatnya pada Selasa (28/4).

Kemudian di hari ketiga, tepatnya pada Kamis (30/4) beberapa kernet yang masih bertahan mulai oleng atau kebingungan, karena tidak ada penumpang. ”Terus, Pak Slamet ini mulai pagi sudah bingung, karena bus tidak ada yang jalan. Ahirnya, dia teriak-teriak,” katanya.

Aksi keluhnya itu sempat diunggah oleh pemilik akun facebook @YazidAlfarizi. Dalam video tersebut tampak seorang pria mengenakan switer warna biru, dan celana bahan jeans merengek meminta dicarikan pekerjaan untuk menghidupi kebutuhan hidup keluarganya.

Bahkan, dia mengeluhkan nasibnya kepada sejumlah petugas dishub, TNI, dan Polri yang bertugas di terminal. ”Aku iki sembarang tak lakoni pak, ayo golekno pekerjaan kuli. Golekno pekerjaan kuli, ndak Slamet matek tak lakonane. Sembarang tak lakone, gae anakku, gae anak bojoko.  Gak onok sing dipangan pak. Demi Allah, kuli kuli gelem,” keluhnya 

Baca Juga :  Sekali Transaksi, Satu Kilogram Sabu, Disimpan di Areal Persawahan

Mendengar keluhannya itu, petugas pun mengajaknya berkomunikasi dan mencoba untuk menenangkan pria bernasib malang terdampak Covid-19 ini. ”Diberikan sedikit sembako untuk keperluan anak istrinya. Terus dia pulang,” katanya. Yazid menjelaskan, Slamet adalah kernet freelance yang biasa bekerja di bus hijau jurusan Terminal Kertajaya-Joyoboyo Wonokromo.

Dia memiliki dua anak yang masih kecil dan seorang istri.  ”Hari ini (kemarin, Red) nggak kelihatan, mungkin karena tahu juga bus nggak jalan. Jadi dia nggak datang. Hari ini (kemarin, Red) saja cuman ada 10 penumpang yang naik bus kuning. Lihat sendiri kan kondisinya lengang sekali,” pungkasnya. (hin)

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Seorang kernet bus freelance mengeluh lantaran sejumlah bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKAP)  kini  tidak beroperasi lagi.

Bahkan, puluhan bus mini memilih untuk mengkandangkan kendaraan karena sepinya penumpang. Saat ini, tersisa 6 armada bus mini yang masih bertahan. Itu pun mereka mengalami penurunan penumpang yang cukup drastis.

Demikian itu terjadi lantaran adanya penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di tiga wilayah. Di antaranya, Surabaya, Sidoarjo, dan Gersik. Secara tidak langsung, Terminal Kertajaya terkena imbasnya. Sebab, terminal tersebut selama ini sebagai lintasan antarkota.

Sejumlah warga yang kesehariannya mengais rejeki dengan menggantungkan akomodasi transportasi umum kini tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang dialami salah satu kernet bus freelance, Slamet, 45. Saat ini, di kehilangan mata pencahariannya. Dia nyaris berperilaku aneh dengan berteriak-teriak di dalam terminal.

Baca Juga :  Pabrik Tepung Meledak, Diduga saat Uji Coba Produk Baru

”Dia teriak-teriak seperti orang stres gitu,” ungkap Ahmad Yazid Kordinator Terminal Kertajaya, kemarin. Yazid menceritakan, dampak PSBB itu mulai menyentuh terminal sejak awal penerapan peraturan tersebut diberlakukan. Tepatnya pada Selasa (28/4).

Kemudian di hari ketiga, tepatnya pada Kamis (30/4) beberapa kernet yang masih bertahan mulai oleng atau kebingungan, karena tidak ada penumpang. ”Terus, Pak Slamet ini mulai pagi sudah bingung, karena bus tidak ada yang jalan. Ahirnya, dia teriak-teriak,” katanya.

- Advertisement -

Aksi keluhnya itu sempat diunggah oleh pemilik akun facebook @YazidAlfarizi. Dalam video tersebut tampak seorang pria mengenakan switer warna biru, dan celana bahan jeans merengek meminta dicarikan pekerjaan untuk menghidupi kebutuhan hidup keluarganya.

Bahkan, dia mengeluhkan nasibnya kepada sejumlah petugas dishub, TNI, dan Polri yang bertugas di terminal. ”Aku iki sembarang tak lakoni pak, ayo golekno pekerjaan kuli. Golekno pekerjaan kuli, ndak Slamet matek tak lakonane. Sembarang tak lakone, gae anakku, gae anak bojoko.  Gak onok sing dipangan pak. Demi Allah, kuli kuli gelem,” keluhnya 

Baca Juga :  Jual Motor untuk Kebutuhan Keluarga, Susu Anak Diganti Tajin

Mendengar keluhannya itu, petugas pun mengajaknya berkomunikasi dan mencoba untuk menenangkan pria bernasib malang terdampak Covid-19 ini. ”Diberikan sedikit sembako untuk keperluan anak istrinya. Terus dia pulang,” katanya. Yazid menjelaskan, Slamet adalah kernet freelance yang biasa bekerja di bus hijau jurusan Terminal Kertajaya-Joyoboyo Wonokromo.

Dia memiliki dua anak yang masih kecil dan seorang istri.  ”Hari ini (kemarin, Red) nggak kelihatan, mungkin karena tahu juga bus nggak jalan. Jadi dia nggak datang. Hari ini (kemarin, Red) saja cuman ada 10 penumpang yang naik bus kuning. Lihat sendiri kan kondisinya lengang sekali,” pungkasnya. (hin)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/