alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Prajurit Yonif Para Raider pun “Bertempur” Basmi Demam Berdarah

MOJOKERTO – Tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) selama musim penghujan ini menjadi atensi semua lapisan masyarakat di Mojokerto. Termasuk dari Satuan Yonif Para Raider 503/Mayangkara, Mojosari.

Menggandeng, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, prajurit yang disiapkan menjadi pasukan khusus tempur ini melakukan fogging di lingkungan markas komando Sabtu (2/1).

Pengasapan yang dimulai dari pagi itu dengan mengerahkan dua mesin fogging sekaligus. Didampingi dokter Batalyon, Letnan Dua CKM. dr. M. Farfidia Hatala, fogging ini dipimpin Danyonif Para raider 503/Mayangkara, Mayor INF Hadrianus Yossy S. B. 

Tidak hanya menyasar barak prajurit, fogging juga menyisir seluruh area markas komando. Meliputi, MCK, kamar, rumah dinas, dan selokan. “Ini memang sebagai bentuk antisipasi kami untuk menghindari DBD,” kata Danyonif.

Menurutnya, musim hujan yang tengah berlangsung saat ini membuat masyarakat, khususnya prajurit dan keluarga yang berada di mako harus lebih waspada terhadap serangan penyakit disebabkan nyamuk aedes aegypti.

Tak urung sebagai upaya antisipasi, pihaknya pun memutuskan melakukan fogging. “Prinsipnya mencegah lebih baik daripada mengobati,” tuturnya. Karena itu, pihaknya mengimbau semua prajurit dan keluarga agar lebih menjaga kebersihan rumah, dan lingkungan.

Baca Juga :  Tempat Karaoke Kota Dibuka Lagi

Termasuk rutin menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan gerakan 3M. Yakni, menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi, dan mengubur barang bekas. “Sebenarnya, untuk memberantas nyamuk demam berdarah itu dari lingkungan sendiri. Jadi, kebersihan perlu dijaga, di rumah, termasuk markas dan barak dari air yang tertampung,” tandasnya.

Termasuk memberantas sarang nyamuk lewat gotong royong dengan membersihkan parit dan genangan air. Dokter Batalyon, Letnan Dua CKM. dr. M. Farfidia Hatala, menambahkan, fogging ini memang tak lain untuk mencegah serangan DBD.

Menyusul, di wilayah Jawa Timur (Jatim) belakangan ini, kasus DBD cukup tinggi dibanding. Tak terkecuali di Mojokerto. Artinya, puncak musim hujan yang terjadi sekarang ini rawan akan serangan jenis nyamuk aedes aegypti sebagai vektor utama dan aedes albopictussebagai vektor sekunder.

Baca Juga :  Hasil Panen untuk Korban Pandemi, Pesantren Bagikan Nasi Bungkus

“Tapi, Alhamdulillah, dalam catatan klinik kami belum pernah ada kasus di batalyon,” tuturnya. Satuan Yonif Para Raider 503/Mayangkara selama ini dihuni oleh sekitar 1.300 orang. Meliputi 630 prajurit. Selebihnya adalah keluarga prajurit, istri dan anak. 

Dia menyebut, tak hanya foging,  prajurit juga dituntut untuk memburu jentik dan melakukan pembatasan sarang nyamuk di lingkungan mako. Yakni dengan melakukan M4+ bukan 3 M lagi. Yakni, menutup, menguras, mengubur memakai loutioen dan memekai klambu. “Memakai klambu itu yang utama untuk menghindari gigitan nyamuk saat tidur,” tegasnya.

Kata dia, foging dan sejumlah giat ini sudah menjadi agenda rutin tiap musim hujan. “Yang jelas, batalyon kita canangkan sebagai zero DBD,” pungkasnya. (ori)

MOJOKERTO – Tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) selama musim penghujan ini menjadi atensi semua lapisan masyarakat di Mojokerto. Termasuk dari Satuan Yonif Para Raider 503/Mayangkara, Mojosari.

Menggandeng, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, prajurit yang disiapkan menjadi pasukan khusus tempur ini melakukan fogging di lingkungan markas komando Sabtu (2/1).

Pengasapan yang dimulai dari pagi itu dengan mengerahkan dua mesin fogging sekaligus. Didampingi dokter Batalyon, Letnan Dua CKM. dr. M. Farfidia Hatala, fogging ini dipimpin Danyonif Para raider 503/Mayangkara, Mayor INF Hadrianus Yossy S. B. 

Tidak hanya menyasar barak prajurit, fogging juga menyisir seluruh area markas komando. Meliputi, MCK, kamar, rumah dinas, dan selokan. “Ini memang sebagai bentuk antisipasi kami untuk menghindari DBD,” kata Danyonif.

Menurutnya, musim hujan yang tengah berlangsung saat ini membuat masyarakat, khususnya prajurit dan keluarga yang berada di mako harus lebih waspada terhadap serangan penyakit disebabkan nyamuk aedes aegypti.

Tak urung sebagai upaya antisipasi, pihaknya pun memutuskan melakukan fogging. “Prinsipnya mencegah lebih baik daripada mengobati,” tuturnya. Karena itu, pihaknya mengimbau semua prajurit dan keluarga agar lebih menjaga kebersihan rumah, dan lingkungan.

Baca Juga :  Ning Ita Kawal Langsung Evaluasi Kinerja OPD
- Advertisement -

Termasuk rutin menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan gerakan 3M. Yakni, menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi, dan mengubur barang bekas. “Sebenarnya, untuk memberantas nyamuk demam berdarah itu dari lingkungan sendiri. Jadi, kebersihan perlu dijaga, di rumah, termasuk markas dan barak dari air yang tertampung,” tandasnya.

Termasuk memberantas sarang nyamuk lewat gotong royong dengan membersihkan parit dan genangan air. Dokter Batalyon, Letnan Dua CKM. dr. M. Farfidia Hatala, menambahkan, fogging ini memang tak lain untuk mencegah serangan DBD.

Menyusul, di wilayah Jawa Timur (Jatim) belakangan ini, kasus DBD cukup tinggi dibanding. Tak terkecuali di Mojokerto. Artinya, puncak musim hujan yang terjadi sekarang ini rawan akan serangan jenis nyamuk aedes aegypti sebagai vektor utama dan aedes albopictussebagai vektor sekunder.

Baca Juga :  Bukan Kolam Renang, tapi Dipakai Terapi

“Tapi, Alhamdulillah, dalam catatan klinik kami belum pernah ada kasus di batalyon,” tuturnya. Satuan Yonif Para Raider 503/Mayangkara selama ini dihuni oleh sekitar 1.300 orang. Meliputi 630 prajurit. Selebihnya adalah keluarga prajurit, istri dan anak. 

Dia menyebut, tak hanya foging,  prajurit juga dituntut untuk memburu jentik dan melakukan pembatasan sarang nyamuk di lingkungan mako. Yakni dengan melakukan M4+ bukan 3 M lagi. Yakni, menutup, menguras, mengubur memakai loutioen dan memekai klambu. “Memakai klambu itu yang utama untuk menghindari gigitan nyamuk saat tidur,” tegasnya.

Kata dia, foging dan sejumlah giat ini sudah menjadi agenda rutin tiap musim hujan. “Yang jelas, batalyon kita canangkan sebagai zero DBD,” pungkasnya. (ori)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/