alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Dana Insentif Nakes Covid-19 Macet

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Di tengah harus bekerja ekstra seiring meningkatnya rujukan pasien Covid-19, nasib tenaga kesehahatan (nakes) di Kota Mojokerto justru dibuat kecewa. Pasalnya, dana insentif yang seharusnya menjadi haknya belum diterima. Bahkan,  garda terdepan dalam merawat pasien terpapar virus korona ini belum mendapat pencairan selama empat bulan.

Salah seorang nakes di ruang isolasi Covid-19 di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto menyatakan, memasuki 2021 ini, bantuan dana insentif dari pemerintah pusat belum sepenuhnya diterima. Bahkan, bantuan untuk nakes yang melakukan penanganan Covid-19 macet selama empat bulan. ’’Terakhir turun untuk bulan Agustus, itu pun nilainya tidak utuh,’’ terangnya.

Menurutnya, dari jatah Rp 7,5 juta yang seharusnya diterima perawat, dia hanya menerima Rp 4,4 juta. Warga asal Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, ini mengaku tidak mengetahui penyebab dana insentif yang diterima itu tidak 100 persen. ’’Padahal, Juli saya terima penuh Rp 7,5 juta,’’ bebernya.

Tidak hanya itu, dia juga mempertanyakan belum cairnya insentif selama periode September-Desember 2020. Ngendonnya jatah insentif selama empat bulan itu rupanya juga dialami ratusan nakes dan tenaga medis lain yang menangani Covid-19 di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo.

Baca Juga :  Bayi Cantik Lahir di HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

Padahal, sebut dia, dia dan rekan nakes lainnya sudah rutin membuat laporan kinerja selama bertugas di ruang isolasi. ’’Laporan individu tiap bulan juga tidak pernah telat, semua kami laporkan sesuai deadline,’’ selorohnya.

Kendati demikian, pencairan dana insentif yang seharusnya diterima tiap bulan itu pencairannya selalu terlambat. Disebutkannya, sejak rumah sakit pelat merah milik Pemkot Mojokerto ditunjuk sebagai RS rujukan Covid-19, jatah insentif untuk April-Mei turun Agustus lalu. Pun demikian dengan insentif bulan Juli-Juni yang baru turun pada November. Dan terakhir, jatah bulan Agustus baru direalisasi pada akhir Desember 2020 lalu. ’’Untuk insentif September sampai Desember (2020) belum ada kejelasan sampai sekarang,’’ keluhnya.

Dia dan sesama rekan nakes lain yang bertugas di garda terdepan penanganan Covid-19 pun sangat kecewa. Terlebih, saat ini mereka harus bekerja lebih ekstra karena semakin bertambahnya jumlah pasien Covid-19 yang dirawat.

Di sisi lain, tidak sedikit pula nakes di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo yang terpapar Covid-19. ’’Alhamdulilah sudah banyak yang sembuh, tapi ada satu yang meninggal dunia,’’ tandasnya.

Sementara itu, Plt Direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto dr Triastutik Sri Prastini tidak menampik jika dana insentif bagi nakes dan paramedis lain yang menangani Covid-19 belum terpenuhi di 2020. Dia menyebut, bantuan dana hanya terealisasi sampai dengan Agustus 2020 lalu. ’’September-Desember sama sekali memang belum ada dari APBN,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Kota Terima Vaksin Susulan 4.280 Dosis

Meski demikian, pihaknya menyatakan jika tetap berupaya untuk melakukan input data para nakes untuk diusulkan mendapat jatah insentif. Namun, kata dia, terkait pencairan dana sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat. ’’Kita tetap input data terus dari aplikasi ke Kemenkes. Mudah-mudahan nanti dari APBN bisa tetap turun, kita juga masih menunggu,’’ papar Trias.

Disinggung terkait tidak penuhnya nilai pencairan insentif pada Agustus 2020 lalu, Wadir Pelayanan Medik RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo ini menyatakan jika hal tersebut juga kebijakan dari pemerintah pusat. Pasalnya, dari total sekitar Rp 1,4 miliar dana insentif yang diajukan pada bulan tersebut, yang turun hanya berkisar Rp 800 juta.

Sehingga, dana insentif yang diterima melalui masing-masing rekening nakes maupun paramedis lainnya tidak 100 persen. ’’Karena di bulan Agustus alokasi dana yang turun dari APBN tidak cukup. Tapi alhamdulillah bisa tetap terealisasi, kira-kira 67 persen dari total permintaan kita,’’ pungkas dokter spesialis anak ini. 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Di tengah harus bekerja ekstra seiring meningkatnya rujukan pasien Covid-19, nasib tenaga kesehahatan (nakes) di Kota Mojokerto justru dibuat kecewa. Pasalnya, dana insentif yang seharusnya menjadi haknya belum diterima. Bahkan,  garda terdepan dalam merawat pasien terpapar virus korona ini belum mendapat pencairan selama empat bulan.

Salah seorang nakes di ruang isolasi Covid-19 di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto menyatakan, memasuki 2021 ini, bantuan dana insentif dari pemerintah pusat belum sepenuhnya diterima. Bahkan, bantuan untuk nakes yang melakukan penanganan Covid-19 macet selama empat bulan. ’’Terakhir turun untuk bulan Agustus, itu pun nilainya tidak utuh,’’ terangnya.

Menurutnya, dari jatah Rp 7,5 juta yang seharusnya diterima perawat, dia hanya menerima Rp 4,4 juta. Warga asal Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, ini mengaku tidak mengetahui penyebab dana insentif yang diterima itu tidak 100 persen. ’’Padahal, Juli saya terima penuh Rp 7,5 juta,’’ bebernya.

Tidak hanya itu, dia juga mempertanyakan belum cairnya insentif selama periode September-Desember 2020. Ngendonnya jatah insentif selama empat bulan itu rupanya juga dialami ratusan nakes dan tenaga medis lain yang menangani Covid-19 di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo.

Baca Juga :  Insentif Nakes Covid-19, Dokter Terima Rp 15 Juta Per Bulan

Padahal, sebut dia, dia dan rekan nakes lainnya sudah rutin membuat laporan kinerja selama bertugas di ruang isolasi. ’’Laporan individu tiap bulan juga tidak pernah telat, semua kami laporkan sesuai deadline,’’ selorohnya.

Kendati demikian, pencairan dana insentif yang seharusnya diterima tiap bulan itu pencairannya selalu terlambat. Disebutkannya, sejak rumah sakit pelat merah milik Pemkot Mojokerto ditunjuk sebagai RS rujukan Covid-19, jatah insentif untuk April-Mei turun Agustus lalu. Pun demikian dengan insentif bulan Juli-Juni yang baru turun pada November. Dan terakhir, jatah bulan Agustus baru direalisasi pada akhir Desember 2020 lalu. ’’Untuk insentif September sampai Desember (2020) belum ada kejelasan sampai sekarang,’’ keluhnya.

- Advertisement -

Dia dan sesama rekan nakes lain yang bertugas di garda terdepan penanganan Covid-19 pun sangat kecewa. Terlebih, saat ini mereka harus bekerja lebih ekstra karena semakin bertambahnya jumlah pasien Covid-19 yang dirawat.

Di sisi lain, tidak sedikit pula nakes di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo yang terpapar Covid-19. ’’Alhamdulilah sudah banyak yang sembuh, tapi ada satu yang meninggal dunia,’’ tandasnya.

Sementara itu, Plt Direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto dr Triastutik Sri Prastini tidak menampik jika dana insentif bagi nakes dan paramedis lain yang menangani Covid-19 belum terpenuhi di 2020. Dia menyebut, bantuan dana hanya terealisasi sampai dengan Agustus 2020 lalu. ’’September-Desember sama sekali memang belum ada dari APBN,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Kota Terima Vaksin Susulan 4.280 Dosis

Meski demikian, pihaknya menyatakan jika tetap berupaya untuk melakukan input data para nakes untuk diusulkan mendapat jatah insentif. Namun, kata dia, terkait pencairan dana sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat. ’’Kita tetap input data terus dari aplikasi ke Kemenkes. Mudah-mudahan nanti dari APBN bisa tetap turun, kita juga masih menunggu,’’ papar Trias.

Disinggung terkait tidak penuhnya nilai pencairan insentif pada Agustus 2020 lalu, Wadir Pelayanan Medik RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo ini menyatakan jika hal tersebut juga kebijakan dari pemerintah pusat. Pasalnya, dari total sekitar Rp 1,4 miliar dana insentif yang diajukan pada bulan tersebut, yang turun hanya berkisar Rp 800 juta.

Sehingga, dana insentif yang diterima melalui masing-masing rekening nakes maupun paramedis lainnya tidak 100 persen. ’’Karena di bulan Agustus alokasi dana yang turun dari APBN tidak cukup. Tapi alhamdulillah bisa tetap terealisasi, kira-kira 67 persen dari total permintaan kita,’’ pungkas dokter spesialis anak ini. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/