alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Warga Protes Usaha Peralatan Dapur

TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Usaha peralatan dapur dan meja berbahan logam milik UD Sinar Jaya Abadi di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto mendapat protes warga.

Menyusul, pabrik yang berdiri sejak dua tahun itu dinilai mengganggu lingkungan akibat bau dari aktivitas produksi. Devanan, 60, warga sekitar mengaku resah dengan bau menyengat yang ditimbulkan dari proses peleburan logam. Bahkan, warga melayangkan surat protes kepada pihak desa dan kepolisian agar segera ditindaklanjuti. Sayangnya, lanjut dia, hingga kini pengaduan itu tak kujung mendapat respons. ’’Terakhir kemarin kita melakukan musyawarah di balai desa,’’ ungkapnya.

Menurut Devanan, musyawarah menghasilkan bahwa proses produksi pabrik tersebut akan berhenti pada 5 September. ’’Kita juga belum tahu, apakah pabrik ini punya izin atau tidak. Sebab pabrik ini kita rasa menyalahi aturan. Mereka ini bukan hanya membuat panci, melainkan juga membuat cor aluminium,’’ jelasnya.

Warga berharap pabrik tersebut berhenti beroperasi atau berpindah lokasi. Sebab, bau menyengat yang ditimbulkan dari peleburan aluminium sangat mengganggu lingkungan. Setiap hari, terang dia, warga tidak bisa bernapas dengan udara bersih. Sesekali warga harus menahan bau menyengat yang ditimbulkan dari limbah tersebut. Bau menyengat itu kerap terjadi saat pagi hari.

Baca Juga :  Sumbat Sungai, Tebar Bau Menyengat, Warga Keluhkan Sampah Dalam Kota

’’Baunya seperti bakaran kabel. Sedangkan bahannya sendiri dari benda-benda bekas yang datang saat tengah malam,’’ tegasnya. Sunasih, 58, warga lainnya menambahkan, keberadaan pabrik tak hanya menimbulkan bau menyengat. Melainkan juga berdampak terhadap kesehatannya. ’’Saya sudah lama memang mengidap penyakit sesak napas, tapi tidak pernah sampai masuk ke rumah sakit,’’ ujarnya.

Namun, kondisi itu berbeda setelah pabrik tersebut beroperasi. ’’Saya sudah dua kali masuk rumah sakit karena menghirup polusinya, terakhir Maret lalu,’’ urainya. Semenjak beroperasi, pabrik panci yang berjarak kurang lebih 20 meter di belakang rumahnya, dirinya sering mengeluh pusing dan sesak napas.

Sementara itu, Nuruddin, pemilik usaha mengaku sebenarnya bau yang ditimbulkan dari produksi pembuatan panci ini tidak begitu parah. Menyusul bahan bakar yang digunakan adalah kayu bakar. ’’Tidak terlalu menyengat. Malah lebih parah, pembuatan batu merah. Bahan bakarnya banyak dari plastik,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Biaya Kunker Dewan Dikepras

Kendati demikian, pasca mendapat protes dari warga pihaknya berjanji akan memperbaiki sistem dalam produksinya dengan memutuskan untuk berhenti beroperasi sementara. ’’Saya menghabiskan bahan dulu. Mungkin besok (hari ini, Red) sudah terakhir. Akan buat cerobong agar tidak sampai ke pemukiman,’’ ungkapnya.

Menurut Nuruddin, industri yang digelutinya sejak dua tahun terkahir ini sebenarnya sudah mendapat izin dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Mojokerto. Izin yang diterbitkan pada tanggal 19 Agustus lalu tak lain terkait izin penggunaan dan pemanfaatan tanah untuk industri usahanya. ’’Tinggal izin dari DLH saja belum turun. Jadi belum ada survei dari DLH,’’ terangnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto Didik Khusnul Yaqin mengaku tidak tahu-menahu terkait keberadaan pabrik dan pengaduan keluhan masyarakat tersebut. Kapolsek Trowulan Kompol Subiyanto turut memberikan sikap yang sama.Sejauh ini pihaknya belum memantau perihal polemik industri peralatan dapur dan aluminium yang meresahkan warga. ’’Kita akan melakukan pengecekan ke lapangan dulu,’’ kilahnya.

TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Usaha peralatan dapur dan meja berbahan logam milik UD Sinar Jaya Abadi di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto mendapat protes warga.

Menyusul, pabrik yang berdiri sejak dua tahun itu dinilai mengganggu lingkungan akibat bau dari aktivitas produksi. Devanan, 60, warga sekitar mengaku resah dengan bau menyengat yang ditimbulkan dari proses peleburan logam. Bahkan, warga melayangkan surat protes kepada pihak desa dan kepolisian agar segera ditindaklanjuti. Sayangnya, lanjut dia, hingga kini pengaduan itu tak kujung mendapat respons. ’’Terakhir kemarin kita melakukan musyawarah di balai desa,’’ ungkapnya.

Menurut Devanan, musyawarah menghasilkan bahwa proses produksi pabrik tersebut akan berhenti pada 5 September. ’’Kita juga belum tahu, apakah pabrik ini punya izin atau tidak. Sebab pabrik ini kita rasa menyalahi aturan. Mereka ini bukan hanya membuat panci, melainkan juga membuat cor aluminium,’’ jelasnya.

Warga berharap pabrik tersebut berhenti beroperasi atau berpindah lokasi. Sebab, bau menyengat yang ditimbulkan dari peleburan aluminium sangat mengganggu lingkungan. Setiap hari, terang dia, warga tidak bisa bernapas dengan udara bersih. Sesekali warga harus menahan bau menyengat yang ditimbulkan dari limbah tersebut. Bau menyengat itu kerap terjadi saat pagi hari.

Baca Juga :  DPRD Dimanjakan Gaji Berlipat dan Tunjangan Transportasi

’’Baunya seperti bakaran kabel. Sedangkan bahannya sendiri dari benda-benda bekas yang datang saat tengah malam,’’ tegasnya. Sunasih, 58, warga lainnya menambahkan, keberadaan pabrik tak hanya menimbulkan bau menyengat. Melainkan juga berdampak terhadap kesehatannya. ’’Saya sudah lama memang mengidap penyakit sesak napas, tapi tidak pernah sampai masuk ke rumah sakit,’’ ujarnya.

Namun, kondisi itu berbeda setelah pabrik tersebut beroperasi. ’’Saya sudah dua kali masuk rumah sakit karena menghirup polusinya, terakhir Maret lalu,’’ urainya. Semenjak beroperasi, pabrik panci yang berjarak kurang lebih 20 meter di belakang rumahnya, dirinya sering mengeluh pusing dan sesak napas.

- Advertisement -

Sementara itu, Nuruddin, pemilik usaha mengaku sebenarnya bau yang ditimbulkan dari produksi pembuatan panci ini tidak begitu parah. Menyusul bahan bakar yang digunakan adalah kayu bakar. ’’Tidak terlalu menyengat. Malah lebih parah, pembuatan batu merah. Bahan bakarnya banyak dari plastik,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Awalnya untuk Donasi, Biaya Produksi Swadaya Sendiri

Kendati demikian, pasca mendapat protes dari warga pihaknya berjanji akan memperbaiki sistem dalam produksinya dengan memutuskan untuk berhenti beroperasi sementara. ’’Saya menghabiskan bahan dulu. Mungkin besok (hari ini, Red) sudah terakhir. Akan buat cerobong agar tidak sampai ke pemukiman,’’ ungkapnya.

Menurut Nuruddin, industri yang digelutinya sejak dua tahun terkahir ini sebenarnya sudah mendapat izin dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Mojokerto. Izin yang diterbitkan pada tanggal 19 Agustus lalu tak lain terkait izin penggunaan dan pemanfaatan tanah untuk industri usahanya. ’’Tinggal izin dari DLH saja belum turun. Jadi belum ada survei dari DLH,’’ terangnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto Didik Khusnul Yaqin mengaku tidak tahu-menahu terkait keberadaan pabrik dan pengaduan keluhan masyarakat tersebut. Kapolsek Trowulan Kompol Subiyanto turut memberikan sikap yang sama.Sejauh ini pihaknya belum memantau perihal polemik industri peralatan dapur dan aluminium yang meresahkan warga. ’’Kita akan melakukan pengecekan ke lapangan dulu,’’ kilahnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/