alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Tembakan Polisi dan Pelukan di Saudi

IBARAT melewati lorong tanpa setitik cahaya. Pengalaman hidup Nur Rokhmat, saat itu dilewatinya dengan penuh tantangan. Tidak sekadar desakan ekonomi.

Pria 40 tahun ini hampir lima kali merasakan sesaknya hidup di balik sel jeruji. ’’Dunia hitam itu menjadi pengalaman hidup yang tidak pernah saya lupakan,’’ tutur warga Dusun Sukorejo, Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Memang, semasa kecil, kehidupan anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan (alm) Abdul Kahfi dan Jumanis ini, berbeda dengan kebanyakan anak-anak pada umumnya. Semenjak ayahnya wafat, Nur Rokhmat, hanya dibesarkan ibundanya.

Namun, lingkungan dan perilaku kehidupan semasa kecil hingga beranjak dewasa dijalani dengan penuh rintangan. Pengalaman bapak tiga anak ini tidak lepas dari dunia kriminalitas.

’’Waktu itu keadaan memang membawa saya menuju dunia hitam. Persisnya, setelah ayah saya wafat tahun 1980-an atau saya masih duduk di TK (Taman Kanak-kanak),’’ katanya.

Daokeh, begitu Nur Rokhmat akrab disapa oleh sesama teman dan lingkungan, menuturkan, semasa remaja dia tidak bisa lepas dari kenakalan. Ibarat asam garam. Terlibat dalam dunia kriminalitas ia rasakan sejak lama.

Sudah biasa. Di antaranya, terlibat kasus pencurian sepeda motor (curanmor), terlibat penjualan arca purbakala atau barang antik, tawuran antarremaja, hingga kasus pebobolan pabrik. ’’Puncak kenakalan saya antara 1997 hingga 2009 lalu. Sudah lima kali saya dipenjara,’’ terang suami Nurul Mila ini.

Baca Juga :  Program Latihan Srikandi Majapahit Dievaluasi

Sementara tahun 2006, dia tertangkap di kawasan Probolinggo saat hendak menjual arca dalam penguasaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, ke Pulau Dewata, Bali.

Salah satu kasus kejahatan yang tidak pernah dilukapan pria kelahiran 1979 ini, adalah ketika ia merasakan timah panas yang menancap di betisnya. Dia menceritakan, tahun 2007, pernah terlibat kejaran-kejaran dengan tim buru sergap (buser) kepolisian.

Saat itu, lanjut Nur Rokhmat, korps Bhayangkara mengincarnya karena kedapatan terlibat kasus pembobolan pabrik. ’’Setelah polisi mengetahui saya terlibat, mereka lantas memburu dan menembak saya. Waktu itu saya memang tidak sendirian, tapi bersama teman-teman yang lain,’’ papar pria yang mengaku di tubuhnya masih menempel tato permanen ini.

Namun, berkat pengalaman pahitnya, hati Nur Rokhmat perlahan melelah. Ibarat batu yang berlubang karena tetesan air. Sikap dan perilakunya menjalani dunia serbakeras ini akhirnya menemukan lubang cahaya.

Setelah salah satu sahabatnya mengajak kepada seorang guru sepuh, KH Chusaini Ilyas. ’’Sebenarnya saya tidak berani sowan Mbah Yai. Saya tahu diri. Saya ini orang jelek. Banyak tato di tubuh saya. Jujur saya tidak berani,’’ ingatnya mengulang.

Namun, bujukan sahabatnya membuahkan hasil. Nur Rokhmat memutuskan ikut sowan bersama sahabatnya ke KH Chusaini Ilyas, di kediamannya, Pondok Pesantren Salafiyah Al Misbar, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Kepuasan Peserta Wujud Kualitas Pelayanan Rumah Sakit Pelengkap

Nur Rokhmat mengaku setibanya di pendapa ndalem, dia hampir tidak percaya dengan kesediaan Kiai Chusaini menemuinya. Bahkan, lanjutnya, Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto tiga periode ini menyampaikan dawuh, agar dirinya tetap optimistis menjalani kehidupan.

’’Pesan Mbah Yai, katanya, ora usah wedih, tato sing ono ora usah dibusek, tapi ojo ditambahi meneh,’’ katanya mengingat.

Pesan itu, kata dia, memiliki makna mendalam. Hatinya seketika merasakan keteduhan. Kedamaian. Bahkan, dinilai sebagai isyarat tuntunan seorang guru kepada ’’murid’’ menuju jalan kehidupan yang lebih baik dan manfaat.

’’Puncaknya, saya umrah bersama beliau (Kiai Chusaini) tahun 2018. Di Masjidilharam, saya disalami, dipeluk, dan dicium orang Arab Saudi, yang sepertinya sangat mengenal dengan Mbah Yai. Di situ hati saya menangis. Karena saya sadar, saya ini orang jelek,’’ tandasnya.

Sejak saat itu kehidupan Nur Rokhmat berubah. Tak hanya sikap religius yang membuat hati keluarga dan orang dekatnya mengagumi. Demikian pula ekonominya, turut berubah 180 derajat. Kini dia mendapat amanah menjalankan bisnis swasta sebagai pengusaha avalan dan besi tua.

’’Alhamdulillah, semua ini berkat tutunan para guru,’’ paparnya dengan nada bersyukur. (ris/abi)

 

 

 

 

 

 

 

IBARAT melewati lorong tanpa setitik cahaya. Pengalaman hidup Nur Rokhmat, saat itu dilewatinya dengan penuh tantangan. Tidak sekadar desakan ekonomi.

Pria 40 tahun ini hampir lima kali merasakan sesaknya hidup di balik sel jeruji. ’’Dunia hitam itu menjadi pengalaman hidup yang tidak pernah saya lupakan,’’ tutur warga Dusun Sukorejo, Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Memang, semasa kecil, kehidupan anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan (alm) Abdul Kahfi dan Jumanis ini, berbeda dengan kebanyakan anak-anak pada umumnya. Semenjak ayahnya wafat, Nur Rokhmat, hanya dibesarkan ibundanya.

Namun, lingkungan dan perilaku kehidupan semasa kecil hingga beranjak dewasa dijalani dengan penuh rintangan. Pengalaman bapak tiga anak ini tidak lepas dari dunia kriminalitas.

’’Waktu itu keadaan memang membawa saya menuju dunia hitam. Persisnya, setelah ayah saya wafat tahun 1980-an atau saya masih duduk di TK (Taman Kanak-kanak),’’ katanya.

Daokeh, begitu Nur Rokhmat akrab disapa oleh sesama teman dan lingkungan, menuturkan, semasa remaja dia tidak bisa lepas dari kenakalan. Ibarat asam garam. Terlibat dalam dunia kriminalitas ia rasakan sejak lama.

- Advertisement -

Sudah biasa. Di antaranya, terlibat kasus pencurian sepeda motor (curanmor), terlibat penjualan arca purbakala atau barang antik, tawuran antarremaja, hingga kasus pebobolan pabrik. ’’Puncak kenakalan saya antara 1997 hingga 2009 lalu. Sudah lima kali saya dipenjara,’’ terang suami Nurul Mila ini.

Baca Juga :  Semangat Toleransi, Galang Dana, Tembus Rp 100 Juta

Sementara tahun 2006, dia tertangkap di kawasan Probolinggo saat hendak menjual arca dalam penguasaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, ke Pulau Dewata, Bali.

Salah satu kasus kejahatan yang tidak pernah dilukapan pria kelahiran 1979 ini, adalah ketika ia merasakan timah panas yang menancap di betisnya. Dia menceritakan, tahun 2007, pernah terlibat kejaran-kejaran dengan tim buru sergap (buser) kepolisian.

Saat itu, lanjut Nur Rokhmat, korps Bhayangkara mengincarnya karena kedapatan terlibat kasus pembobolan pabrik. ’’Setelah polisi mengetahui saya terlibat, mereka lantas memburu dan menembak saya. Waktu itu saya memang tidak sendirian, tapi bersama teman-teman yang lain,’’ papar pria yang mengaku di tubuhnya masih menempel tato permanen ini.

Namun, berkat pengalaman pahitnya, hati Nur Rokhmat perlahan melelah. Ibarat batu yang berlubang karena tetesan air. Sikap dan perilakunya menjalani dunia serbakeras ini akhirnya menemukan lubang cahaya.

Setelah salah satu sahabatnya mengajak kepada seorang guru sepuh, KH Chusaini Ilyas. ’’Sebenarnya saya tidak berani sowan Mbah Yai. Saya tahu diri. Saya ini orang jelek. Banyak tato di tubuh saya. Jujur saya tidak berani,’’ ingatnya mengulang.

Namun, bujukan sahabatnya membuahkan hasil. Nur Rokhmat memutuskan ikut sowan bersama sahabatnya ke KH Chusaini Ilyas, di kediamannya, Pondok Pesantren Salafiyah Al Misbar, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Semangat Nawa Bhakti Satya untuk Jawa Timur Maju

Nur Rokhmat mengaku setibanya di pendapa ndalem, dia hampir tidak percaya dengan kesediaan Kiai Chusaini menemuinya. Bahkan, lanjutnya, Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto tiga periode ini menyampaikan dawuh, agar dirinya tetap optimistis menjalani kehidupan.

’’Pesan Mbah Yai, katanya, ora usah wedih, tato sing ono ora usah dibusek, tapi ojo ditambahi meneh,’’ katanya mengingat.

Pesan itu, kata dia, memiliki makna mendalam. Hatinya seketika merasakan keteduhan. Kedamaian. Bahkan, dinilai sebagai isyarat tuntunan seorang guru kepada ’’murid’’ menuju jalan kehidupan yang lebih baik dan manfaat.

’’Puncaknya, saya umrah bersama beliau (Kiai Chusaini) tahun 2018. Di Masjidilharam, saya disalami, dipeluk, dan dicium orang Arab Saudi, yang sepertinya sangat mengenal dengan Mbah Yai. Di situ hati saya menangis. Karena saya sadar, saya ini orang jelek,’’ tandasnya.

Sejak saat itu kehidupan Nur Rokhmat berubah. Tak hanya sikap religius yang membuat hati keluarga dan orang dekatnya mengagumi. Demikian pula ekonominya, turut berubah 180 derajat. Kini dia mendapat amanah menjalankan bisnis swasta sebagai pengusaha avalan dan besi tua.

’’Alhamdulillah, semua ini berkat tutunan para guru,’’ paparnya dengan nada bersyukur. (ris/abi)

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/