alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Hoax Ada sejak Tahun 1661, Pejabat hingga Presiden Pernah Jadi Korban

MOJOKERTO – Rangkaian acara Gebyar Pendidikan berakhir Minggu (31/3). Sejak pagi, event yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Kota Mojokerto kerja berang Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM) ini menggelar seminar dengan tema fenomena hoax dan kesehatan.

Agenda diawali dengan seminar yang mengangkat tema Saring Sebelum Sharing ini yang menghadirkan narasumber General Manager (GM) JPRM Yanuar Yahya dan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto Amin Wachid. Dalam narasi ilmiahnya, Yanuar Yahya menyampaikan mulai dari sejarah lahirnya hoax atau berita bohong hingga fenomena hoax yang terjadi di era saat ini.

Menurutnya, istilah hoax sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, tepatnya kisaran 1661. Sejak saat itu, sudah banyak korban yang termakan berita palsu atau bohong. Mulai dari lapisan masyarakat umum, pejabat, hingga sekelas presiden pun pernah jadi korban hoax.

Baca Juga :  Voucher Hoax Kado Ultah Alfamart

”Sejak saat itu banyak sekali kejadian tipu-menipu berita hoax, bahkan berhasil menipu presiden. Mulai dari zaman Pak Soekarno hingga Jokowi pernah menjadi berita hoax,” paparnya. Dewasa ini, fenomena hoax bukan mereda, namun semakin gencar, khususnya di jagad maya.

Kondisi itu lantaran semakin derasnya arus informasi tekonogi semenjak adanya internet dan media sosial. Bahkan, publik saat ini seakan sulit membedakan antara hoax dan berita asli. Dampak yang ditimbulkan pun juga semakin besar dan mengkhawatirkan.

Untuk itu, imbuh Yanuar, penting bagi kaum milenial saat ini untuk tidak terjebak turut berperan sebagai penyebar hoax, melainkan harus menangkalnya. Salah satunya dengan menambah pengetahuan pengetahuan. ”Memang hoax merusak sekali, dan bisa menghancurkan manusia. Oleh karena itu kita harus memiliki pengetahuan agar tidak bisa dibodohi dari berita-berita bohong atau hoax,” terangnya.

Baca Juga :  Ini Pemenang Lomba Alat Permainan Edukatif Dinas P dan K Kota Mojokerto

Kadispedik Kota Mojokerto Amin Wachid menambahkan, di kalangan pelajar harusnya lebih bijak untuk menggunakan media sosial. Setidaknya, itu dilakukan dengan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Karena hoax bisa berdampak sangat berbahaya.

Bahkan, tidak sedikit yang terjerat masalah pidana akbiat menyebarkan berita bohong. ”Masalah hoax memang bisa berdampak mengganggu sekali. Yang perlu ditekankan kembali adalah menyaring sebelum kita share,” tandasnya.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan seminar kesehatan. Dalam kesempatan kali ini membahas tentang stunting. Dalam agenda tersebut menghadirkan narasumber Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Mojokerto dr Esti Herawati, Kepala Kemenag Kota Mojokerto M. Zaini, serta pembina Fatayat NU Kota Mojokerto Mardianah.

 

 

MOJOKERTO – Rangkaian acara Gebyar Pendidikan berakhir Minggu (31/3). Sejak pagi, event yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Kota Mojokerto kerja berang Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM) ini menggelar seminar dengan tema fenomena hoax dan kesehatan.

Agenda diawali dengan seminar yang mengangkat tema Saring Sebelum Sharing ini yang menghadirkan narasumber General Manager (GM) JPRM Yanuar Yahya dan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto Amin Wachid. Dalam narasi ilmiahnya, Yanuar Yahya menyampaikan mulai dari sejarah lahirnya hoax atau berita bohong hingga fenomena hoax yang terjadi di era saat ini.

Menurutnya, istilah hoax sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, tepatnya kisaran 1661. Sejak saat itu, sudah banyak korban yang termakan berita palsu atau bohong. Mulai dari lapisan masyarakat umum, pejabat, hingga sekelas presiden pun pernah jadi korban hoax.

Baca Juga :  13 Kali Berturut-Turut Jadi Kampus Swasta Terunggul Jatim

”Sejak saat itu banyak sekali kejadian tipu-menipu berita hoax, bahkan berhasil menipu presiden. Mulai dari zaman Pak Soekarno hingga Jokowi pernah menjadi berita hoax,” paparnya. Dewasa ini, fenomena hoax bukan mereda, namun semakin gencar, khususnya di jagad maya.

Kondisi itu lantaran semakin derasnya arus informasi tekonogi semenjak adanya internet dan media sosial. Bahkan, publik saat ini seakan sulit membedakan antara hoax dan berita asli. Dampak yang ditimbulkan pun juga semakin besar dan mengkhawatirkan.

Untuk itu, imbuh Yanuar, penting bagi kaum milenial saat ini untuk tidak terjebak turut berperan sebagai penyebar hoax, melainkan harus menangkalnya. Salah satunya dengan menambah pengetahuan pengetahuan. ”Memang hoax merusak sekali, dan bisa menghancurkan manusia. Oleh karena itu kita harus memiliki pengetahuan agar tidak bisa dibodohi dari berita-berita bohong atau hoax,” terangnya.

Baca Juga :  Pasien RSUD Kota Mojokerto, Ambil Antrean Bisa Lewat WA
- Advertisement -

Kadispedik Kota Mojokerto Amin Wachid menambahkan, di kalangan pelajar harusnya lebih bijak untuk menggunakan media sosial. Setidaknya, itu dilakukan dengan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Karena hoax bisa berdampak sangat berbahaya.

Bahkan, tidak sedikit yang terjerat masalah pidana akbiat menyebarkan berita bohong. ”Masalah hoax memang bisa berdampak mengganggu sekali. Yang perlu ditekankan kembali adalah menyaring sebelum kita share,” tandasnya.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan seminar kesehatan. Dalam kesempatan kali ini membahas tentang stunting. Dalam agenda tersebut menghadirkan narasumber Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Mojokerto dr Esti Herawati, Kepala Kemenag Kota Mojokerto M. Zaini, serta pembina Fatayat NU Kota Mojokerto Mardianah.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/