alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Perajin dan Karyawan Bergeser Jadi Kuli Serabutan

SEMENTARA itu, perajin patung batu alam di Dusun Jatisumber, Desa Watusumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto juga mengalami kesulitan dalam distribusi pemasaran selama masa pandemi Covid-19.

Menurut Ribut Sumiono, pemilik sentra kerajinan patung batu Seloadji, selama pandemi distribusi pemasaran produk batu sangat susah. Selain karena adanya pembatasan dari setiap wilayah yang ketat, tertundanya pengiriman barang membuat pengelolaan keuangan menjadi kacau balau.

”Kalau menurunnya pendapatan itu pasti, apalagi ekspor kan nggak bisa. Yang Bali juga susah masuknya. Kalau yang PPKM tetap ngirim. Semisal, Bali-Banjar tetap ngirim, karena kekuatannya merekomendasi bisa,” ujar pria yang akrab disapa Cak Ribut ini.

Kendati demikian, jumlah pesanan menurun, pria yang bergelut sudah mendirikan usaha kerajinan patung batu selama 35 tahun ini masih bersyukur karena usahanya tidak berhenti total. Cak Ribut mengatakan, setidaknya hingga kini dia masih menggarap beberapa pesanan dari lokal saja. Salah satunya pesanan untuk sebuah perusahaan di Kecamatan Jetis.

Baca Juga :  Si Kembar Laki-Laki Memberi Warna dalam Keluarga

”Masih ada yang pesan tapi ya hanya satu dua saja. Yang penting nggak sampai keputus lah,” tuturnya. Tambahnya, untuk art shop atau patung yang akan dijual kembali sementara berhenti produksi. Selama wabah Covid-19 dia hanya menangani beberapa pesanan saja. Dikatakannya, hingga saat ini pekerja di Seloadji sendiri berjumlah tujuh orang.

Cak Ribut menuturkan pada tahun 1996 sampai 2002, dia pernah punya karyawan sebanyak 30 orang. Namun, lantaran ada insiden bom Bali yang juga harus memukul mundur usahanya pada saat itu. Akhirnya, jumlah karyawannya berkurang satu persatu. Jadilah, hanya tersisa tujuh orang yang masih bertahan hingga sekarang.

”Selama pandemi ya tetap pekerjanya tujuh kalau di tempat saya. Sebenarnya khusus di Jatisumber sendiri dulu ada ratusan perajin. Yang kelompok ada 40-an,” sebut dia. Meski begitu, dampak pandemi otomatis menyebabkan beberapa kelompok akhirnya berhenti meneruskan untuk bergelut menjadi perajin batu.

Baca Juga :  Pandemi Berpotensi Pengaruhi Angka Partisipasi Pemilih

Pria 58 tahun itu menuturkan, setidaknya selama pandemi ini perajin batu yang bertahan bahkan tak sampai separo. Mereka banting setir menjadi kuli borongan atau serabutan. ”Nggak ada sampai 50 persen. Semuanya pada buyar. Ada yang ikut truk, macam-macam kok,” ucapnya.

Untuk harga patung, Cak Ribut mengaku hal tersebut tak hanya didasarkan pada ukuran saja. Melainkan, berdasarkan tingkat kerumitan corak patung dan kualitas batunya. Satu patung sendiri bisa dikerjakan dalam waktu kurang lebih dua bulan.

”Kita hargai berdasarkan tingkat kesulitannya. Misal, ada yang rumit ornamennya. Seperti Ken Dedes, pakaiannya motif Kawung bisa sampai ratusan juta,” tegasnya. Ukuran patung yang dia jual mulai, dari 40 sentimeter hingga tiga meter. Tentunya, dengan ciri khas ukiran Majapahit. (oce)

 

 

 

SEMENTARA itu, perajin patung batu alam di Dusun Jatisumber, Desa Watusumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto juga mengalami kesulitan dalam distribusi pemasaran selama masa pandemi Covid-19.

Menurut Ribut Sumiono, pemilik sentra kerajinan patung batu Seloadji, selama pandemi distribusi pemasaran produk batu sangat susah. Selain karena adanya pembatasan dari setiap wilayah yang ketat, tertundanya pengiriman barang membuat pengelolaan keuangan menjadi kacau balau.

”Kalau menurunnya pendapatan itu pasti, apalagi ekspor kan nggak bisa. Yang Bali juga susah masuknya. Kalau yang PPKM tetap ngirim. Semisal, Bali-Banjar tetap ngirim, karena kekuatannya merekomendasi bisa,” ujar pria yang akrab disapa Cak Ribut ini.

Kendati demikian, jumlah pesanan menurun, pria yang bergelut sudah mendirikan usaha kerajinan patung batu selama 35 tahun ini masih bersyukur karena usahanya tidak berhenti total. Cak Ribut mengatakan, setidaknya hingga kini dia masih menggarap beberapa pesanan dari lokal saja. Salah satunya pesanan untuk sebuah perusahaan di Kecamatan Jetis.

Baca Juga :  Candi Bajang Ratu Tak Dilirik Wisatawan

”Masih ada yang pesan tapi ya hanya satu dua saja. Yang penting nggak sampai keputus lah,” tuturnya. Tambahnya, untuk art shop atau patung yang akan dijual kembali sementara berhenti produksi. Selama wabah Covid-19 dia hanya menangani beberapa pesanan saja. Dikatakannya, hingga saat ini pekerja di Seloadji sendiri berjumlah tujuh orang.

Cak Ribut menuturkan pada tahun 1996 sampai 2002, dia pernah punya karyawan sebanyak 30 orang. Namun, lantaran ada insiden bom Bali yang juga harus memukul mundur usahanya pada saat itu. Akhirnya, jumlah karyawannya berkurang satu persatu. Jadilah, hanya tersisa tujuh orang yang masih bertahan hingga sekarang.

- Advertisement -

”Selama pandemi ya tetap pekerjanya tujuh kalau di tempat saya. Sebenarnya khusus di Jatisumber sendiri dulu ada ratusan perajin. Yang kelompok ada 40-an,” sebut dia. Meski begitu, dampak pandemi otomatis menyebabkan beberapa kelompok akhirnya berhenti meneruskan untuk bergelut menjadi perajin batu.

Baca Juga :  Baik Dikonsumsi Selama Pandemi

Pria 58 tahun itu menuturkan, setidaknya selama pandemi ini perajin batu yang bertahan bahkan tak sampai separo. Mereka banting setir menjadi kuli borongan atau serabutan. ”Nggak ada sampai 50 persen. Semuanya pada buyar. Ada yang ikut truk, macam-macam kok,” ucapnya.

Untuk harga patung, Cak Ribut mengaku hal tersebut tak hanya didasarkan pada ukuran saja. Melainkan, berdasarkan tingkat kerumitan corak patung dan kualitas batunya. Satu patung sendiri bisa dikerjakan dalam waktu kurang lebih dua bulan.

”Kita hargai berdasarkan tingkat kesulitannya. Misal, ada yang rumit ornamennya. Seperti Ken Dedes, pakaiannya motif Kawung bisa sampai ratusan juta,” tegasnya. Ukuran patung yang dia jual mulai, dari 40 sentimeter hingga tiga meter. Tentunya, dengan ciri khas ukiran Majapahit. (oce)

 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/