alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

2.876 Perempuan Mojokerto Berstatus Janda Baru

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Warga Mojokerto yang terlibat dengan perkara perceraian jumlahnya mencapai ribuan orang. Sepanjang tahun 2020 ini, perkara perceraian yang terjadi sebanyak 3.459 perkara. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, perkara perceraian itu diketahui dari jumlah perkara yang ditangani kantor Pengadilan Agama (PA) Mojokerto.

Melingkupi perkara perceraian dari warga Kabupaten maupun Kota Mojokerto. Sepanjang tahun 2020 hingga bulan November saja sudah terjadi 3.459 perkara. Jumlah itu tersebut diperkirakan bakal lebih besar lagi. Sebab, rekapitulasi perkara perceraian pada bulan Desember masih dalam penghitungan PA Mojokerto.

Perkara perceraian menjadi perkara yang paling banyak diacarakan di kantor yang beralamat di Jalan Raya Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto tersebut. Berdasarkan rekapitulasi penghitungan perkara mulai Januari hingga bulan Juli saja telah terjadi sebanyak 2.539 perkara. Dari jumlah itu, sebanyak 1.399 perkara di antaranya berupa perkara cerai gugat.

Baca Juga :  Apresiasi Veteran hingga Tenaga Kesehatan

Perkara ini didaftarkan didasarkan inisiatif pihak perempuan/istri. Sedangkan, sebanyak 499 perkara berupa cerai talak alias perkara yang diajukan pihak laki-laki/suami. Berdasarkan perhitungan statistik perkara yang dihitung PA Mojokerto, memasuki bulan Agustus hingga November, setiap bulannya perkara perceraian terus mengalami pertambahan.

Bulan Agustus terdapat 263 perkara perceraian yang masuk ke PA Mojokerto. Bulan September sebanyak 329 perkara, bulan Oktober sebanyak 212 perkara, dan bulan November sebanyak 116 perkara. ’’Untuk jumlah perkara bulan Desember masih dalam rekapitulasi,’’ ujar Staf Humas PA Mojokerto Sulasmono. Praktis dengan adanya pertambahan perkara perceraian sejak bulan Agustus hingga November, maka terjadi kenaikan jumlah perkara perceraian mencapai 920 perkara. Sehingga, sejak bulan Januari hingga November tahun 2020 terdapat sebanyak 3.459 perkara perceraian yang ditangani PA Mojokerto.

Baca Juga :  Temuan Situs di Proyek Pelebaran TPA Jadi Polemik Tak Berujung

Dari jumlah itu, perkara yang telah diputus oleh PA Mojokerto mencapai 2.876 perkara. Jumlah warga Mojokerto yang terlibat perkara perceraian mencapai dua kali lipatnya, yakni hingga 7 ribu orang. ’’Total jumlah perkara akan rampung dihitung pada awal tahun nanti,’’ tambah dia. Berdasarkan penilaian PA Mojokerto, latar belakang diajukannya perkara perceraian itu bervariasi. Seperti faktor pemicu berupa latar belakang ekonomi keluarga/suami, kasus gangguan hubungan dengan orang ketiga, dan lainnya. Namun demikian, dari catatan yang ada, perkara perceraian banyak diajukan oleh pihak perempuan/istri. 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Warga Mojokerto yang terlibat dengan perkara perceraian jumlahnya mencapai ribuan orang. Sepanjang tahun 2020 ini, perkara perceraian yang terjadi sebanyak 3.459 perkara. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, perkara perceraian itu diketahui dari jumlah perkara yang ditangani kantor Pengadilan Agama (PA) Mojokerto.

Melingkupi perkara perceraian dari warga Kabupaten maupun Kota Mojokerto. Sepanjang tahun 2020 hingga bulan November saja sudah terjadi 3.459 perkara. Jumlah itu tersebut diperkirakan bakal lebih besar lagi. Sebab, rekapitulasi perkara perceraian pada bulan Desember masih dalam penghitungan PA Mojokerto.

Perkara perceraian menjadi perkara yang paling banyak diacarakan di kantor yang beralamat di Jalan Raya Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto tersebut. Berdasarkan rekapitulasi penghitungan perkara mulai Januari hingga bulan Juli saja telah terjadi sebanyak 2.539 perkara. Dari jumlah itu, sebanyak 1.399 perkara di antaranya berupa perkara cerai gugat.

Baca Juga :  Pekerja Maintenance Jembatan Kecemplung Sungai Brantas, Tergulung Arus

Perkara ini didaftarkan didasarkan inisiatif pihak perempuan/istri. Sedangkan, sebanyak 499 perkara berupa cerai talak alias perkara yang diajukan pihak laki-laki/suami. Berdasarkan perhitungan statistik perkara yang dihitung PA Mojokerto, memasuki bulan Agustus hingga November, setiap bulannya perkara perceraian terus mengalami pertambahan.

Bulan Agustus terdapat 263 perkara perceraian yang masuk ke PA Mojokerto. Bulan September sebanyak 329 perkara, bulan Oktober sebanyak 212 perkara, dan bulan November sebanyak 116 perkara. ’’Untuk jumlah perkara bulan Desember masih dalam rekapitulasi,’’ ujar Staf Humas PA Mojokerto Sulasmono. Praktis dengan adanya pertambahan perkara perceraian sejak bulan Agustus hingga November, maka terjadi kenaikan jumlah perkara perceraian mencapai 920 perkara. Sehingga, sejak bulan Januari hingga November tahun 2020 terdapat sebanyak 3.459 perkara perceraian yang ditangani PA Mojokerto.

Baca Juga :  Semalam, Tiga Rumah Satu Desa Dibobol, Babinsa Kehilangan Motor

Dari jumlah itu, perkara yang telah diputus oleh PA Mojokerto mencapai 2.876 perkara. Jumlah warga Mojokerto yang terlibat perkara perceraian mencapai dua kali lipatnya, yakni hingga 7 ribu orang. ’’Total jumlah perkara akan rampung dihitung pada awal tahun nanti,’’ tambah dia. Berdasarkan penilaian PA Mojokerto, latar belakang diajukannya perkara perceraian itu bervariasi. Seperti faktor pemicu berupa latar belakang ekonomi keluarga/suami, kasus gangguan hubungan dengan orang ketiga, dan lainnya. Namun demikian, dari catatan yang ada, perkara perceraian banyak diajukan oleh pihak perempuan/istri. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/