Bangunan tersebut merupakan Rumah Sepatu yang berada di Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Tingginya mencapai sekitar 14,5 meter dan berada sekitar 900 meter dari Jalan Raya Mojosari-Pacet.
Dari kejauhan, bangunan berwarna oranye itu sudah cukup mencolok. Letaknya yang berada di tengah hamparan sawah membuat Rumah Sepatu terlihat berbeda dibandingkan bangunan di sekitarnya.
Untuk menuju lokasi, pengunjung perlu melewati jalan desa yang cukup sempit. Namun, rasa penasaran biasanya muncul begitu melihat bentuk bangunannya yang menyerupai sepatu berukuran raksasa.
Di balik bentuk unik tersebut, ada cerita panjang dari sang pemilik. Rumah Sepatu berawal dari ide Ahmad Taufik, 52, yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam usaha pembuatan sepatu wanita.
Taufik diketahui telah menjalankan usaha tersebut selama 26 tahun melalui Aulia Store 77 di Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi inspirasi dalam membuat Rumah Sepatu.
Ide membuat bangunan berbentuk sepatu muncul karena lokasi lahan cukup jauh dari jalan utama. Dibutuhkan sesuatu yang mudah dikenali agar orang tertarik datang. Dari situlah gagasan membuat bangunan dengan bentuk sepatu mulai diwujudkan.
Awalnya, bentuk yang ingin dibuat adalah sepatu wanita. Namun, konsep tersebut ternyata tidak mudah diterapkan sebagai bangunan. Setelah mencari berbagai referensi, bentuknya kemudian diubah menjadi sepatu kargo.
Bentuk sepatu kargo dinilai lebih memungkinkan untuk dijadikan bangunan bertingkat. Pembangunannya pun tidak langsung selesai dalam waktu singkat. Ide tersebut sudah dipikirkan sekitar satu tahun sebelum pembangunan dimulai pada akhir Juli hingga Agustus 2023.
Menariknya, Rumah Sepatu sebenarnya tidak sejak awal dirancang sebagai tempat wisata. Bangunan itu mulanya dibuat sebagai vila pribadi.
Pembangunan tahap pertama berlangsung sekitar tujuh bulan. Setelah bagian bangunan, atap, dan cat selesai, bagian dalamnya masih belum terisi.
Seiring waktu, rencana tersebut berubah. Villa pribadi dinilai kurang produktif jika hanya digunakan sendiri. Akhirnya, bangunan tersebut dikembangkan menjadi destinasi wisata kuliner dengan suasana pedesaan.
Rumah Sepatu kini tidak hanya mengandalkan bentuk bangunan sebagai daya tarik. Pengunjung juga bisa menikmati suasana persawahan dan pemandangan pegunungan dari area bangunan.
Di bagian dalam terdapat kamar tidur dan kamar mandi. Sementara lantai paling atas digunakan sebagai area bersantai sekaligus cafe. Dari area tersebut, pengunjung bisa menikmati panorama Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang.
Rumah Sepatu berdiri di atas lahan sekitar 1.150 meter persegi. Di sekitar bangunan utama terdapat dapur, kasir, tiga gazebo, serta pendopo memanjang.
Ada pula area terbuka yang menghadap ke persawahan. Ke depan, pengelola juga berencana menambah area glamping sehingga pengunjung bisa menikmati suasana Pacet lebih lama.
Rumah Sepatu mulai melakukan soft opening pada 31 Mei 2026. Setelah diperkenalkan melalui media sosial, termasuk TikTok, tempat ini sempat ramai dikunjungi.
Bahkan, pada hari kedua setelah soft opening, jumlah pengunjung disebut mencapai sekitar 100 orang dalam sehari. Ramainya pengunjung pada awal pembukaan sempat membuat pengelola kewalahan.
Saat itu, terdapat 11 karyawan yang membantu operasional. Setelah kondisi mulai lebih stabil, jumlah tenaga yang terlibat menjadi dua karyawan dengan tambahan bantuan dari dua anggota keluarga.
Kini, rata-rata kunjungan berada di kisaran 20 orang per hari. Jumlah tersebut biasanya meningkat ketika akhir pekan.
Untuk urusan kuliner, Rumah Sepatu menyediakan berbagai pilihan makanan dan minuman. Ada aneka sambal, nasi goreng, makanan ringan, hingga berbagai minuman.
Harga makanan yang ditawarkan mulai dari Rp.15.000. Sementara paket sambelan untuk dua orang dibanderol Rp.59.999. Pengelola juga masih mencari menu yang nantinya bisa menjadi ciri khas Rumah Sepatu.
Dengan bentuk bangunan yang tidak biasa, suasana persawahan, serta panorama pegunungan, Rumah Sepatu menawarkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Tempat ini tidak hanya menjadi bangunan unik untuk dilihat, tetapi juga ruang untuk menikmati kuliner dan suasana pedesaan Pacet. NISRINA
Editor : Imron Arlado