JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Seluruh daerah di dunia ini pasti memiliki ciri khasnya masing-masing.
Tak terkecuali Chongqing, sebuah kota besar di barat daya Tiongkok yang terkenal dengan budaya makanannya yang kuat dan berani rasa.
Dari sekian banyaknya hidangan khas di Tiongkok, hotpot khas Chongqing menempati posisi yang istimewa dan dikenal luas oleh banyak orang hingga ke mancanegara.
Hidangan hotpot khas Chongqing ini bukan sekedar semangkuk makanan pedas yang membakar lidah, tetapi juga soal kebersamaan, tradisi, cara masyarakat setempat menikmati waktu bersama, dan bagian dari identitas mereka.
Tak heran jika melihat masyarakat setempat makan hotpot selama berjam-jam sambil berbincang bersama keluarga atau teman.
Menariknya, mereka tetap memakan hotpot meski di tengah musim panas, karena bagi mereka rasa pedas adalah cara untuk mengeluarkan hawa panas dari dalam tubuh.
Sama seperti rasa hotpot yang pedas dan membakar lidah namun tetap dinikmati dengan tawa bahagia.
Tradisi tersebut seakan mencerminkan semangat masyarakat Chongqing yang kuat, gigih, dan berani dalam menghadapi tantangan.
Baca Juga: 88 Hari Menuju 2026, Sudah Siap Menyambut Tahun Baru?
Di kota Chongqing, hampir di setiap jalan memiliki restoran hotpot. Makanannya bisa dinikmati kapan saja dan dengan siapa saja, baik bersama teman maupun sendiri.
Hotpot khas Chongqing juga dikenal sebagai versi hotpot yang paling "berani" atau mencolok di antara berbagai jenis hotpot di Tiongkok.
Yang membedakan hotpot khas Chongqing dengan hotpot lainnya adalah kuahnya yang sangat pedas dan berminyak.
Warna merah pekat pada kuah hotpot Chongqing ini berasal dari campuran cabai kering, lada sichuan, dan minyak sapi yang mendominasi.
Kehadiran lada sichuan dalam hidangan hotpot Chongqing membuat rasa pedasnya tak hanya pedas, tetapi juga memberi sensasi kebas di lidah efek dari lada sichuan yang disebut mala.
Jika di beberapa kota lain hotpot memiliki dua jenis kuah, yakni pedas dan tidak pedas. Versi tradisional Chongqing hanya memakai satu kuah, yaitu kuah pedas.
Masyarakat setempat mempercayai bahwa rasa pedas seperti itu bukan sekedar kenikmatan, melainkan cara untuk melawan hawa lembab khas daerah pegunungan.
Selain itu, saus celupan hotpot khas Chongqing juga unik karena sangat sederhana. Biasanya hanya minyak wijen, bawang putih cincang, dan sedikit daun bawang untuk menyeimbangkan rasa pedas pada kuahnya.
Bumbu-bumbu kuah tersebut juga menjadi letak rahasia kelezatan hotpot khas Chongqing.
Kombinasi antara cabai merah kering, lada Sichuan, jahe, bawang putih, serta bumbu fermentasi seperti pasta kacang, direbus bersama berbagai macam bahan dalam waktu lama hingga bumbunya meresap dan menghasilkan rasa serta aroma khas yang tajam.
Baca Juga: Sensasi Dingin dalam Semangkuk Mie, Makanan Khas Korea yang Membuat Banyak Orang Penasaran
Dulu, hotpot khas Chongqing hanya terkenal di wilayah barat Tiongkok, tetapi popularitasnya kini sudah berkembang dan menyebar luas hingga mendunia.
Banyak restoran di luar negeri yang mengadopsi gaya hotpot Chongqing dengan kuah merah pekat dan rasa pedas yang membakar serta konsep makan bersama.
Hotpot khas Chongqing bukan sekedar hidangan pedas biasa, tetapi cerminan dari karakter atau identitas kota dan masyarakatnya.
Makan hotpot langsung di Chongqing seakan seperti merasakan jiwa kota itu sendiri, yakni keras di luar namun hangat di dalam.
Karena itu, hotpot Chongqing bukanlah sekedar kuliner khas Tiongkok saja, tetapi juga warisan budaya yang terus hidup dan berkembang seiring berjalannya waktu. FANEZA/Wulandari
Editor : Imron Arlado