PACET - Setahun belakangan, kawasan Pacet bermunculan jajanan baru. Yakni, ubi oven yang menawarkan sensasi legit dan aroma yang wangi.
Ubi yang biasanya diolah dengan cara digoreng dan dikukus, kini diolah dengan oven. Hasilnya, ubi bisa mengeluarkan cita rasa yang khas. Olahan tersebut kini menjadi primadona baru di Pacet.
Banyak pedagang menjajakan ubi oven di pinggir jalan. Tak hanya di Jalan Mojosari-Pacet, para pedagang juga banyak berjualan di sejumlah ruas lainnya. Mereka membuat ubi oven dengan bahan ubi Cilembu yang banyak ditanam di kawasan Pacet.
Salah satu penjual ubi oven, Yanti mengatakan, sejak lima bulan yang lalu berjualan jajanan sehat tersebut.
Hingga kini, dia setiap hari berjualan di pinggir Jalan Tirtowening, Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet. Dalam sehari, dia biasa menghabiskan ubi Cilembu sebanyak 40 kilogram (kg).
’’Kalau hari biasa, saya oven paling sedikit 40 kg. Kalau Sabtu-Minggu, bisa sampai 75 kg,’’ ujarnya ditemui di tempat usahanya, Rabu (7/8).
Jajanan sehat itu dijual Yanti dengan harga yang relatif murah. Untuk setiap setengah kilogram, dihargai Rp 10 ribu. Biasanya, dalam setengah kilogram terdapat 3-4 umbi tergantung ukuran.
’’Harga bahan bakunya murah, jadi saya menjualnya juga cukup terjangkau,’’ sebut perempuan berusia 40 tahun ini.
Warga Desa Bendunganjati itu menceritakan, untuk membuat ubi oven terbilang mudah. Ubi yang telah dibersihkan, langsung dioven selama 15-30 menit.
Proses pengovenan tersebut memberikan cita rasa dan aroma yang khas sekaligus bisa menggugah selera makan. ’’Kalau oven, air dalam ubi menyusut sehingga rasa ubinya akan manis,’’ cerita Yanti.
Untuk pemilihan jenis ubi, dirinya menggunakan ubi Cilembu. Tanaman rambat itu banyak ditanam di kawasan Pacet. ’’Ubi jenis ini rasanya lebih manis dan lembut tanpa serat. Itu membuat ubi jenis ini menjadi favorit orang-orang,’’ imbuhnya.
Jajanan ubi oven ini menambah pilihan jenis kuliner atau oleh-oleh khas Pacet. Banyak wisatawan mengaku tertarik dengan aroma bakaran ubi yang khas dan selalu tercium saat melewati Jalan Tirtowening ini.
’’Setiap kali saya ke sini selalu menyempatkan beli ubi untuk oleh-oleh. Karena di tempat saya tidak ada yang menjual ubi seperti ini,’’ ujar seorang pembeli asal Sidoarjo. (mg2/fen)
Editor : Hendra Junaedi