Bubur ini memiliki rasa manis dengan aroma pandan dan memiliki banyak isian.
’’Bubur ini isinya ketan hitam, candil, bubur sumsum dan kuah gula merah (juroh). Ada juga aroma pandan yang sudah dicampurkan juroh,’’ jelas Satunah, pedagang bubur sruntul di Jalan KH. Nawawi.
Satunah, 52, pedagang bubur sruntul di Jalan KH. Nawawi No.12, Kecamatan Magersari, yang sudah membuka usaha ini selama 15 tahun.
Meskipun mengalami sempat kendala dapat mencari jalan keluar, sehingga beliau bisa berjualan sampai sekarang.
’’Saya jualan ini sudah 15 tahun, sebelumnya saya jualan di depan situ. Terus pernah diusir satpol PP, jadi saya pindah ke sini. Ya, Alhamdulillah penjualannya meningkat,’’ ungkapnya.
Perempuan 52 tahun ini menjelaskan, setiap harinya dapat menghasilkan uang Rp 150 ribu, dari buka sejak pukul 08.00 hingga pukul 15.00.
’’Untuk harga satu porsinya Rp.6 ribu, biasanya satu hari itu gak menentu, kadang bisa lebih atau kurang dari Rp 150 ribu. Tapi kalau sudah habis sebelum pukul 15.00 sudah tutup,’’ terangnya.
Satunah berjualan bubur di depan teras kontrakan tanpa berjualan berkeliling. Tetapi, dirinya mempunyai tiga lokasi berjualan. Ada juga yang pesan online atau langsung pesan kesini.
’’Saya kadang menerima pesanan 20-30 porsi. Tapi untuk pesanan online, biasanya orang-orang pesen langsung di Gojek terus langsung datang ke sini. Saya ini buka dua tempat lagi di Surodinawan dan Sasap,’’ jelas Satunah. (Novita Ainiyyatuz Zakiyyah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah