Kondisi ini berbanding lurus dengan kunjungan yang terus mengalami kenaikan. Seperti di Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Makam Religi Troloyo, hingga Museum Trowulan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto Norman Handhito menegaskan, Mojokerto yang dijuluki sebagai Bumi Majapahit tentu sudah tak asing lagi bagi wisatawan.
Bahkan kekayaan sejarah yang ada tak sedikit menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara.
’’Beberapa kali bahkan wisata sejarah kita ini jadi pilihan wisatawan mancanegara,’’ ungkapnya.
November lalu, wisatawan asing yang naik kapal pesiar di pelabuhan tanjung perak Surabaya itu, datang ke Bumi Majapahit dengan rombongan empat bus.
Mereka berkeliling untuk menikmati peninggalan bersejarah ini. Mulai Candi Brahu, Candi Tikus, hingga Museum Trowulan.
’’Trennya juga ada kenaikan realisasi PAD di wisata sejarah kita,’’ tegasnya.
Sesuai data, per bulan November, pendapatan Museum Trowulan sudah mencapai Rp 178 juta, lalu Makam Troloyo Rp 471 juta, Candi Brahu Rp 26,9 juta, Candi Bajang Ratu Rp 25,5 juta, dan Candi Tikus Rp 26,3 juta.
Menurut Norman, keberadaan wisata sejarah ini memang menjadi magnet tersendiri.
Pengunjung dapat menikmati sisa-sisa kejayaan masa lalu melalui benda-benda peninggalan tersebut.
Benda-benda peninggalan tersebut antara lain terdiri dari bidang irigasi, pertanian, arsitektur, perdagangan, perindustrian, agama, dan kesenian.
Seluruh koleksi ditata di dalam gedung, halaman, dan pendopo museum.
’’Peninggalan sejarah itu sendiri yang menjadi daya tarik. Objek sejarah peninggalan kerajaan terdahulu yang masih terjaga dan terawat. Heritage yang tersisa di Mojokerto itu tentu memiliki nilai tinggi,’’ tegasnya.
Jika melihat karakteristik daerah, Kabupaten Mojokerto ini mempunyai potensi besar di sektor wisata.
Segala macam destinasi sudah lengkap dengan kawasan pariwisata segitiga emas yang menjadi andalan di Bumi Majapahit. Yakni, Pacet dan Trawas dengan pesona alamnya.
Sedangkan, Trowulan yang kaya benda cagar budaya nasional sebagai wisata sejarah.
Tak heran jika kemudian, Kabupaten Mojokerto ini berjuluk Mojokerto Full of Majapahit Greatness yang berarti, Penuh dengan Kemegahan Majapahit.
Artinya, Majapahit tak sekadar menjadi slogan, melainkan diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur yang memiliki asas manfaat bagi sektor ekraf di tengah masyarakat.
’’Kita punya wisata alam, kita punya wisata histori, kita punya wisata religi, ini yang menjadi modal kita menjadikan Kabupaten Mojokerto besar dengan sistem ekonomi kerakyatan,’’ jelasnya. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah