KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Menghadirkan kuliner dengan menu unik dan sedikit ekstrem memiliki pasar konsumen tersendiri. Di Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, terdapat rumah sekaligus warung yang menyajikan ragam menu berbeda. Seperti olahan bekicot, biawak, daging katak atau swike.
Mengandalkan resep keluarga dan rempah-rempah tradisional, warung milik Dela Dwi Mawarni ini mampu menyulap daging hewan reptil, amfibi, dan moluska menjadi sajian berbeda. Karena diolah dalam bentuk masakan krengsengan, rica-rica, gorengan, keripik hingga rambak. Sehingga membuat konsumen dan pelanggan khas masakan Dela tertarik.
Bahkan, bisnis kuliner yang berdiri sejak tahun 1986 tersebut sudah dikenal, dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. ”Ada juga olahan yang siap konsumsi. Seperti, krengsengan bekicot, rica-rica biawak, tokek goreng hingga swike,” terang Dela Dwi Mawarni, ditemui di rumahnya, Sabtu (9/12).
Keberhasilan Dela dalam mengelola bisnis kuliner yang dirintis kedua orang tuanya tak luput dari menjaga cita rasa. Dalam sehari bisnis kulinernya mampu meraup omzet Rp 1 juta per hari. Dengan harga jual untuk keripik bekicot dan kerupuk rambak kulit biawak kemasan 50 gram dijual Rp 10 ribu, sedangkan kemasan 250 gram Rp 50 ribu.”Tergantung pesanan, kalau ramai biasanya mendapatkan omzet sekitar 1 juta per harinya,” imbuh perempuan 27 tahun ini.
Belakangan Dela tidak sendirian dalam mengelola usaha kuliner miliknya. Di rumah produksi sekaligus warung miliknya itu selama ini dia dibantu orang tua, dan 20 orang karyawan. Kesuksesan usaha kuliner unik ini dianggap berhasil setelah Dela mampu menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Di samping mampu memenuhi kebutuhan agen-agen dan distributor sebagai mitra bisnis.
”Setiap hari dapat kiriman bahan dasar dari pengepul, kemudian kami olah untuk siap didistribusikan ke beberapa kota,” tegas dia. Kondisi cuaca seperti memasuki musim penghujan turut memengaruhi usaha kuliner unik ini.
Di banding musim kemarau, peningkatan omzet, khususnya bekicot, naik sampai tiga kali lipat. Dalam sehari biasanya hanya menghabiskan 3 kuintal, kini meroket hingga 3 ton per hari. ”Pada saat musim hujan, dalam sehari kami mendapatkan bahan baku kurang lebih 1 hingga 3 ton,” jelasnya.
Dari bahan-bahan mentah tersebut, Dela juga memenuhi kebutuhan pelanggan dalam olahan mentah. Daging-daging yang sudah dibersihkan dan siap dimasak lantas dikirim ke beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur. Meliputi, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Ponorogo, Ngawi, Nganjuk, Madiun, dan Tuban. ”Proses pendistribusiannya kami titipkan melalui bus-bus angkutan umum,” papar Dela.
Yati, satu dari 20 karyawan menyatakan, perubahan cuaca memang berpengaruh terhadap jumlah bahan dasar yang akan diolah.”Tergantung musim, jika musim hujan, saya bisa masuk setiap hari. Kalau musim kemarau mungkin seminggu masuk sekali hingga tiga kali saja,” kata Yati.
Puluhan karyawan Dela, setiap hari bekerja dari pukul 04.00 hingga 16.00 WIB atau selama 12 jam. Mereka bekerja dengan sistem borongan. Untuk menyungkit daging bekicot satu karyawan menerima upah Rp 2.500 per 1 kilogramnya. ”Untuk biawak dan swike biasa yang mbeteti (membersihkan) itu bapak saya,” tambah Dela. (moch. khasib )
Editor : Moch. Chariris