Memasuki bulan Ramadan 1444 Hijriah ini, hanya beberapa penjual saja memilih bertahan menjajakan es tebu di sepanjang Jalan Bypass Mojokerto itu. Sementara puluhan warung lain tampak tutup, bahkan tak terawat. Beberapa di antaranya dibiarkan rusak hingga nyaris roboh.
Omzet penjualan yang kian menurun dari tahun ke tahun menjadi penyebab utama kondisi sepinya es tebu. Wulan, 27, salah satu penjual es tebu yang masih bertahan mengaku memang penjualan es tebu selama bulan Ramadan ini anjlok. Sehingga hal ini turut berimbas pada jam operasional warung sederhana miliknya. ”Ada perubahan. Kalau kayak gini, kan biasanya agak sepi,” tuturnya.
Selama Ramadan, Wulan biasa membuka lapaknya antara 11.00 – 12.00. ”Tutupnya sampai jam 17.00 (jelang berbuka). Kalau hujan siang, ya tutup,” tambahnya.
Tingkat keramaian atau kepadatan jalan raya trans Nasional turut mempengaruhi pendapatan Wulan. ”Tergantung kondisi jalan ya, sepi ramainya. Kalau ini (sehari) tadi masih lumayan dapat Rp 100 ribu,” terang perempuan asal Jombang itu.
Hal serupa dirasakan Mijati, 66, warga Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto yang telah berjualan es tebu sejak 2011 silam. Menurutnya, tahun ini, memang terjadi penurunan penjualan yang cukup drastis. Khususnya selama bulan suci Ramadan ini.
Jika sebelumnya omzet per hari mencapai Rp 300 ribu kini anjlok hingga kisaran Rp 60 ribu sampai Rp 80 ribu per hari. ”Menjelang buka puasa sepi, dapat cuma Rp 60 ribu. Harapan saya, ke depan semoga lebih laris saja,” tandas Mijati. (fia ayu/ris)
Editor : Fendy Hermansyah