Agung Tri Cahyono, 27, memodifikasi Carry Station jadi warung kopi. Mobil yang umum dipakai untuk angkutan kota (angkot) itu dibawanya keliling berjualan kopi. Melalui Komo (Kopi Mobil) Coffe, dia menawarkan suasana menyeruput kopi yang berbeda bagi pelanggan di Mojokerto.
WARGA Dusun Pendowo, Desa Ngrowo, Kecamatan Bangsal ini telah menggeluti usaha mobil kopi sejak setahun terakhir. Mobil Suzuki Carry Station keluaran 1986 itu dibelinya dari seorang kenalan seharga Rp 9,3 juta. Sentuhan modifikasi dilakukannya sendiri dengan bantuan sang kakak yang bekerja sebagai tukang las. Dia mengeluarkan biaya Rp 1,2 juta untuk memperbaiki mesin dan Rp 2 juta untuk bongkar bodi.
Biaya itu dikeluarkannya demi mewujudkan penampilan Carry bagong yang tampak seperti saat ini. Mobil tua untuk jualan kopi yang menurutnya eksklusif di Mojokerto. ”Kebanyakan kan coffe shop yang besar-besar, ada lagi yang jualan kopi pakai sepeda motor. Saya mikir apa yang tidak ada di Mojokerto, akhirnya saya buat di mobil itu,” terangnya, kemarin (22/4).
Bodi samping kanan mobil warna kuning itu dibuka. Lalu dipasangi bar tempat menaruh mesin kopi rumahan berikut proses peracikan. Saat keliling berjualan, Agus juga membawa satu set meja kursi dan tikar. Mobil kopi ini dioperasikan seorang diri. Dia lebih banyak berjualan mulai petang sampai malam hari. Tempat mangkal paling sering di simpang PMI Kota Mojokerto.
Menu utama yang ditawarkan pelanggar adalah kopi lokal. Yakni kopi dari Ijen, Banyuwangi dan Jombang. Kopi yang diracik dengan mesin ekspreso itu dipatok dengan harga setara kopi warungan. Kebanyakan pelanggannya adalah anak-anak muda yang ingin menikmati kopi dengan sensasi mobil keliling.
Saat ini, Komo Coffe libur sementara. Agus sedang di Jakarta untuk mengurusi bisnis kopi dan segera kembali untuk mengoperasikan mobil kopinya. ”Selain kopi-kopi lokak, kita juga tawarkan minuman lainnya dengan harga sangat murah,” pungkasnya. (adi/ron) Editor : Fendy Hermansyah