PANGANAN khas ini juga menjadi idaman para warga Dusun Toyo, Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong. Salah satunya yang dijajakan pasangan Sunadi dan Winarti di kedai Serebeh Toyo. Serabi ini selalu menjadi incaran para pembeli jelang berbuka puasa. ’’Pertama kali berjualan sekitar tahun 1940-an. Yang jual pertama nenek saya, lalu diteruskan ibu kemudian sekarang saya teruskan usaha ini sama suami. Jadi, sudah generasi ketiga ini,’’ ujar Winarti.
Kedai kecil yang dicat dominasi warna hijau ini berlokasi di Simpang Empat Pulorejo, Dawarblandong. Jam bukanya dimulai pukul 16.00 WIB setiap harinya. Selama bulan puasa, perempuan 42 tahun ini mengungkapkan hanya butuh waktu dua jam saja, serabi buatannya ludes terjual. ’’Baru buka gitu sudah yang ngantre puluhan. Selalu ramai dari dulu jelang buka, jadi sekitar pukul 18.00 sudah habis,’’ ulas dia.
Lanjut Winarti, yang membedakan serabi buatannya yakni kualitas rasa yang masih tetap terjaga dari sang nenek hingga saat ini. Dia mengaku sejatinya tak ada bahan khusus yang dicampurkan. Seperti pada umumnya, serabi ala Winarti dibuat dari komposisi perpaduan tepung beras, dan santan bercampur air panas.
’’Mainnya di komposisi saja, sama main di panas api ketika memasak. Ini yang seringkali gak diperhatikan pembuat serabi kebanyakan,’’ bebernya. Per harinya, Winarti mengaku mampu menghabiskan sebanyak 9 kilogram adonan serabi.
Harga serabi yang dijualnya pun terbilang murah. Berbekal uang Rp 5000, pembeli sudah bisa merasakan perpaduan gurih dan legitnya serabi yang dibuat tanpa bahan pengawet ini. Pembeli juga bisa memilih varian serabi. Mulai dari serabi tanpa seduhan air gula, serabi dengan aroma wangi daun pisang yang dilengkapi dengan kuah santan berpadu gula merah.
’’Ada juga menu campuran serabi hangat dan ketan dalam satu porsi berbalut daun pisang. Harganya juga sama Rp 5000,’’ sebutnya. Bahkan, untuk mengikuti perkembangan dunia kuliner, dirinya menyajikan serabi dengan berbagai toping. Mulai dari rasa coklat, keju, dan juga kacang-kacangan. Tak hanya serabi kampung, pasutri ini juga menjual jajanan pasar lainnya. Seperti getuk lindri, klepon, ketan sambal dan sate cenil dengan harga cukup terjangkau Rp 2000 sampai Rp 5000 per porsi. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah