JIKA ada permainan sederhana yang kemudian dilembagakan sebagai olahraga, panco adalah salah satunya.
Adu kekuatan yang dilakukan dua orang dengan cara mengaitkan kedua lengang itu telah memiliki kejuaraan bertaraf dunia yang bergengsi.
Ditilik dari sejarahnya, sebagaimana dilansir sejumlah sumber, panco yang punya nama internasional arm wrestling atau gulat tangan diyakini sebagai permainan paling kuno.
Pertarungan panco disajikan dalam gambar dinding era Mesir kuno sekitar 2.000 sebelum Masehi.
Pada pertengahan abad ke-20 Masehi, olahraga tradisional ini kembali dihidupkan di Amerika Serikat. Kejuaraan dunia gulat tangan pun diadakan untuk pertama kali di California pada 1962.
Dari sebuah permainan pengisi waktu luang di sekolah, warung, atau rumah, panco kelak menjadi sebuah pertandingan olahraga yang bergengsi.
Bagaimana tidak, tak hanya tingkat nasional, kejuaraan panco bertaraf internasional pun kerap digelar dengan diikuti atlet yang membawa nama negara.
Meski tidak (atau belum) menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia sebagai cabang olahraga prestasi, panco ternyata telah diakui sebagai olahraga masyarakat yang dinaungi Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
Permainan yang mengandalkan kekuatan otot lengan dipertandingkan dalam Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS). Atlet panco dinaungi dalam organisasi Persatuan Olahraga Gulat Tangan Indonesia (POGTI).
Pertandingan panco digelar di meja khusus yang dilengkapi bantalan untuk siku tangan.
Selama permainan, pemain juga bisa menggenggam pasak yang dipasang di samping untuk pegangan. Pasak ini memberi daya ungkit tambahan pemain.
Dalam pertandingan nomor tunggal, pemain yang mampu menjatuhkan tangan lawan menjadi pemenang.
Sementara itu, untuk kategori beregu, poin yang diraih tiap pemain akan diakumulasi. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi