Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Korfball, Junjung Kesetaraan Gender

Yulianto Adi Nugroho • Rabu, 5 Juni 2024 | 14:30 WIB

 

Photo
Photo

MIRIP dengan basket, korfball memiliki sejumlah keunikan. Salah satunya olahraga asal Belanda ini tak membedakan gender karena laki-laki dan perempuan bermain bersama dalam satu tim.

Selain itu, tim yang berhadapan bersaing mengumpulkan poin dengan cara memasukkan bola ke tiang keranjang di masing-masing sisi lapangan.

 Sebagaimana dilansir dari sejumlah sumber, korfball dapat dimainkan di lapangan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2:1.

Secara aturan, lapangan untuk olahraga dengan nama Indonesia bola keranjang ini memiliki panjang 40 meter dan lebar 20 meter.

Sementara itu, tiang keranjang memiliki ketinggian 3,5 meter dengan keranjang berdiamater 40 sentimeter. Sasaran tembak ini dipasang di garis sepertiga masing-masing sisi lapangan.

 Permainan korfball biasanya berlangsung dengan waktu 2x30 menit. Setiap tim korfball terdiri dari 8 pemain, meliputi 4 pemain putra dan 4 pemain putri.

Ketentuan ini yang membuat korfball disebut sebagai olahraga yang menjunjung kesetaran gender.

Namun demikian, aturan main olahraga yang bakal dipertandingkan untuk pertama kali di PON 2024 ini cukup rumit. Setiap tim dibagi menjadi dua bagian, yaitu di masing-masing sisi lapangan yang dipisahkan garis tengah.

 Setiap sisi itu terdiri dari 4 pemain setim yang meliputi 2 pemain putra dan 2 pemain putri. Mereka akan berhadapan dengan 4 pemain tim lawan dengan komposisi serupa.

Begitu pula dengan sisi lapangan satunya. Setiap pemain di masing-masing sisi tak boleh berpindah.

 Pertandingan korfball ditandai dengan lemparan bola ke atas oleh wasit. Setelah itu, pemain dapat berusaha memasukkan bola ke keranjang lawan.

Selama fase menyerang ini, pemain tak boleh mendribel bola. Untuk mengumpan dan mencetak poin, bola hanya bisa dilempar atau dipantulkan.

 Ketika bola gagal masuk keranjang, bola akan dikuasai tim lawan. Nah, ketika fase permainan berubah dari bertahan ke menyerang ini, bola akan dikirim ke seberang lapangan untuk dimainkan pemain yang berada di sisi lain.

Perubahan fase juga dilakukan ketika salah satu tim sudah dua kali mencetak poin. Selama permainan, pemain hanya boleh menjaga lawan sesama jenis.

 Dari sisi sejarah, olahraga korfball sebetulnya sudah cukup tua. Pertama kali diciptakan di Belanda pada 1902, permainan ini secara resmi dipertandingkan di Olimpiade sejak 1920.

Perkembangan korfball mengalami pasang surut di Indonesia hingga akhirnya mulai diseriusi sejak beberapa dekade terakhir. Persatuan Korfball Seluruh Indonesia (PKSI) sebagai induk baru dibentuk secara resmi pada 2012 silam. (adi/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#korfball