SAKING barunya, olahraga ini masing terbilang kinyis-kinyis. Namanya adalah pickleball.
Olahraga serupa tenis tapi menggunakan raket tanpa senar dan lebih mirip dengan pemukul tenis meja atau pingpong.
Tahun lalu, pickleball resmi masuk KONI dan akan dipertandingkan sebagai cabor eksibisi di PON tahun ini.
Dilansir dari sejumlah sumber, pickleball dimainkan di lapangan seukuran lapangan bulu tangkis kategori tunggal.
Aturan main olahraga berasal dari Amerika Serikat ini mirip dengan tenis. Seorang atlet pickleball dapat melakukan pukulan setelah bola memantul di lantai.
Itu di luar berbagai aturan lain soal teknis pertandingan. Seperti servis, pukulan volley, hingga area non-volley, yang juga ada dalam permainan tenis.
Skor yang umum dipakai dalam permainan pickleball adalah 11, 15, dan 18 poin, disesuaikan dengan fase pertandingan dan situasi kompetisi.
Di samping ukuran lapangan yang lebih kecil dari tenis, yaitu 13,4 x 6,1 meter, tinggi netnya pun lebih rendah, yakni hanya 86 cm.
Apabila olahraga tenis menggunakan raket berjaring atau senar, beda dengan pickleball yang justru lebih mirip dengan raket pingpong.
Bentuknya berupa pemukul padat berbahan kayu atau komposit sebesar raket tenis. Raket pickleball dinamai paddle, karena sekilas mirip dengan dayung.
Perbedaan mencolok juga dapat ditemui dari bentuk bola. Berukuran lebih besar dari tenis, bola pickleball memiliki lubang-lubang yang terbuat dari bahan polimer alias plastik. Postur bola yang melompong ini membuatnya lebih ringan.
Kendati baru resmi diakui sebagai olahraga prestasi di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 2023, olahraga ini telah dikenal di Indonesia sejak akhir 1990-an.
Di Jawa Timur, salah satu yang memopulerkan pickleball adalah Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Surabaya.
Pengurus Kabupaten (Pengkab) Pickleball Mojoketo, wadah olahraga pickleball, sudah terbentuk sejak 2021 dan telah tampil di berbagai kejuaraan.
Salah satu pusat latihan pickleball terdapat di Desa Kebondalem, Kecamatan Mojosari. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi