SAMBO sering disebut sebagai olahraga bela diri ’’gado-gado’’. Sebab seni bela diri ini menggabungkan teknik gerakan jujitsu, judo, gulat, hingga tinju. Atlet sambo boleh melakukan hampir semua cara untuk menjatuhkan lawan. Sungguh cabor yang unik.
Tapi karena keunikannya itu pula, sambo sering dianggap sebagai seni bela diri yang efektif. Dalam pertandingan resmi, ada dua kategori utama pertandingan sambo, yakni sport dan combat. Hal yang membedakan, atlet hanya boleh membanting dan mengunci kaki lawan di kategori sport. Sedangkan dalam kategori combat atlet bebas menghantam, meninju, hingga menendang.
Dinukil dari berbagai sumber, sambo adalah seni bela diri asal Rusia. Sambo singkatan dari samozashchita bez orouzhiya, yang artinya bela diri tanpa senjata. Olahraga ini pertama kali dikembangkan pada awal abad ke-20 oleh dua prajurit Rusia yang memiliki latar belakang ahli judo dan praktisi gulat.
Keduanya kemudian menggabungkan teknik judo, gulat, dan kurash menjadi suatu metode untuk melindungi diri dan mengakhiri pertarungan dengan cepat. Selain menjadi seni bela diri wajib dalam militer Rusia, kelak bela diri menjadi olahraga prestasi. Presiden Rusia Vladimir Putin pun dikenal sebagai seorang ahli Sambo.
Bela diri sambo kian populer di dunia setelah atlet MMA (Mixed Martial Arts) asal Rusia, Khabib Nurmagomedov, berjaya sebagai petarung di UFC (Ultimate Fighting Championship). Sebagai seorang petarung kelas dunia, Khabib menguasai seni bela diri sambo, judo, dan gulat.
Di Indonesia, sambo diperkenalkan pada 2008 silam. Dari perkumpulan judo kampus, sambo dipertandingkan di PON 2020 sebagai cabor eksibisi dan menjadi tahun ini akan menjadi cabor resmi.
Sambo juga dipertandingan untuk pertama kali di Porprov VIII Jatim 2023 lalu. Berlangsung di GOR Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, kontingen sambo tuan rumah memetik hasil cukup manis dengan raihan 1 medali emas, 2 perak, dan 1 perunggu. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi