Minimnya atlet berkualitas menjadi kendala lantaran pembinaan berjenjang yang belum berjalan maksimal.
Hasilnya, sebagian besar atlet di gelaran dua tahunan itu gugur pada pertandingan pertama.
Cabor pencak silat porprov telah berlangsung pada 21-25 Agustus di Auditorium Universitas Darum Ulum Jombang.
Kabupaten Mojokerto menurunkan 8 atlet untuk bertanding di nomor beregu dan perorangan.
’’Sudah tumbang semua,’’ kata Ketua Pengkab IPSI Mojokerto Samsul Muarifin, kemarin (6/9).
Kiprah para atlet, menurutnya, mentok di babak delapan besar. Sedangkan, sebagian besar di antaranya tumbang pada pertandingan pertama dan kedua.
Juara umum cabor pencak silat pada porprov kali ini diraih kontingen Kota Surabaya yang memborong 12 medali.
Bukan tanpa target, sejatinya Kabupaten Mojokerto membidik satu medali dari nomor perorangan.
Namun, atlet yang sudah menjuarai sejumlah kejuaraan dan beberapa kali tampil di porprov edisi sebelumnya itu tak mampu berbuat banyak.
’’Semua atlet juga sudah pernah ikut porprov dan masih kalah,’’ imbuh Kepala SMAN 3 Kota Mojokerto.
Samsul menyatakan, podium cabor yang diikuti 37 kontingen kota dan kabupaten se-Jatim tersebut ditempati oleh kontingen yang memang secara kualitas layak juara.
Mereka menjalani program latihan secara konsisten. Para atlet yang dipersiapkan untuk berbagai kejuaraan mampu tampil gemilang.
Kondisi demikian berbeda dengan iklim cabor pencak silat di Kabupaten Mojokerto. Kendati tak kurang jumlah perguruan dan pesilat yang berjibun, namun pengkab IPSI kesulitan mendapat atlet berbakat.
’’Kendalanya kami kekurangan atlet,’’ tandas pria yang juga sebagai pengawas pertandingan cabor pencak silat di porprov tersebut.
Samsul mengungkapkan, hasil minus pada ajang multi event dua tahunan ini menjadi bahan evaluasi untuk gelaran berikutnya. Kurangnya kompetisi internal membuat para atlet tak berkembang.
Di samping itu, dia menyebut, atlet pencak silat perlu mendapat pembinaan secara berjenang sejak dini.
’’Paling tidak dari SMP sampai SMA menjalani pelatihan konsisten. Kalau kita kan hanya dari SMA, sehingga hasilnya kurang maksimal,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah