Bahkan saat ini Dholi tengah melakoni gowes menggunakan minitrek menuju Ponorogo untuk menghadiri Jambore se-Nusantara, Sabtu (11/6). Sejak sore kemarin, Dholi mengawali keberangkatannya dengan start dari kantor Jawa Pos Radar Mojokerto. Pria paro baya ini nekat menempuh jarak 149 kilometer dengan sepeda mini keluaran tahun 1989 itu.
’’Lebih asyik saja kalau pakai minitrek. Sebenarnya hampir sama dengan jenis road bike, cuman kami tertantang dengan bentuk sepedanya yang kecil,’’ ujarnya. Cara ini diakui Dholi bukan semata untuk cari sensasi semata. Tapi untuk mengampanyekan lagi eksistensi sepeda mini tersebut kepada publik.
Mengingat sepeda kecil ini sempat booming di Indonesia pada tahun 80-an dan 90-an. Lalu meredup di tahun 2000-an karena munculnya bermacam variasi atau model sepeda. Namun seiring perkembangan zaman, minitrek kini kembali go public. Hal ini diakui Dholi karena penghobi sepeda ingin merasakan lagi vibe bersepeda jaman dulu.
Sehingga, sepeda jenis minitrek kini kembali diburu kolektor. ’’Booming lagi setahun terakhir. Kalau di Jawa Timur, kebanyakan penghobi lebih suka jenis minitrek atau karena faktor usianya yang lawas, ada nilai seni dan unik,’’ tandasnya. Sepeda mini, diakui Dholi tidak harus lawas. Kini, telah bermunculan sepeda kecil jenis minion.
Bentuk dan ukurannya hampir sama, yang membedakan hanya bahan bakunya yang lebih modern. Sehingga cocok digunakan untuk sekedar bersepeda santai ataupun beraktivitas sehari-hari. ’’Kalau minion, tidak bisa divariasi atau dirakit sesuai keinginan. Tapi kalau minitrek, tergantung selera pemiliknya,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah