KARHUTLA
/untuk muridku
Hutan bukan sekadar barisan pohon
ia adalah paru-paru bumi yang menyimpan doa
akar-akar yang menggenggam kehidupan
dan daun-daun yang mengeja masa depan
dengan bahasa hijau yang sederhana
Padamkan!
Api yang menjilat dahan,
Api di lidah dan pikiran
yang terlanjur membakar opini
menghanguskan nalar
Mengubah dusta menjadi hutan
tempat kebencian tumbuh tanpa akar
Berhentilah membakar!
Sebab api tak pernah bertanya
siapa yang pantas kehilangan rumah
asap tak pernah memilih
paru-paru siapa yang harus sesak
abu tak pernah mengenal
batas pikirku dan pikirmu
Jadilah hujan bagi bumi yang membara
Jadilah angin yang menuntun asap
Jadilah suara yang mematahkan propaganda
sebelum kata meniup bara
Jika hari ini, hutan telah menjadi arang
burung-burung kehilangan langitnya
tanah terbungkam abu
Dengarlah!
Apa yang terbakar tak menjadi akhir.
Abu adalah akar masa depan
Mari kita mulai lagi!
dengan tangan yang menanam
dengan mulut yang menyuarakan kebenaran
dengan pikiran yang tak mudah dibakar
dengan hati yang tahu bumi untuk di wariskan
Ceritakan!
Teduh pohon-pohon
tumbuh di atas abu masa lalu
menjadi saksi bahwa kita pernah salah
namun memilih untuk berubah.
Oktober 2026
DIALEKTIKA
/untuk seorang guru
Di hadapan murid-muridnya
seorang guru berdiri membawa buku di tangan kiri
dan sepotong kenyataan di tangan kanan
Ia tahu,
kata dapat menjelma jendela dan jeruji
kata dapat menyalakan cahaya
tetapi tafsir yang kehilangan nalar
dapat membakar rumahnya sendiri
Maka ia berkata:
“Anak-anakku, bacalah tanah dari retaknya
sungai dari keruhnya
hutan dari luka-lukanya
manusia dari jejak yang ditinggalkannya”
Sastra bukan kata-kata yang menari tanpa bumi
bukan pula mimbar suci
yang menyulap prasangka menjadi kebenaran
Dengan tangan kanannya ia menuntun
ke tanah yang luka
ke sungai yang ternoda
ke ladang yang menunggu hujan
ke wajah-wajah yang menyimpan kehilangan
Sastra bukan sekadar membaca metafora
melainkan mendengar apa yang tak terucapkan
bukan sekadar menafsirkan simbol
melainkan menguji tafsir dengan bukti
Guru itu pun menutup bukunya
Di kejauhan, asap masih mengepul
Namun di antara arang dan reruntuhan
seorang murid mulai menanam benih.
Oktober 2026
Biografi Penulis
Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto