Puisi Karhutla Karya Moh. Arif Susanto

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 20:25 WIB

 

 

Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.
Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.

 

KARHUTLA

 

/untuk muridku

 

 

Hutan bukan sekadar barisan pohon

ia adalah paru-paru bumi yang menyimpan doa

akar-akar yang menggenggam kehidupan

dan daun-daun yang mengeja masa depan

dengan bahasa hijau yang sederhana

 

Padamkan!

Api yang menjilat dahan,

Api di lidah dan pikiran

yang terlanjur membakar opini

menghanguskan nalar

Mengubah dusta menjadi hutan

tempat kebencian tumbuh tanpa akar

 

Berhentilah membakar!

Sebab api tak pernah bertanya

siapa yang pantas kehilangan rumah

asap tak pernah memilih

paru-paru siapa yang harus sesak

abu tak pernah mengenal

batas pikirku dan pikirmu

 

Jadilah hujan bagi bumi yang membara

Jadilah angin yang menuntun asap

Jadilah suara yang mematahkan propaganda

sebelum kata meniup bara

 

Jika hari ini, hutan telah menjadi arang

burung-burung kehilangan langitnya

tanah terbungkam abu

 

Dengarlah!

Apa yang terbakar tak menjadi akhir.

Abu adalah akar masa depan

Mari kita mulai lagi!

dengan tangan yang menanam

dengan mulut yang menyuarakan kebenaran

dengan pikiran yang tak mudah dibakar

dengan hati yang tahu bumi untuk di wariskan

 

 

 

Ceritakan!

Teduh pohon-pohon

tumbuh di atas abu masa lalu

menjadi saksi bahwa kita pernah salah

namun memilih untuk berubah.

 

Oktober 2026

 

 

 

DIALEKTIKA

/untuk seorang guru

 

Di hadapan murid-muridnya

seorang guru berdiri membawa buku di tangan kiri

dan sepotong kenyataan di tangan kanan

 

Ia tahu,

kata dapat menjelma jendela dan jeruji

kata dapat menyalakan cahaya

tetapi tafsir yang kehilangan nalar

dapat membakar rumahnya sendiri

 

Maka ia berkata:

“Anak-anakku, bacalah tanah dari retaknya

sungai dari keruhnya

hutan dari luka-lukanya

manusia dari jejak yang ditinggalkannya”

 

Sastra bukan kata-kata yang menari tanpa bumi

bukan pula mimbar suci

yang menyulap prasangka menjadi kebenaran

 

Dengan tangan kanannya ia menuntun

ke tanah yang luka

ke sungai yang ternoda

ke ladang yang menunggu hujan

ke wajah-wajah yang menyimpan kehilangan

 

Sastra bukan sekadar membaca metafora

melainkan mendengar apa yang tak terucapkan

bukan sekadar menafsirkan simbol

melainkan menguji tafsir dengan bukti

 

Guru itu pun menutup bukunya

Di kejauhan, asap masih mengepul

Namun di antara arang dan reruntuhan

seorang murid mulai menanam benih.

 

Oktober 2026

 

 

 

Biografi Penulis

Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
puisi radar mojokerto moh arif susanto seni puisi