Membaca Ulang G30S/PKI
/Untuk Muridku
Malam tiga puluh September
Jakarta berselimut sunyi
enam jenderal dan seorang perwira
direnggut dari hidupnya
sejarah menulis sebagai Pahlawan Revolusi
Ada pasukan yang bergerak
membawa alasan tentang kudeta
tentang menyelamatkan Presiden
tentang Dewan Revolusi yang hendak dibangun
di tengah pusaran kekuasaan
Pagi tak pernah datang
membawa jawaban yang sederhana
Di balik angka dan nama
ada manusia yang kehilangan rumah
keluarga yang kehilangan ayah
anak yang kehilangan ibu
dan mereka yang membawa luka
bahkan ketika sejarah berganti halaman
Sebuah zaman baru lahir
sementara masa lalu
tak pernah benar-benar pergi
Sejarah bukan tentang apa yang dikatakan
tetapi juga tentang apa yang dapat dibuktikan
Sejarah tak sekadar diwarisi
perlu membaca, membandingkan kesaksian
menimbang dokumen, mendengar penelitian
memisahkan fakta dari tafsir dan propaganda
Dari G30S kami membaca ulang:
Perbedaan pandangan tak seharusnya
menghapus kemanusiaan.
Hari ini, ketika berita bergerak lebih cepat
daripada kebenaran
kami memilih untuk berpikir sebelum percaya
memeriksa sebelum menyebarkan
berdialog sebelum bertikai
Kami memilih Pancasila
bukan hanya sebagai kata
demokrasi sekadar suara
HAM sekadar tulisan
Kami ingin Indonesia
yang mampu berbeda tanpa menyakiti
mengingat tanpa membenci
Sejarah bukan warisan kebencian
Sejarah adalah cermin masa lalu
Kami membaca ulang—
bukan untuk mengubah masa lalu,
melainkan agar masa depan tidak mengulangi.
Malam, 30 September 2026
Janji Sakti
Mengenang sejarah yang pernah terluka
Enam jenderal dan seorang perwira
gugur dalam pusaran peristiwa bangsa.
Satu Oktober,
kami menundukkan kepala.
Pancasila,
kesaktianmu bukan pada nama
melainkan pada kehidupan yang peduli,
menghargai, berbagi, dan bertanggung jawab.
Satu Oktober,
Janji pada negeri:
akan kami jaga persatuan
akan kami hormati perbedaan
akan kami tolak kekerasan
akan kami junjung kemanusiaan
Sebab sejarah bukan untuk diwarisi
sebagai kebencian, melainkan sebagai pelajaran.
Hari ini kami mengenang
Hari ini kami belajar
Dan mulai hari ini kami mengamalkan.
30 September 2026
Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto