Puisi-Puisi Moh. Arif Susanto

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 21:08 WIB
Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.
Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.

 

Membaca Ulang G30S/PKI

/Untuk Muridku

 

Malam tiga puluh September
Jakarta
berselimut sunyi

enam jenderal dan seorang perwira

direnggut dari hidupnya
sejarah menulis sebagai Pahlawan Revolusi

 

Ada pasukan yang bergerak
membawa alasan tentang kudeta
tentang menyelamatkan Presiden
tentang Dewan Revolusi
yang hendak dibangun
di tengah pusaran kekuasaan

 

Pagi tak pernah datang
membawa jawaban yang sederhana

 

Di balik angka dan nama
ada manusia yang kehilangan rumah
keluarga yang kehilangan ayah
anak yang kehilangan ibu
dan mereka yang membawa luka
bahkan ketika sejarah berganti halaman


Sebuah zaman baru lahir
sementara masa lalu
tak pernah benar-benar pergi


Sejarah bukan tentang apa yang dikatakan
tetapi juga tentang
apa yang dapat dibuktikan

 

Sejarah tak sekadar diwarisi

perlu membaca, membandingkan kesaksian
menimbang dokumen, mendengar penelitian
memisahkan fakta
dari tafsir dan propaganda

Dari G30S kami membaca ulang:
Perbedaan pandangan tak seharusnya
menghapus kemanusiaan.

 

Hari ini, ketika berita bergerak lebih cepat
daripada kebenaran

kami memilih untuk berpikir sebelum percaya
memeriksa sebelum menyebarkan
berdialog sebelum bertikai

 

Kami memilih Pancasila
bukan hanya sebagai kata
demokrasi sekadar suara
HAM sekadar tulisan

 

Kami ingin Indonesia
yang mampu berbeda tanpa menyakiti
mengingat tanpa membenci

 

Sejarah bukan warisan kebencian
Sejarah adalah cermin
masa lalu

Kami membaca ulang—
bukan untuk mengubah masa lalu,
melainkan agar masa depan
tidak mengulangi.

 

Malam, 30 September 2026

 

 

Janji Sakti

 

Mengenang sejarah yang pernah terluka
Enam jenderal dan seorang perwira
gugur dalam pusaran peristiwa bangsa
.

 

Satu Oktober,

kami menundukkan kepala.

 

Pancasila,
kesaktianmu bukan pada nama
melainkan pada
kehidupan yang peduli,
mengharga
i, berbagi, dan bertanggung jawab.

 

Satu Oktober,
Janji pada negeri:
akan kami jaga persatuan
akan kami hormati perbedaan
akan kami tolak kekerasan
akan kami junjung kemanusiaan

Sebab sejarah bukan untuk diwarisi
sebagai kebencian,
melainkan sebagai pelajaran.

Hari ini kami mengenang
Hari ini kami belajar
Dan mulai hari ini
kami mengamalkan.

 

30 September 2026

 

Moh. Arif Susanto praktisi pendidikan dan akademisi, aktif sebagai dosen Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
puisi moh arif susanto puisi G30S/PKI G30S PKI